​Melihat Kebaikan di Tengah Kekurangan

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wilmar Eliaser Simandjorang
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Wilmar Eliaser Simandjorang Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Medan-Mediadelegasi: ​Bayangkan sebuah kertas putih bersih dibentangkan di depan banyak orang. Di tengah kertas itu hanya ada satu titik hitam kecil. Lalu setiap peserta ditanya, “Apa yang Anda lihat?”

​Hampir semua orang akan menjawab, “Ada titik hitam di tengah.”

​Jawaban itu sebenarnya menggambarkan cara pandang manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang lebih cepat melihat satu noda kecil dibanding melihat luasnya bagian putih yang bersih. Mata kita sering fokus pada kekurangan, kesalahan, dan kelemahan, tetapi luput menghargai banyak kebaikan yang sebenarnya jauh lebih besar.

​Di sinilah pelajaran pentingnya: “Mata jangan hanya fokus melihat titik yang hitam, tetapi hati harus mampu melihat luasnya yang putih.”

​Kalimat ini mengajarkan bahwa penglihatan manusia sering berhenti pada apa yang tampak buruk, sedangkan hati yang bijaksana akan melihat keseluruhan nilai dari seseorang atau suatu keadaan.

​Ilustrasi sederhana ini menjadi cermin kehidupan sosial, keluarga, komunitas, bahkan dunia digital saat ini.

​Sering kali seseorang telah melakukan banyak hal baik, tetapi karena satu kesalahan kecil, seluruh kebaikannya seolah hilang dari perhatian orang lain. Dalam keluarga, seseorang mungkin telah berkorban bertahun-tahun, tetapi satu ucapan yang salah membuat ia langsung dinilai buruk. Dalam komunitas, seseorang bisa aktif membantu banyak orang, tetapi ketika melakukan kekeliruan kecil, yang dibicarakan justru titik kesalahannya.

BACA JUGA:  Dua Anak Tewas Terseret Arus Sungai Deli

​Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih mudah mengingat luka daripada kebaikan, lebih cepat mengkritik daripada menghargai, dan lebih tertarik pada kekurangan daripada kelebihan.

​Padahal, jika kita mau melihat lebih luas seperti melihat keseluruhan kertas putih tadi, kita akan menyadari bahwa hidup seseorang tidak hanya terdiri dari satu titik hitam. Setiap manusia memiliki sisi baik, perjuangan, ketulusan, dan nilai yang sering kali tidak terlihat karena perhatian kita terlalu sempit.

​Dalam kehidupan sehari-hari, cara pandang seperti ini perlu diperbaiki. Pendidikan karakter bukan hanya tentang kecerdasan berpikir, tetapi juga tentang melatih hati agar mampu melihat kebaikan lebih besar daripada kesalahan kecil. Bukan berarti kita menutup mata terhadap kekurangan, tetapi kita belajar menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

BACA JUGA:  Ya’kub Matondang Mantan Rektor UINSU Meninggal Dunia

​Orang yang bijaksana bukanlah orang yang tidak bisa melihat kesalahan, melainkan orang yang tetap mampu melihat harapan, potensi, dan kebaikan di balik kekurangan manusia.

​Jika dalam hidup kita hanya fokus pada “titik hitam”, maka hati akan mudah dipenuhi prasangka, kecewa, iri, dan kemarahan. Namun jika kita belajar melihat “bentangan putih”, kita akan lebih mudah bersyukur, menghargai sesama, membangun hubungan yang sehat, dan menciptakan lingkungan yang penuh pengertian.

​Karena itu, sebelum menilai orang lain, cobalah bertanya pada diri sendiri:

​”Apakah saya hanya sedang melihat titik hitamnya, atau saya juga melihat luasnya kertas putih dalam hidupnya?”

​Pada akhirnya, kehidupan akan terasa lebih damai ketika mata tidak hanya tajam melihat kesalahan, tetapi hati juga lembut untuk melihat kebaikan.

 

 

Oleh : Wilmar Eliaser Simandjorang
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut
USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB
Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta
DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta
CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN
Namanya Dicatut Irhamsadani Rambe dalam Isu Seleksi KPID, KAMMI Sumut: Ketua yang Sah Hanya Hasan Basri!
BEM UMN Al-Washliyah Tagih Tindak Lanjut Bea Cukai soal Dugaan Monza Ilegal
Gelar Muswil ke III, Syamsuri Terpilih Jadi Ketua IKA UT Medan Periode 2026-2031
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut

Senin, 28 September 2026 - 17:16 WIB

USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB

Jumat, 25 September 2026 - 17:31 WIB

Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta

Rabu, 23 September 2026 - 16:45 WIB

DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta

Sabtu, 19 September 2026 - 19:11 WIB

CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN

Berita Terbaru