Medan-Mediadelegasi: Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memastikan akan melanjutkan proyek pembangunan jalan di wilayah Sipiongot, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang sempat tertunda pada bulan maret tahun ini. Kepastian ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat yang telah lama menantikan perbaikan infrastruktur.
Sempat Tertunda Pengerjaan Jalan Sipiongot Segera Dimulai Lagi Maret Tahun ini
Proyek strategis ini sebelumnya sempat mengalami kendala dan tertunda pada tahun lalu. Hal tersebut disebabkan oleh kasus hukum yang menjerat mantan Kepala Dinas PUPR Sumut, Topan Ginting, dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait proyek jalan tersebut.
Baca juga : https://mediadelegasi.id/skandal-proyek-jalan-sumut-topan-ginting-ungkap-fakta-di-persidangan/
“Kita targetkan pembangunan jalan di kawasan Sipiongot akan dimulai pada Maret 2026. Mudah-mudahan sudah bisa kita realisasikan segera,” kata Kepala Bidang Perencanaan Dinas PUPR Sumut, Harry Rizal Hasibuan, dalam keterangannya di Medan, Rabu (28/1).
Harry menjelaskan bahwa proyek pembangunan jalan Sipiongot telah masuk dalam daftar program strategis daerah. Pemerintah telah membagi pengerjaan ini ke dalam beberapa segmen utama untuk mengoptimalkan konektivitas antarwilayah di Sumatera Utara.
Segmen pertama mencakup pembangunan jalan dari Sipiongot hingga batas Kabupaten Labuhanbatu sepanjang 16 kilometer. Untuk pengerjaan di ruas ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 96 miliar.
Selanjutnya, pengerjaan juga akan dilakukan pada jalur Sipiongot menuju batas Kabupaten Tapanuli Selatan sepanjang 12 kilometer. Anggaran yang disiapkan untuk menghubungkan kedua wilayah ini mencapai Rp 72 miliar.
Tidak hanya itu, ruas Hutaimbaru menuju Sipiongot di wilayah Paluta juga masuk dalam daftar pengerjaan sepanjang 11,8 kilometer. Dana sebesar Rp 70,8 miliar telah disiapkan agar akses transportasi di jantung wilayah ini menjadi lebih layak.
Realisasi pembangunan jalan di kawasan Sipiongot ini sangat emosional bagi warga sekitar karena sudah dinantikan selama berpuluh-puluh tahun. Selama ini, akses utama masyarakat mengalami rusak berat, menjadi kubangan lumpur saat hujan, dan sangat sulit dilalui kendaraan motor maupun mobil.
Harry menggambarkan betapa tertinggalnya infrastruktur di wilayah tersebut pada masa lalu. Bahkan, pada medio tahun 1980-an hingga 1990-an, transportasi di kawasan Sipiongot masih sangat primitif dan harus mengandalkan tenaga hewan seperti kuda.
Pembangunan ini diharapkan membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat yang selama ini merasa tidak tersentuh pembangunan. Selain meningkatkan konektivitas antara Paluta, Tapsel, dan Labuhanbatu, proyek ini bertujuan membuka isolasi ekonomi warga yang terhambat akibat jalan rusak.
“Kawasan ini sudah puluhan tahun tidak tersentuh pembangunan yang memadai. Dengan adanya jalan baru, akses perekonomian warga yang sempat terisolir akan kembali lancar dan kerusakan jalan yang berlangsung lama dapat teratasi,” tambah Harry.
Pihak Dinas PUPR Sumut menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution, pemerataan pembangunan menjadi prioritas utama. Proyek Sipiongot ini dipandang sebagai bukti nyata upaya pemerintah untuk membangun wilayah yang selama ini dianggap terpencil dan tertinggal di Sumatera Utara.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






