Medan-Mediadelegasi: Setelah berjuang panjang, pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi akhirnya mendapatkan salinan ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang dilegalisir tanpa ada elemen yang ditutupi. Dokumen ini diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, dan Bonatua berjanji akan segera mengunggahnya ke media sosial (medsos).
“Nah, untuk itu ya sebagai orang yang punya tanggung jawab moral, saya memutuskan membagikan ini (dokumen ijazah Jokowi) di media sosial saya. Ya, bisa dicek di media sosial saya,” kata Bonatua di kantor KPU RI kepada wartawan, Senin (9/2/2026).
Imbauan Bonatua
Keputusan Bonatua untuk mempublikasikan ijazah Jokowi ini didasari oleh keinginan untuk membuka ruang diskusi publik yang sehat dan berbasis data. Ia berharap, masyarakat dapat menggunakan dokumen ini sebagai bahan penelitian dan analisis yang objektif.
“Artinya kalau kalian mau meneliti jangan pakai teliti yang dibikin orang lain,” katanya.
Bonatua menyarankan publik untuk menggunakan salinan ijazah Jokowi yang ia unggah, sebab dokumen tersebut berasal dari institusi resmi dan terjamin keasliannya. Ia khawatir, jika menggunakan dokumen yang belum jelas asal usulnya, ada elemen yang tertera di ijazah tersebut telah diubah atau dipalsukan.
“Takut saya nanti karena ada kebencian tiba-tiba foto dirubah jadi apa gitu kan, tanda tangan dirubah jadi apa sehingga kawan-kawan terjebak pada fitnah karena meneliti sampel yang tidak sekunder. Ini kan sekunder ya seperti itu,” sambungnya.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/sumpah-jabatan-thomas-djiwandono-janji-jaga-bi-bersih/
Ia berjanji akan mengunggah salinan ijazah Jokowi yang baru diterima malam nanti. Dirinya pun mengajak masyarakat untuk menjadikan persoalan tersebut sebagai diskursus publik yang sehat dengan pendekatan ilmiah. Ia berharap, polemik ijazah Jokowi dapat diselesaikan secara rasional dan konstruktif.
“Jadi nanti silakan nanti nanti malam saya akan upload ini. Nah, mari kita berdiskusi seluruh Indonesia kita jadikan ini diskursus publik semua kita dari sini mari berbicara dengan gaya peneliti tapi jangan sembarangan tuduh seperti itu,” sambungnya.






