Medan-Mediadelegasi: Tiga puluh tahun lalu, Lembaga Administrasi Negara (LAN) membekali kami dengan empat buku yang kemudian menjadi rujukan penting bagi para alumni Sepamen LAN 1999. Bagi kami, buku-buku tersebut bukan sekadar bahan bacaan, melainkan panduan untuk memahami birokrasi, kepemimpinan, organisasi, dan perubahan dalam pelayanan publik.
Buku pertama adalah The Fifth Discipline: The Art & Practice of the Learning Organization karya Peter Senge. Buku ini mengajarkan pentingnya berpikir secara sistemik (systems thinking), sehingga persoalan tidak semata-mata dilihat dari kesalahan individu, tetapi dipahami sebagai bagian dari sistem yang lebih luas.
Buku kedua, Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit Is Transforming the Public Sector karya David Osborne dan Ted Gaebler, memperkenalkan gagasan tentang perlunya perubahan paradigma dalam pemerintahan. Pemerintah tidak hanya dituntut menjalankan prosedur, tetapi juga harus mampu mengarahkan, mengukur hasil, meningkatkan kinerja, dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama.
Buku ketiga, Banishing Bureaucracy: The Five Strategies for Reinventing Government karya David Osborne dan Peter Plastrik, menawarkan lima strategi untuk melakukan pembaruan birokrasi, yakni memperjelas tujuan, menciptakan insentif, berorientasi pada masyarakat sebagai pengguna layanan, mendelegasikan kewenangan, serta membangun budaya organisasi yang mendukung perubahan.
Sementara itu, buku keempat, Laboratories of Democracy: A New Breed of Governor Creates Models for National Growth karya David Osborne, mengingatkan bahwa berbagai inovasi dalam pelayanan publik dapat tumbuh dari daerah yang berani mencoba pendekatan baru secara terukur dan bertanggung jawab.
Dalam proses pembelajaran itu, kami juga berkenalan dengan pemikiran Alvin Toffler mengenai peran kelompok kecil dalam mendorong perubahan yang lebih besar.
Dari berbagai pembelajaran tersebut, para Widyaiswara LAN menyampaikan sebuah prinsip sederhana yang hingga kini masih saya ingat: 5 persen orang yang konsisten dapat menjadi penggerak perubahan.
Lalu pertanyaannya: DI mana 5% Orang Keras Kepala Itu?.
Jawabannya: Mereka ada di sekitar kita. Ada di aparatur yang tetap lurus walau banyak godaan. Ada di pemimpin yang berani utamakan rakyat. Ada di pelayan publik yang mau turun ke lapangan. Ada di guru, pendeta, kepala desa, pemuda yang mulai dari hal kecil.
Saya sendiri belajar dari prinsip ini ketika menulis tentang penyelamatan Danau Toba, menulis di berbagai media online, dan ikut dalam kegiatan konservasi berbasis Geopark. Masalahnya, 5% ini masih jalan sendiri-sendiri. Belum saling kenal. Belum saling menguatkan. Tugas kita adalah menemukan mereka dan menyatukannya.
Prinsip itu mengingatkan saya pada sebuah kisah lama tentang bagaimana keberadaan segelintir orang yang tetap berpegang pada kebenaran dapat menjadi alasan bagi sebuah komunitas untuk tidak kehilangan harapan.
Bagi saya, pesan tersebut sederhana: perubahan tidak selalu harus dimulai oleh mayoritas. Terkadang, perubahan justru bermula dari sekelompok kecil orang yang memiliki komitmen, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.
Itulah yang kemudian berusaha saya pegang dalam perjalanan pengabdian, baik ketika masih aktif sebagai aparatur maupun ketika berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat. Prinsipnya tetap sama: selama hari masih siang, teruslah berbuat.
Ungkapan “selama hari masih siang” mengandung makna bahwa selama masih diberi waktu, tenaga, kesempatan, dan kepercayaan, semuanya sebaiknya digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Kita tidak harus menunggu seluruh keadaan menjadi sempurna. Kita juga tidak harus menunggu semua orang memiliki pandangan yang sama.
Sebab, dalam setiap perubahan, selalu ada orang yang memilih menunggu dan ada pula yang memilih memulai.
Lalu, di mana 5 persen itu?
Mungkin mereka adalah aparatur yang tetap fokus pada tujuan organisasi meskipun menghadapi rutinitas dan berbagai keterbatasan.
Lihat juga
Memimpin Tanpa Tahta
Generasi Muda Toga Sinaga Menyongsong Era Emas 2045
Temukan lebih banyak
Waktu & Kalender
Pemerintah
Cabang Eksekutif
Mungkin mereka adalah pemimpin yang berani menghubungkan kinerja organisasi dengan kepuasan masyarakat.
Mungkin mereka adalah pelayan publik yang bersedia turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan, melihat persoalan, dan memahami kebutuhan masyarakat.
Mungkin pula mereka adalah pengambil kebijakan yang berani menyederhanakan prosedur, sepanjang tetap sesuai dengan ketentuan dan prinsip tata kelola yang baik.
Atau, mereka adalah para inovator di daerah yang berani mencoba cara baru, melakukan pengukuran, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki kekurangan.
Tentu saja, perubahan tidak berarti mengabaikan aturan. Inovasi tetap membutuhkan kehati-hatian, kajian, pengukuran, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali diawali oleh langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Tidak perlu menunggu semuanya siap.
Tidak perlu menunggu semua orang setuju.
Perubahan dapat dimulai dari meja kerja sendiri, dari tugas yang sedang dihadapi, dari pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, dan dari keputusan kecil yang dibuat hari ini.
LAN telah memberikan pengetahuan.
Osborne, Gaebler, Plastrik, Senge, dan Toffler telah memberikan gagasan dan inspirasi.
Kini, tantangannya adalah bagaimana pengetahuan dan gagasan tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak orang yang berbicara tentang perubahan.
Pertanyaannya adalah:
Hari ini, sudahkah saya menjadi bagian dari 5 persen orang yang konsisten itu?
Karena selama hari masih siang, masih ada waktu untuk berbuat.
Dan perubahan selalu membutuhkan seseorang yang bersedia memulainya. D|Red.
(Penulis, Lulus Sepamen LAN RI, 21 Desember 1999, Predikat Memuaskan)
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si.
Editor : Alan






