11 Juta Hilang dari BPJS: Transisi Jadi Obat Penenang

- Penulis

Senin, 9 Februari 2026 - 13:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

11 Juta Peserta PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan. Foto: Ist.

11 Juta Peserta PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Kebijakan penghapusan 11 juta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan secara mendadak memicu gelombang protes di masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan memberikan waktu transisi selama tiga bulan bagi mereka yang kehilangan akses layanan kesehatan. Langkah ini diambil untuk meredam kegaduhan yang timbul akibat kurangnya sosialisasi dan proses yang dinilai kurang terukur.

Transisi Bagi 11 Juta Orang

Purbaya menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, jumlah peserta PBI akan melampaui kuota awal 96,8 juta jiwa. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi masa transisi bagi 11 juta orang yang terdampak pembersihan data. Dengan adanya waktu transisi ini, diharapkan masyarakat tidak terlalu terkejut dengan perubahan status kepesertaan mereka.

“Jadi dalam jangka pendek akan ada jumlah lebih dari yang 96,8 juta itu. Tapi setelah 3 bulan kan akan balik ke alokasi yang semula. Ini hanya untuk memberikan waktu kepada mereka ya jangan kagetlah,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senin (9/2/2026).

BACA JUGA:  Restrukturisasi Utang Whoosh Dikelola Kemenkeu, Okupansi Naik Imbas Kecelakaan Bekasi

Mantan Ketua DK LPS ini menambahkan bahwa durasi tiga bulan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan pemutakhiran data jika merasa masih berhak menerima bantuan. Selain itu, masyarakat juga memiliki opsi untuk beralih menjadi peserta mandiri.

“Tadi pertanyaannya tambah 11 juta jadi gimana? Ya bertambah 11 juta, tapi kan 3 bulan kemudian ini kan dikasih waktu. Kalau habis ya habis, kalau bisa pemutakhiran, pemutakhiran, atau kalau mau bayar, bayar sendiri. Jadi tercover betul,” ungkap Purbaya.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/kader-hmi-sabet-juara-orasi/

Purbaya tidak menampik bahwa proses yang terjadi di bulan Februari 2026 lalu kurang terukur. Penghapusan 11 juta orang dalam satu waktu tanpa sosialisasi yang matang dianggap sebagai penyebab utama kegaduhan di masyarakat.

“Jadi yang kemarin kan nggak adilnya kenapa? Karena tiba-tiba di bulan Februari ada 11 juta dalam satu bulan. Kan kaget semua karena belum ada tahapan-tahapan yang terukur waktu itu ya. Sebelum-sebelumnya kan cuma 1 juta, 2 juta, paling banyak 5 juta. Tapi ini satu bulan 11 juta kan 10 persen tiba-tiba nggak bisa dapat akses, ya pasti banyak yang… Ini yang menimbulkan kemarin mungkin banyak protes ya,” jelasnya.

BACA JUGA:  KPK Tengah Lakukan OTT di Medan

Guna mencegah kejadian serupa terulang, Purbaya memastikan bahwa ke depannya akan ada sistem pemberitahuan atau notifikasi lebih awal bagi peserta yang akan dinonaktifkan dari daftar PBI. Sistem ini diharapkan dapat memberikan waktu bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri dan mencari solusi alternatif.

“Ini diperbaiki dengan sistem tadi, nanti ke depan 3 bulan kalau dia nggak masuk ini akan diberitahu 3 bulan sebelumnya. Jadi sosialisasinya akan lebih baik,” pungkas Purbaya.

Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan solusi sementara bagi masyarakat yang terdampak, sambil menunggu pembaruan data dan penyesuaian sistem yang lebih baik. Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan BPJS Kesehatan agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh masyarakat Indonesia. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 32 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Satu Kurir Ditangkap di Jakarta Utara
Menkeu Purbaya Jelaskan Konteks Ucapan Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar, Indonesia Kuat di Tengah Gejolak Global
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy Alami Kecelakaan Dini Hari, Mobil Dinas Hancur Tabrak Bak Truk
Meutya Hafid Tegaskan: Pertukaran Data RI-AS Hanya Lingkup Ekosistem Digital, Tak Ada Data Kependudukan
Kampung Narkoba di Samarinda Beroperasi Seperti Kartel, Ada 21 Pengawas Bersenjata
KPK Panggil Muhadjir Effendy Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji, Pemeriksaan Ditunda
Hari Ini, Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer Jalani Sidang Pembacaan Tuntutan Kasus Pemerasan dan Gratifikasi
Kaesang Pangarep Tegaskan Komitmen Kawal Reynaldo Bryan Menjadi Ketua Umum HIPMI

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 17:41 WIB

Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 32 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Satu Kurir Ditangkap di Jakarta Utara

Senin, 18 Mei 2026 - 17:02 WIB

Menkeu Purbaya Jelaskan Konteks Ucapan Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar, Indonesia Kuat di Tengah Gejolak Global

Senin, 18 Mei 2026 - 14:40 WIB

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy Alami Kecelakaan Dini Hari, Mobil Dinas Hancur Tabrak Bak Truk

Senin, 18 Mei 2026 - 14:11 WIB

Meutya Hafid Tegaskan: Pertukaran Data RI-AS Hanya Lingkup Ekosistem Digital, Tak Ada Data Kependudukan

Senin, 18 Mei 2026 - 12:19 WIB

Kampung Narkoba di Samarinda Beroperasi Seperti Kartel, Ada 21 Pengawas Bersenjata

Berita Terbaru