Jakarta-Mediadelegasi: Di tengah tekanan target kerja yang kian berat dan beban administrasi yang menumpuk, kondisi psikologis pegawai kerap menjadi korban yang terlupakan. Kini, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berani membuka tabir tersebut dengan menggelar Workshop Penguatan Kapasitas Psychological First Aid (PFA) bagi seluruh jajaran pegawai. Kegiatan ini menjadi sinyal keras bahwa lingkungan kerja yang sehat tidak bisa hanya diukur dari angka produktivitas semata.
Selama ini, budaya kerja di lingkungan birokrasi kerap menuntut pegawai untuk selalu tampil tangguh, kuat, dan tidak boleh menunjukkan kelelahan maupun tekanan batin. Padahal, di balik kesibukan tersebut, banyak pegawai yang sebenarnya memendam kecemasan, stres, hingga kelelahan emosional yang jika dibiarkan bisa meledak kapan saja. Workshop ini hadir sebagai jawaban atas kesenjangan yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Kegiatan yang diikuti oleh pegawai dan anggota DWP Kemnaker ini tidak sekadar seremonial biasa. Tujuannya sangat jelas: membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan nyata untuk memberikan dukungan psikologis awal, membangun komunikasi yang penuh empati, serta menumbuhkan budaya saling peduli yang selama ini terasa kering di lingkungan kerja.
Penasihat I DWP Kemnaker, Sumarni Yassierli, menegaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat tidak akan pernah terwujud hanya dengan aturan dan sanksi. Ia menyoroti bahwa dinamika pekerjaan yang terus berubah dan target yang semakin tinggi menuntut lebih dari sekadar keahlian teknis; kepekaan terhadap kondisi batin rekan kerja menjadi kebutuhan mendesak yang tak bisa ditunda lagi.
“Selama ini kita hanya menilai seberapa cepat pekerjaan selesai, tapi lupa bertanya bagaimana perasaan mereka yang mengerjakannya. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengubah pola pikir itu, agar setiap pegawai memahami pentingnya dukungan psikologis awal dan membangun komunikasi yang lebih manusiawi,” tegas Sumarni dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Ia menambahkan, kemampuan mendengarkan dengan tulus, memahami tanpa menghakimi, dan memberikan dukungan yang tepat adalah kunci utama menciptakan suasana kerja yang harmonis. Banyak masalah di tempat kerja yang membesar hanya karena tidak ada ruang yang aman untuk bercerita dan berbagi beban.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa lingkungan kerja yang dipenuhi tekanan tanpa dukungan emosional justru memicu penurunan kinerja, seringnya kesalahan kerja, hingga konflik antarpribadi. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan organisasi.
Workshop ini menghadirkan narasumber yang kompeten membahas berbagai materi mendalam, mulai dari pengenalan konsep PFA, langkah-langkah penerapannya, teknik komunikasi yang bersifat terapeutik, hingga cara membantu menstabilkan emosi seseorang yang sedang berada dalam tekanan.
Agar tidak sekadar teori, peserta juga diajak terlibat langsung dalam sesi praktik dan simulasi peran. Cara ini dipilih agar mereka tidak hanya mengerti secara konsep, tetapi benar-benar mampu menerapkannya saat menemukan rekan kerja yang terlihat sedang tertekan atau mengalami kesulitan psikologis.
Sumarni berharap, ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di dalam ruangan pelatihan saja. Ia ingin setiap peserta membawa perubahan nyata, mulai dari cara menyapa, cara mendengarkan, hingga cara merespons kondisi rekan kerja di lingkungan sehari-hari.
“Kami ingin membuktikan bahwa birokrasi juga bisa memiliki hati. Kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal agar tercipta budaya kerja yang benar-benar peduli, suportif, dan responsif, bukan hanya tampak rapi di atas kertas,” ujarnya dengan tegas.
Langkah ini patut diapresiasi sekaligus menjadi pengingat bagi instansi lain. Jika Kemnaker saja sudah sadar bahwa pekerja yang sehat batinnya adalah aset terbesar, maka sudah saatnya seluruh lapisan pemerintahan dan dunia usaha meniru langkah ini. Jangan sampai keberhasilan organisasi dibayar dengan mengorbankan kesehatan mental para pegawainya. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







