Teheran-Mediadelegasi: Di tengah tensi tinggi dan kepungan armada militer Amerika Serikat, dua kapal supertanker berbendera Iran dilaporkan berhasil meloloskan diri dari adangan di Selat Hormuz. Keberhasilan ini menjadi tamparan bagi kebijakan blokade total yang baru saja diumumkan oleh pemerintahan Donald Trump terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Republik Islam tersebut.
Kapal supertanker bernama Hero II dan Hedy terdeteksi melalui citra satelit saat melakukan manuver lincah guna menghindari kapal-kapal perang AS yang berpatroli ketat. Keduanya dilaporkan membawa muatan masif, yakni sekitar 4 juta barel minyak mentah yang ditujukan untuk negara pemesan di pasar internasional.
Berdasarkan data yang dirilis oleh perusahaan analisis data maritim, Vortexa, kedua kapal supertanker tersebut tertangkap kamera satelit saat melewati garis blokade AS. Mereka berhasil memasuki perairan Laut Arab pada Senin (21/4/2026), menandakan adanya celah dalam pengawasan ketat yang dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peta Strategis Selat Hormuz
Operasi senyap ini dilakukan dengan teknik navigasi “gelap”, di mana kedua kapal tersebut mematikan transponder Automatic Identification System (AIS) mereka untuk menghindari deteksi radar militer. Langkah ini terbukti efektif dalam menyamarkan posisi mereka selama melewati titik-titik krusial yang dijaga oleh kapal perusak AS.
Data pelacakan menunjukkan bahwa Hero II terakhir kali mengaktifkan transpondernya lebih dari sebulan lalu saat berada di utara Selat Malaka. Sementara itu, kapal Hedy memberikan sinyal lokasi terakhirnya di lepas pantai Khor Fakkan pada akhir Februari sebelum akhirnya menghilang dari radar publik dan muncul kembali di Laut Arab.
Keberhasilan ini mempertegas bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengekspor komoditas energinya meski berada di bawah tekanan militer yang ekstrem. Setidaknya tercatat ada 34 kapal tanker dan pengangkut gas terkait Iran yang tetap nekat melintasi Selat Hormuz dalam periode ketegangan ini.
Dari puluhan kapal tersebut, 19 di antaranya dilaporkan telah keluar dari Teluk Persia dengan membawa kargo penuh. Hal ini menunjukkan bahwa aliran minyak dari Teheran belum sepenuhnya lumpuh, meskipun risiko penyitaan dan serangan fisik oleh militer AS meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Meskipun tujuan akhir dari Hero II dan Hedy belum terkonfirmasi secara resmi, para analis meyakini bahwa kargo tersebut akan mengarah ke China atau India. Kedua negara ini tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Iran, bahkan India dilaporkan telah menerima dua kiriman sebelum sanksi terbaru benar-benar mengikat.
Ketegangan di perairan internasional ini memuncak setelah Presiden Donald Trump pekan lalu secara resmi memerintahkan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran. Langkah agresif ini bertujuan untuk memutus urat nadi ekonomi Teheran guna memaksa mereka kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih berat.
Blokade AS sendiri bukannya tanpa aksi kekerasan. Pada akhir pekan lalu, sebuah kapal kargo Iran bernama Touska dilaporkan telah disita oleh pasukan AS setelah sempat terjadi insiden penembakan. Penyitaan ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka di jalur pelayaran dunia tersebut.
Selain di Selat Hormuz, militer AS juga memperluas jangkauan operasinya hingga ke Samudera Hindia. Dilaporkan bahwa mereka melakukan penggeledahan terhadap sebuah kapal tanker yang dijatuhi sanksi di perairan timur Sri Lanka, menunjukkan skala operasi global untuk mengisolasi perdagangan minyak Iran.
Hingga saat ini, pihak Teheran belum memberikan pernyataan resmi terkait pelarian sukses dua kapal tanker mereka. Namun, keberhasilan Hero II dan Hedy memberikan pesan kuat bahwa strategi “tekanan maksimum” yang dijalankan Washington masih menghadapi perlawanan teknis dan taktis yang signifikan di lapangan. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












