Jakarta-Mediadelegasi: Situasi kesehatan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci kembali menjadi perhatian serius. Pada hari ke 17 operasional haji, Rabu (6/5/2026), dilaporkan sebanyak 12 jemaah meninggal dunia.
Mayoritas dari mereka meninggal akibat gangguan kesehatan serius, terutama penyumbatan pembuluh darah ke jantung serta infeksi radang paru-paru akut. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan fisik yang ekstrem selama menjalankan rangkaian ibadah.
Hingga saat ini, total jemaah haji Indonesia yang sudah tiba di Arab Saudi mencapai angka 100.125 orang. Di samping korban meninggal, terdapat 72 jemaah lainnya yang masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat karena kondisinya yang belum stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tingginya intensitas pelayanan kesehatan juga terlihat dari jumlah jemaah yang menjalani rawat jalan. Tercatat sebanyak 14.919 jemaah telah mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga menangani 153 jemaah untuk observasi lanjutan sebelum dikembalikan ke kelompok terbang (kloter).
“Penyebab wafat yang paling banyak adalah penyumbatan pembuluh darah ke jantung serta radang paru-paru, semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah,” ujar Juru Bicara Kementerian Haji, Ichsan Marsha, Jumat (8/5/2026).
Dua nama terakhir yang dikonfirmasi meninggal dunia adalah Akhmad Nurokhman Zaini dari kloter SOC 08 dan Aman Satim dari kloter JKB 05. Pemerintah menyampaikan dukacita mendalam dan memastikan seluruh hak serta proses pemakaman jemaah dikawal hingga tuntas.
Di tengah tantangan kesehatan tersebut, pemerintah mulai mengubah strategi untuk gelombang kedua kedatangan jemaah. Jika sebelumnya penerbangan diarahkan terlebih dahulu ke Madinah, kini jemaah akan langsung mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, sebelum menuju Makkah.
Penerbangan perdana fase ini dilakukan oleh kloter LOP-12 asal Lombok yang membawa 389 jemaah. Pergeseran rute ini menjadi awal mobilisasi besar yang langsung memusatkan jemaah ke Kota Suci.
Namun, kedatangan langsung melalui jalur Jeddah memiliki tantangan tersendiri. Jemaah dituntut untuk segera menunaikan umrah wajib setibanya di hotel tanpa memiliki waktu istirahat yang panjang. Oleh karena itu, kesiapan fisik dan mental menjadi sangat krusial.
Untuk mengurangi beban dan kelelahan saat tiba, pemerintah mengeluarkan instruksi khusus. Jemaah gelombang kedua diwajibkan atau diminta untuk sudah mengenakan pakaian ihram sejak masih berada di embarkasi di Indonesia.
“Kami mengingatkan kepada jemaah haji gelombang kedua agar mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian ihram sejak dari embarkasi haji,” tegas Ichsan.
Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan aktivitas fisik saat mendarat di Arab Saudi, sehingga jemaah bisa lebih tenang dan fokus langsung menuju tempat ibadah serta hotel penginapan dengan kondisi yang lebih prima. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












