Bitung-Mediadelegasi: Gempa Bitung M7.6 pada Kamis (2/4/2026) pagi dan sempat memicu gelombang tsunami di sejumlah wilayah pesisir. Meski demikian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan peringatan dini tsunami yang sebelumnya dikeluarkan telah resmi dicabut setelah kondisi dinyatakan aman.
Gempa Bitung M7.6 Picu Gelombang Tsunami di Sejumlah Wilayah
Gempa kuat tersebut terjadi pada pukul 05.58 WIB dan berpusat di laut sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 33 kilometer. Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah di kawasan timur Indonesia.
Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menyampaikan bahwa peringatan dini tsunami telah berakhir setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut mulai stabil.
“Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa magnitudo 7,6 pada 2 April 2026 pukul 05.48 WIB dinyatakan telah berakhir,” ujar Rahmat dalam keterangan resminya.
Tsunami Terpantau di Sembilan Wilayah
BMKG mencatat gelombang tsunami terdeteksi di sembilan titik pengamatan melalui alat tide gauge. Ketinggian gelombang bervariasi dengan yang tertinggi mencapai 0,75 meter di wilayah Minahasa Utara.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/kalamitas-bahari-tsunami-bitung-ancam-sembilan-wilayah/
Selain itu, gelombang juga terpantau di beberapa wilayah lain seperti Belang (0,68 meter), Sidangoli (0,35 meter), serta Halmahera Barat yang mencatat tinggi gelombang sekitar 0,30 meter.
Sementara itu, wilayah lain yang terdeteksi mengalami kenaikan muka air laut adalah Sitaro, Bitung, Gita, Bumbulan, dan Kedi dengan ketinggian antara 0,13 hingga 0,24 meter.
Gempa Dipicu Deformasi Kerak Bumi
BMKG menjelaskan bahwa gempa yang terjadi tergolong gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi di dasar laut. Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki pola pergerakan naik atau thrust fault.
Jenis patahan ini diketahui dapat memicu pergerakan dasar laut secara vertikal yang berpotensi menimbulkan gelombang tsunami, terutama jika terjadi di wilayah laut dengan energi gempa yang besar.
Kerusakan Dilaporkan di Ternate
Dampak gempa juga dirasakan hingga wilayah Ternate. Laporan awal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebutkan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan, khususnya di Kecamatan Pulau Batang Dua.
Salah satu bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan adalah Gereja Kalvari yang berada di Kelurahan Lelewi. Selain itu, beberapa rumah warga juga mengalami kerusakan akibat guncangan kuat.
Warga setempat sempat mengungsi ke wilayah perbukitan setelah melihat fenomena air laut surut yang memicu kekhawatiran akan datangnya tsunami.
Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama tim BPBD masih melakukan pendataan terkait dampak kerusakan serta memastikan kondisi masyarakat di wilayah terdampak tetap aman. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






