ADA hal menarik dari situasi maraknya kelangkaan produk minyak goreng (migor) yang disusul melonjaknya harga di pasaran sejak dicabut-hapusnya bandrol harga eceran tertinggi (HET) oleh pemerintah pada 16 Maret lalu. ‘Ribut-ribut’ publik selaku konsemen barang kebutuhan pokok di negeri ini, serta merta menggugah sejumlah konsumen dari kalangan warga Batak mencetuskan wacana ‘hidup sehat (tanpa) ‘Zero migor’ dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang-orang Batak itu sejak dulu hidup sehat dan dibesarkan tanpa konsumsi minyak goreng dalam kebutuhan hidupnya sehari-hari, karena migor bukan kebutuhan penting di dapur. Ikan asin itu dibakar, bukan digoreng, ikan teri di-arsik bukan disambal, kacang di-gongseng (diaduk di belanga sampai matang, tanpa minyak atau cairan apapun), ubi diparut diisi gula merah lalu dikukus atau direbus saja atau dibakar,” ujar pakar dan praktisi Kebudayaan Batak DR Saut Raja H Sitanggang dari FGD Batakologi Jakart, via rilis WA yang disebar (posting) kepada publik di kalangan peserta FGD tersebut, Sabtu (26/3).
Tanpa memaparkan kondisi terkini dari tingkat konsumsi minyak goreng di kalangan warga Batak, khususnya terkait terjadinya situasi kelangkaan produk minyak goreng yang menimbulkan pro-kontra dan ‘ribut-ribut’ publik saat ini, Sitanggang hanya menyebutkan, kalau ada minyak goreng di rumahnya (masyarakat Batak), ya dipakai. Tapi jika tak ada, semuanya tetap baik-baik saja dan tetap bisa makan enak.