Medan-Mediadelegasi: Kabar baik datang dari Koperasi Arga Do Bona Ni Pinasa atau juga biasa disebut Koperasi APB Medan. Kalangan pengurus dan anggota koperasi yang dominan terdiri dari kaum perempuan dan bergerak di bidang usaha ulos tersebut, kini berencana mengelola minyak goreng bekas atau minyak jelantah sebagai inovasi usaha baru.
Bidang usaha baru Koperasi APB itu akan direalisasikan dengan mendirikan bank minyak jelantah yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung minyak goreng bekas untuk didaur ulang menjadi beragam produk yang memiliki nilai tambah secara ekonomi.
Rencana mengembangkan inovasi usaha baru berupa bank minyak jelantah tersebut diungkapkan Ketua Koperasi APB Erika Rosdiana Panjaitan saat menjadi narasumber dalam wawancara podcast di studio DelegasiTV Medan, Sabtu (15/10).
Narasumber lain yang hadir dalam sesi wawancara itu, yaitu Muchtar Sinaga selaku Sekretaris Sawitku Masa Depanku (SAMADE) dan aktivis perempuan Sumatera Utara Ria Gurning.
“Agar tidak disalahgunakan dan menjadi sampah, minyak jelantah dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bermanfaat,” kata Erika dalam wawancara podcast yang dipandu jurnalis DelegasiTV Robin H.Turnip.
Pemanfaatan minyak goreng bekas menjadi beragam produk yang bermanfaat dari sisi ekonomi, lanjut dia, merupakan langkah yang sangat bijaksana karena penggunaan minyak jelantah secara berulang rentan menimbulkan efek negatif bagi tubuh manusia.
Berangkat dari pemikiran pentingnya meminimalisir risiko penggunaan minyak goreng bekas, kata dia, para pengurus dan anggota Koperasi APB merasa terpanggil untuk mendirikan bank minyak jelantah.
Seperti halnya bank sampah, kata Erika, bank minyak jelantah nantinya tidak hanya bersifat sebagai wadah untuk menampung minyak goreng bekas saja, tetapi pihak penyetor minyak jelantah juga memperoleh keuntungan.
Ia menuturkan, pihak penyetor minyak jelantah dalam hal ini masyarakat selaku mitra bank minyak jelantah akan memperoleh tambahan penghasilan.
“Dengan adanya bank minyak jelantah, tentunya juga akan dapat mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat terutama ibu ramah tangga untuk menggunakan minyak goreng secara benar dan baik bagi kesehatan,” ujarnya.
Senada dengan pendapat Erika, Sekretaris SAMADE yang juga pegiat sawit berkelanjutan Muchtar Sinaga, menilai keberadaan bank minyak jelantah diyakini dapat membantu perekonomian masyarakat.
Sebab, menurut dia, bank minyak jelantah yang akan dikembangkan oleh Koperasi APB selain efektif memberikan peluang pekerjaan, juga memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat yang menjadi mitra usahanya.
“Melalui sentuhan teknologi, minyak jelantah juga dapat diproses menjadi bio solar dan pertalite atau premium,” paparnya.
Lebih jauh Rachman menjelaskan bahwa minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang agar menjadi sesuatu yang tidak berbahaya, baik bagi tubuh manusia maupun lingkungan.
Sebab secara proses kimiawi, menurut dia, penggunaan minyak goreng secara berulang atau minyak jelantah untuk memasak dapat membuat makanan lebih bersifat racun.
Minyak jelantah yang dipanaskan, ujar dia, akan melepaskan konsentrasi Aldehida yang lebih tinggi sehingga menjadi bahan kimia beracun yang berpotensi memicu penyakit kronis, seperti kanker, penyakit jantung, Alzheimer, Demensia dan Parkinson.
Sementara itu, aktivis perempuan Sumut Ria Gurning menilai rencana Koperasi APB mengembangkan usaha di bidang bank minyak jelantah wajar disambut positif dan didukung oleh pemerintah melalui instansi terkait.
“Upaya mendaur ulang minyak jelantah menjadi sesuatu produk yang bermanfaat dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia maupun lingkungan merupakan suatu langkah inovatif yang perlu didukung oleh semua pihak,” ucap dia.
Karena itu, kata Ria, inisiatif mengelola minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan memberikan peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan perlu didukung dan diapresiasi. D|Med-24






