Kupang-Mediadelegasi: Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat dan mengalami erupsi pada Kamis (4/6/2026) siang. Peristiwa ini kembali mengingatkan warga sekitar akan potensi bahaya yang mengintai, sekaligus memicu kewaspadaan penuh dari pihak berwenang maupun masyarakat luas.
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), peristiwa erupsi tercatat terjadi tepat pada pukul 12.31 WITA. Meskipun aktivitas pelepasan material vulkanik terdeteksi jelas, tinggi kolom abu dan asap yang dimuntahkan ke udara tidak dapat diamati secara visual oleh petugas pengamat. Hal ini disebabkan kondisi cuaca yang sedang mendung dan tebalnya tutupan awan yang menyelimuti bagian puncak gunung, sehingga menghalangi pandangan mata.
Herman Yosef S Mboro, petugas dari Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, menjelaskan bahwa meskipun tidak terlihat, keberadaan letusan tercatat dengan sangat rinci melalui peralatan pemantauan seismograf yang terpasang di lokasi. Alat pencatat getaran tanah itu menangkap sinyal kuat yang menjadi indikasi utama terjadinya pelepasan energi dari dalam perut bumi.
Data teknis yang tercatat menunjukkan bahwa letusan tersebut memiliki amplitudo maksimum mencapai 7,4 milimeter. Angka amplitudo ini menjadi indikasi seberapa besar kekuatan getaran yang terjadi saat material magma dan gas didorong ke permukaan. Selain itu, durasi letusan pun terbilang cukup panjang, berlangsung selama 131 detik atau lebih dari dua menit, menandakan pelepasan tekanan yang cukup signifikan.
“Terjadi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada hari Kamis, 04 Juni 2026, pukul 12:31 WITA. Tinggi erupsi tidak teramati karena tertutup awan,” demikian isi laporan tertulis yang disampaikan Herman, dikutip dari keterangan resmi PVMBG. Laporan ini langsung disebarluaskan sebagai peringatan dini agar informasi sampai cepat ke seluruh lapisan masyarakat.
Merespons kejadian ini, PVMBG kembali menegaskan peringatan bahaya yang berlaku di kawasan gunung berapi tersebut. Pihaknya secara tegas mengimbau seluruh masyarakat yang bermukim di sekitar kaki gunung maupun pengunjung yang hendak berwisata untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dihitung dari kawah atau pusat erupsi. Batas jarak ini ditetapkan berdasarkan kajian risiko bahaya jatuhnya material piroklastik dan lontaran batu panas.
Wilayah dalam radius tersebut dinilai menjadi zona paling berisiko dan berbahaya jika terjadi letusan yang lebih besar maupun pergerakan awan panas. Oleh karena itu, larangan beraktivitas, mendaki, maupun memasuki kawasan tersebut berlaku mutlak demi keselamatan nyawa. PVMBG menekankan bahwa aturan ini harus dipatuhi dengan ketat tanpa ada pengecualian.
Selain pembatasan wilayah, PVMBG juga meminta masyarakat untuk senantiasa menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki diketahui bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk harus selalu dijaga. Warga diimbau untuk memantau terus perkembangan informasi terbaru yang disampaikan secara berkala.
Pihak berwenang juga mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan tidak bertindak panik berlebihan. Ketenangan pikiran sangat diperlukan agar warga dapat mengikuti setiap arahan, petunjuk teknis, maupun instruksi evakuasi yang mungkin dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan instansi penanggulangan bencana terkait jika situasi semakin memburuk.
Dalam upaya menjaga ketertiban dan mencegah kepanikan massal, PVMBG mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap berita-berita yang beredar. Warga diminta untuk tidak mudah mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas, berita bohong, atau kabar simpang siur yang sering kali memicu kekhawatiran tidak berdasar. Seluruh warga diharapkan hanya merujuk pada data dan keterangan resmi yang dikeluarkan pemerintah.
Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri merupakan salah satu gunung berapi aktif yang paling dipantau di wilayah Nusa Tenggara Timur. Sejarah pencatatan kegunungapian mencatat gunung ini kerap mengalami siklus aktivitas yang cukup intensif, dengan rentang waktu letusan yang bervariasi, mulai dari letusan kecil hingga letusan besar berpotensi merusak.
Kini, tim pemantau dan petugas kebencanaan terus bersiaga penuh di pos pengamatan. Mereka terus memantau perubahan kondisi visual, seismik, maupun geokimia setiap saat, guna memastikan setiap perubahan kecil dapat segera terdeteksi dan dilaporkan ke atas, demi melindungi ribuan warga yang tinggal tersebar di wilayah Kabupaten Flores Timur dan sekitarnya. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







