Pergantian Pimpinan BPODT Jadi Momentum Koreksi Arah Pengelolaan Danau Toba

Kamis, 16 April 2026 - 16:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Foto: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Medan-Mediadelegasi: Pergantian pimpinan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) yang akan segera berlangsung menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah pengelolaan kawasan Danau Toba. Sebagai kawasan strategis nasional sekaligus UNESCO Global Geopark, Danau Toba dituntut untuk konsisten pada prinsip geowisata berbasis konservasi, edukasi, dan keberlanjutan sebagaimana telah disepakati sejak 2013. Momentum ini sekaligus menjadi ujian apakah tata kelola ke depan mampu kembali berpijak pada kerangka geopark secara utuh, atau tetap bergerak dalam bias pariwisata massal.

Danau Toba bukan sekadar destinasi wisata, tetapi kawasan dengan nilai geologi, ekologi, dan budaya yang unik pada skala global. Status sebagai UNESCO Global Geopark menempatkan Danau Toba sebagai living system yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, konservasi, dan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Dalam kerangka ini, pariwisata bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, geowisata merupakan instrumen utama geopark. Geowisata bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan geologi, ekologi, dan budaya dalam satu kesatuan ruang yang utuh. Ia menjadikan wisata sebagai media pembelajaran ilmiah sekaligus sarana pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi lokal. Karena itu, sejak awal Danau Toba secara konseptual bukan dirancang sebagai destinasi wisata massal, melainkan sebagai kawasan geowisata berbasis geopark dunia.

Sejak 2013, telah terdapat kesepakatan formal antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan tujuh pemerintah kabupaten di kawasan Danau Toba yang menegaskan arah pembangunan berbasis geopark dan geowisata. Kesepakatan tersebut menempatkan konservasi sebagai fondasi utama pembangunan. Artinya, setiap bentuk pengembangan kawasan harus tunduk pada daya dukung lingkungan dan prinsip keberlanjutan, bukan sebaliknya.

BACA JUGA:  Terima Permohonan Maaf Hamdani, Aktivis Hukum Sebut Erni Ariyanti Dinilai Tunjukkan Jiwa Besar dan Kedewasaan

Namun dalam implementasinya, terjadi pergeseran orientasi yang signifikan. Arah pembangunan cenderung bergeser dari geowisata menuju mass tourism, dengan penekanan pada jumlah kunjungan wisatawan, ekspansi infrastruktur pariwisata, dan percepatan investasi jangka pendek. Pergeseran ini membawa konsekuensi serius terhadap keseimbangan ekologis kawasan.

Danau Toba sebagai ekosistem tertutup memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Kerusakan di wilayah hulu, seperti deforestasi dan degradasi daerah tangkapan air, berdampak langsung pada keberlanjutan danau. Demikian pula tekanan di wilayah hilir, seperti limbah domestik, aktivitas keramba jaring apung, serta beban pariwisata yang tidak terkendali, mempercepat penurunan kualitas lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, ketidaksesuaian antara arah pembangunan dan daya dukung ekologis menjadi risiko utama.

Persoalan mendasar tidak hanya terletak pada aspek teknis pembangunan, tetapi juga pada tata kelola kelembagaan. Dalam kerangka UNESCO Global Geopark, Toba Caldera UNESCO Global Geopark (TCUGGp) merupakan rujukan utama yang berfungsi sebagai penentu kerangka ilmiah, batas ekologis, serta integrasi geologi, ekologi, dan budaya. Sementara BPODT seharusnya berfungsi sebagai pelaksana teknis yang menerjemahkan prinsip geopark ke dalam program pembangunan destinasi.

Namun dalam praktik yang terjadi selama ini, terdapat kecenderungan pembalikan orientasi. Dinamika pengembangan kawasan lebih banyak dipengaruhi oleh logika proyek, kapasitas fiskal, dan percepatan investasi pariwisata, sementara fungsi geopark sebagai kompas ilmiah belum sepenuhnya menjadi acuan operasional utama. Ketidakseimbangan ini berpotensi menimbulkan deviasi antara desain kebijakan awal dan implementasi di lapangan.

BACA JUGA:  Pemkab Simalungun Bongkar Keramba Ikan di Perairan Danau Toba Tigaras

Karena itu, koreksi kelembagaan menjadi penting. Relasi BPODT dan TCUGGp perlu ditegaskan kembali secara proporsional. TCUGGp harus diperkuat sebagai rujukan utama dalam menentukan arah, batas daya dukung, serta integrasi sistem geologi–ekologi–budaya kawasan. Sementara BPODT harus berfungsi secara konsisten sebagai pelaksana kebijakan dalam kerangka geopark, bukan sebagai penentu arah yang berdiri sendiri.

Dalam konteks pergantian pimpinan BPODT, hal ini menjadi sangat relevan. Kepemimpinan ke depan tidak cukup hanya berbasis kemampuan manajerial dan pengalaman di sektor pariwisata, tetapi harus memiliki pemahaman utuh terhadap geopark sebagai sistem pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan keberlanjutan.

Pemimpin BPODT ke depan harus memenuhi beberapa prasyarat substantif. Pertama, memahami secara komprehensif konsep UNESCO Global Geopark dan implikasinya terhadap tata ruang dan pembangunan kawasan. Kedua, mampu mengintegrasikan berbagai sektor secara terpadu dalam satu sistem kawasan, termasuk lingkungan, kehutanan, pariwisata, infrastruktur, dan pemerintah daerah. Ketiga, memiliki komitmen kuat terhadap konservasi sebagai fondasi pembangunan. Keempat, berpihak pada masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengembangan geowisata. Kelima, memiliki keberanian untuk mengoreksi arah pembangunan yang tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI) selaku Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PP_DT). D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bobby Nasution Lantik Tiga Pejabat Eselon II Pemprov Sumut
Pemprov Sumut Perkuat PUSPAGA Hadapi Tren Childfree Gen Z
Bobby Nasution dan 33 Kepala Daerah Teken Komitmen Antikorupsi
Polda Sumut Diminta Bongkar Penadah Emas Ilegal di Madina
Hari Perhubungan Nasional 2026, Wagub Sumut Tekankan Transportasi Terintegrasi
Wagub Surya: Aset Sumut Harus Clear and Clean Jadi Mesin Penggerak PAD dan Ekonomi Daerah
Wagub Surya Saksikan SKB RBI: Perlindungan Perempuan dan Anak Wajib Masuk Program Kerja 2027
Jalan Longsor Pamah Semelir Langkat Diperbaiki Oktober 2026, Gubernur Bobby Pastikan Air Bersih Segera Mengalir
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 16:41 WIB

Bobby Nasution Lantik Tiga Pejabat Eselon II Pemprov Sumut

Jumat, 18 September 2026 - 16:27 WIB

Pemprov Sumut Perkuat PUSPAGA Hadapi Tren Childfree Gen Z

Jumat, 18 September 2026 - 16:02 WIB

Bobby Nasution dan 33 Kepala Daerah Teken Komitmen Antikorupsi

Jumat, 18 September 2026 - 11:26 WIB

Polda Sumut Diminta Bongkar Penadah Emas Ilegal di Madina

Kamis, 17 September 2026 - 17:24 WIB

Hari Perhubungan Nasional 2026, Wagub Sumut Tekankan Transportasi Terintegrasi

Berita Terbaru

Kota Medan

CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN

Sabtu, 19 Sep 2026 - 19:11 WIB

KPK Dalami Dugaan Aliran Uang dalam Kasus HGB. Foto: Ist.

Nasional

KPK Temukan Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Bogor

Sabtu, 19 Sep 2026 - 13:54 WIB