Kemenangan Telak Roy Suryo: Tamparan Keras buat Polda Metro Jaya, Rezim Hukum Mulai Goyang?

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ekspresi Roy Suryo, Refly Harun, dan Dokter Tifa di hadapan media massa setelah memenangkan gugatan praperadilan melawan Polda Metro Jaya di PN Jaksel. Putusan ini menjadi tamparan keras bagi prosedur hukum aparat penegak hukum yang dinilai dipaksakan. Foto: Ist.

Ekspresi Roy Suryo, Refly Harun, dan Dokter Tifa di hadapan media massa setelah memenangkan gugatan praperadilan melawan Polda Metro Jaya di PN Jaksel. Putusan ini menjadi tamparan keras bagi prosedur hukum aparat penegak hukum yang dinilai dipaksakan. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mendadak bergemuruh. Hakim tunggal I Ketut Darpawan resmi mengetok palu yang isinya mengejutkan banyak pihak: mengabulkan sebagian gugatan praperadilan mantan Menpora, Roy Suryo, pada Selasa (7/7/2026). Putusan ini bagaikan petir di siang bolong bagi aparat penegak hukum.

Dalam amar putusannya, hakim dengan tegas menyatakan bahwa seluruh rangkaian proses mulai dari penggeledahan, penangkapan, hingga penahanan yang dilakukan oleh penyidik Polda Metro Jaya terhadap Roy Suryo adalah tidak sah dan melanggar hukum.

Langkah ugal-ugalan aparat dalam memberangus kritik kini terbukti blunder besar. Kasus yang menyeret Roy Suryo terkait tuduhan fitnah ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), dinilai publik kental dengan aroma kriminalisasi demi membungkam suara-suara vokal.

Gugatan dengan nomor perkara 99/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL ini sukses memojokkan institusi Polri dan Kejaksaan. Institusi besar sekelas Polda Metro Jaya hingga Kejaksaan Agung dibuat tak berkutik oleh argumen hukum tim Roy Suryo di meja hijau.

BACA JUGA:  Bersitegang di Semanggi, BEM UI Tetap Bersikeras Aksi di Bundaran HI Meski Dilarang Polisi

Keberanian hakim I Ketut Darpawan ini langsung disambut histeris oleh puluhan pendukung yang memadati PN Jakarta Selatan. Mereka menilai putusan ini adalah kemenangan rakyat melawan kesewenang-wenangan penguasa yang menggunakan instrumen hukum secara selektif.

Ironisnya, sebelum putusan ini keluar, Roy Suryo dan rekannya, Dokter Tifa (Tifauzia Tyassuma), sempat ditangkap secara paksa pada Jumat (19/6/2026). Penangkapan dramatis itu bahkan sempat membuat kondisi kesehatan keduanya drop hingga harus dilarikan ke RS Polri.

Penahanan mereka sempat ditangguhkan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dengan dalih adanya jaminan keluarga. Namun, publik kini tahu bahwa alasan sebenarnya diduga karena aparat ketakutan dan terdesak oleh lemahnya bukti-bukti hukum yang mereka miliki sejak awal.

Kepala Kejari Jakarta Selatan, Marcelo Bellah, sebelumnya mencoba membela diri dengan menyatakan penangguhan dilakukan karena faktor kooperatif. Nyatanya, putusan praperadilan hari ini membongkar borok sejati: prosedur mereka memang cacat hukum sejak awal!

BACA JUGA:  Ijazah Palsu: Berkas Jokowi Dilimpahkan

Kemenangan hukum Roy Suryo ini menjadi preseden buruk bagi masa depan penegakan hukum di Indonesia jika aparat tetap memelihara ego sektoral. Ini adalah bukti nyata bahwa hukum tidak boleh dijadikan alat pemukul bagi pihak-pihak yang kritis.

Publik kini menuntut pertanggungjawaban moral dari Kapolda Metro Jaya atas tindakan sewenang-wenang anak buahnya. Apakah kepolisian akan meminta maaf secara terbuka atau justru terus mencari celah untuk menjatuhkan sang pakar telematika?

Satu hal yang pasti, genderang perang melawan ketidakadilan hukum baru saja ditabuh di Jakarta Selatan. Kasus ijazah Jokowi ini dipastikan akan terus bergulir memanas dan berpotensi menyeret aktor-aktor besar lainnya ke permukaan. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hotspot Bergeser ke Sumatera, Menhut Raja Antoni: Data Karhutla Sangat Dinamis
Pengelolaan Whoosh Beralih ke Kemenkeu Mulai September 2026, Dikelola Lewat SMV Agar Tak Bebani APBN
Warga Pati Minta DPR Tindak Kelompok Pengatasnama Rakyat yang Sebar Kerusuhan dan Hoaks
Kabut Asap Karhutla Melanda Pekanbaru, Siswa PAUD–SMP Belajar Daring Senin
Kemhan Tegaskan Unhan Tidak Larang Hijab, Akan Sempurnakan Aturan Seragam Kadet Perempuan
Pemblokiran Rekening Supriyono: PPATK Bantah Terlibat, Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Langkah Tersebut
Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kalbar, Tinjau Pemadaman dan Pastikan Penanganan Optimal
Gunung Anak Krakatau Meletus Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 400 Meter, Warga Dilarang Mendekat Radius 3 Km
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Hotspot Bergeser ke Sumatera, Menhut Raja Antoni: Data Karhutla Sangat Dinamis

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Pengelolaan Whoosh Beralih ke Kemenkeu Mulai September 2026, Dikelola Lewat SMV Agar Tak Bebani APBN

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Kabut Asap Karhutla Melanda Pekanbaru, Siswa PAUD–SMP Belajar Daring Senin

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:33 WIB

Kemhan Tegaskan Unhan Tidak Larang Hijab, Akan Sempurnakan Aturan Seragam Kadet Perempuan

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:23 WIB

Pemblokiran Rekening Supriyono: PPATK Bantah Terlibat, Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Langkah Tersebut

Berita Terbaru

Foto: Tampak jelas ulat hidup yang ditemukan di dalam sajian telur puyuh bumbu yang disajikan melalui Program Makan Bergizi Gratis di Belongkut, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Temuan ini terekam dalam video yang viral pada Jumat (21/8/2026) dan memicu kemarahan publik serta tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan mutu makanan MBG.

Kabupaten Labuhan Batu Utara

Ulat dalam Ompreng MBG Labura, BGN Didesak Tak Berhenti pada Permintaan Maaf

Senin, 24 Agu 2026 - 18:17 WIB