Berlin-Mediadelegasi: Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, secara tegas mendesak Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program senjata nuklirnya. Permintaan keras ini disampaikannya langsung dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
“Saya menekankan bahwa Jerman mendukung solusi yang dicapai melalui negosiasi,” tulis Wadephul dalam unggahannya di media sosial X, Rabu (3/5) waktu setempat.
Lebih lanjut, Wadephul menegaskan posisi negaranya yang selaras dengan Amerika Serikat. “Sebagai sekutu dekat AS, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi melepaskan senjata nuklir serta segera membuka Selat Hormuz,” ujarnya, sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Senin (4/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Permintaan ini sejalan dengan tuntutan yang juga disuarakan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Hal ini menunjukkan adanya kesepahaman dan kesatuan sikap antara kedua sekutu tersebut terhadap perilaku Teheran.
Namun di sisi lain, hubungan antara Berlin dan Washington saat ini sedang berada dalam titik yang cukup memanas. Dalam beberapa hari terakhir, Wadephul dan pejabat Jerman lainnya berusaha keras meredakan ketegangan yang muncul antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Ketegangan ini bermula ketika Merz pada 27 April lalu menyebut bahwa Iran telah “mempermalukan” Washington di meja perundingan. Komentar tersebut memicu reaksi keras dan kemarahan dari pihak Amerika Serikat.
Sebagai bentuk tanggapan, AS mengumumkan akan memindahkan sekitar 5.000 personel militernya yang selama ini ditempatkan di pangkalan-pangkalan di Jerman. Langkah ini dianggap sebagai sinyal ketidakpuasan yang serius terhadap sekutunya sendiri.
Tidak hanya itu, Trump juga mengumumkan kenaikan tarif bea masuk untuk mobil dan truk yang berasal dari Uni Eropa. Tarif yang sebelumnya sebesar 15 persen akan dinaikkan menjadi 25 persen dalam waktu beberapa hari ke depan.
Trump menuduh bahwa seluruh blok Uni Eropa gagal mematuhi kesepakatan perdagangan yang ditandatangani pada musim panas lalu, meskipun perjanjian tersebut masih dalam proses pengesahan legislatif di negara-negara anggota.
Kebijakan tarif baru ini diprediksi akan memberikan dampak yang sangat berat bagi industri otomotif Jerman yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Sementara itu, upaya untuk mengakhiri konflik antara blok AS-Israel dengan Iran tampaknya belum menunjukkan kemajuan signifikan sejak gencatan senjata diberlakukan awal April. Justru kekhawatiran akan terjadinya eskalasi kembali semakin meningkat.
Trump sendiri menyatakan akan meninjau usulan damai baru dari Iran, namun ia meragukan rencana tersebut bisa diterima. Menurutnya, Iran “belum membayar harga yang cukup mahal”. Sementara itu, Garda Revolusi Iran memberikan sinyal keras bahwa AS hanya memiliki dua pilihan: menghadapi operasi militer yang mustahil dimenangkan atau menerima kesepakatan yang tidak menguntungkan bagi mereka. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












