Telaviv-Mediadelegasi: Dunia internasional kembali dihebohkan dengan tindakan kontroversial yang dilakukan oleh pejabat tinggi Israel. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah sebuah video yang memperlihatkan perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan pasukan militernya terhadap para aktivis kemanusiaan internasional dari rombongan Global Sumud Flotilla (GSF). Unggahan ini muncul pada Rabu (20/5/2026) dan langsung memicu gelombang kecaman luas dari berbagai penjuru dunia.
Dalam rekaman video yang beredar dan disebarkan sendiri oleh Ben Gvir itu, terlihat jelas puluhan aktivis dalam posisi berlutut di lantai. Tangan mereka diikat erat ke belakang punggung, sementara dahi mereka harus menempel menyentuh lantai dan dilarang mengangkat wajah. Posisi penahanan ini dianggap sebagai bentuk perlakuan yang merendahkan martabat manusia dan bertujuan untuk menanamkan rasa takut serta penghinaan terhadap para relawan tersebut.
Video tersebut kemudian menyebar cepat ke seluruh dunia dan memicu kemarahan publik maupun pemerintah negara-negara lain. Banyak pihak yang mengecam keras tindakan tersebut dan menilai bahwa apa yang dilakukan Israel telah melampaui batas kemanusiaan. Sejumlah organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia pun segera mengeluarkan pernyataan, serentak menyerukan agar seluruh aktivis segera dideportasi dan dikembalikan ke negara asalnya dengan selamat.
Itamar Ben Gvir dikenal sebagai politisi sayap kanan garis keras dan radikal yang kerap mengambil kebijakan serta tindakan yang memancing kontroversi dan ketegangan. Kali ini, ia sengaja membagikan rekaman tersebut melalui akun resminya di media sosial X. Tindakannya ini dinilai bukan sekadar laporan resmi, melainkan bentuk pamer kekuasaan dan provokasi terbuka terhadap gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.
Berdasarkan data yang ada, ratusan aktivis yang berasal dari lebih dari 30 negara di seluruh dunia kini sedang ditahan di fasilitas penahanan yang berlokasi di kawasan pelabuhan Ashdod, Israel. Mereka adalah bagian dari rombongan kapal-kapal yang berlayar membawa misi kemanusiaan, namun justru diperlakukan seperti penjahat berbahaya atau musuh negara yang harus ditundukkan dengan paksa.
Yang membuat situasi ini semakin mengundang kemarahan adalah cara Ben Gvir memberi keterangan pada unggahan videonya. Ia menuliskan kalimat sarkas dan penuh ejekan berbunyi “Selamat Datang di Israel”. Lebih jauh lagi, video tersebut juga disisipkan dengan alunan lagu kebangsaan Israel yang dikumandangkan sebagai latar belakang, seolah perlakuan kasar tersebut adalah sesuatu yang patut dibanggakan sebagai kemenangan bangsanya.
Tindakan menteri itu tidak berhenti sekadar mengunggah rekaman. Dalam video yang sama, terlihat Ben Gvir hadir langsung di lokasi penahanan. Ia berjalan di antara barisan aktivis yang sedang berlutut dan tidak berdaya sambil mengibarkan bendera Israel tinggi-tinggi. Sikap ini terlihat jelas sebagai bentuk penghinaan langsung dan cemoohan terhadap para relawan yang datang membawa bantuan bagi warga Gaza yang menderita.
Peristiwa ini bermula dari keberangkatan armada laut kemanusiaan yang terdiri dari sekitar 50 kapal milik gerakan Global Sumud Flotilla. Armada besar ini berlayar dari wilayah Turki pada hari Kamis pekan sebelumnya. Misi utama mereka adalah membawa bantuan dan berusaha menembus blokade laut ketat yang diterapkan Israel terhadap Jalur Gaza, demi menyalurkan kebutuhan dasar bagi warga Palestina yang terisolasi.
Namun, niat mulia tersebut kandas di tengah jalan. Pasukan militer Israel melakukan penyergapan besar-besaran dan mencegat seluruh kapal yang ada dalam rombongan tersebut. Operasi militer ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni pada Senin dan Selasa minggu yang sama. Tidak ada satu pun kapal atau aktivis yang lolos dari penguasaan pasukan Israel.
Pihak berwenang Israel kemudian merilis data resmi terkait jumlah orang yang diamankan. Disebutkan bahwa total ada 430 aktivis internasional yang ditangkap dalam operasi pengecegatan tersebut. Sebagian besar dari mereka kini telah dipindahkan dan tiba di fasilitas penahanan pelabuhan Ashdod, sementara sisanya masih dalam proses pemindahan.
Di antara ratusan orang yang ditahan itu, diketahui juga terdapat tambahan warga negara Indonesia. Sehingga jumlah total WNI yang menjadi korban penahanan dalam kasus ini bertambah dan kini mencapai sembilan orang. Keberadaan mereka dikonfirmasi berada di antara kerumunan aktivis yang diperlakukan kasar dalam video yang diunggah oleh menteri keamanan Israel tersebut.
Kecaman terus mengalir deras menuju pemerintah Israel, menuntut penjelasan atas pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan terekam kamera ini. Dunia internasional kini menunggu langkah selanjutnya, apakah Israel akan memulangkan para relawan ini atau justru akan menindaklanjuti dengan proses hukum yang dinilai sepihak dan tidak adil. Sementara itu, kasus ini menjadi bukti nyata ketegangan yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






