Medan-Mediadelegasi: Permukaan air Danau Toba dilaporkan terus mengalami penurunan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Fenomena ini mulai memberikan dampak serius terhadap berbagai sektor vital di Sumatera Utara, termasuk perikanan, krisis pasokan energi hidrowisata, hingga penurunan daya tarik pariwisata kawasan strategis nasional tersebut.
Berdasarkan hasil kajian mendalam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penurunan fluktuasi air danau vulkanik terbesar di dunia ini tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Peneliti menemukan adanya kombinasi kompleks antara perubahan iklim global serta dampak langsung dari dinamika aktivitas manusia di sekitar kawasan tangkapan air.
Secara historis, dinamika perubahan tinggi muka air Danau Toba terbagi dalam dua periode utama. Pada kurun waktu 1957 hingga 1984, air danau menyusut dengan laju rata-rata mencapai 22 milimeter per tahun. Laju penurunan pada periode ini didominasi oleh fenomena alam El Niño yang memicu kemarau panjang.
Namun, titik balik perubahan pola aliran air danau terjadi secara dramatis pada tahun 1984. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Hendri, mengungkapkan bahwa momentum tersebut bertepatan dengan mulainya operasional Bendungan Sigura-gura serta instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan Sungai Asahan.
Sejak operasional infrastruktur energi tersebut dimulai, rata-rata laju penurunan muka air jangka panjang melambat menjadi sekitar 2 milimeter per tahun. Meski angka tahunannya mengecil, fluktuasi air danau menjadi jauh lebih rentan terhadap gangguan ekstrem cuaca pada kurun waktu tertentu.
Catatan riset menunjukkan penyusutan air paling ekstrem terjadi pada tahun 1987, 1990, 1998, dan 2016. Penurunan drastis ini dipicu oleh fenomena ganda, yaitu interaksi antara iklim El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang menyebabkan penurunan curah hujan secara drastis di wilayah Danau Toba.
Di sisi lain, kerusakan lingkungan di kawasan tangkapan air (Catchment Area) turut memperburuk kondisi hidrologi danau. Data BRIN mencatat terjadinya penyusutan tutupan hutan alami di sekitar kawasan Danau Toba hingga mencapai 29 persen sepanjang periode tahun 1988 hingga 2020.
Alih fungsi lahan hutan alami menjadi kawasan hutan tanaman industri serta pemukiman warga menjadi faktor utama hilangnya vegetasi pelindung. Berkurangnya tutupan pohon secara langsung merusak kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan cadangan air hujan secara alami.
Kondisi tanah yang tidak lagi optimal menyimpan air memicu alir permukaan (runoff) tinggi saat hujan, namun memicu kekeringan mendalam saat musim kemarau tiba. Hal inilah yang terus mengganggu kestabilan suplai debit air masuk ke dalam cekungan Danau Toba secara berkelanjutan.
Pihak BRIN menegaskan bahwa penyelamatan Danau Toba tidak bisa sekadar mengandalkan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim semata. Pemangku kebijakan dituntut segera melakukan pembenahan tata guna lahan dan tata ruang di seluruh kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Danau Toba.
Selain itu, skema pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air untuk kebutuhan pembangkit listrik serta industri harus diatur ulang secara lebih bijaksana. Keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian daya dukung lingkungan harus menjadi prioritas utama demi menjaga keberlanjutan danau.
Sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, Kementerian LHK, serta masyarakat lokal sangat mendesak untuk segera direalisasikan. Jika degradasi lingkungan ini terus dibiarkan tanpa penanganan sistematis, masa depan ekosistem dan perekonomian kawasan Danau Toba berada dalam ancaman serius. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan






