Jakarta-Mediadelegasi : Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) memberikan tanggapan terkait aksi pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dilakukan oleh sekelompok orang baru-baru ini.
Menurut JK, tindakan tersebut tidak mencerminkan keinginan masyarakat Aceh secara keseluruhan dan hanya merupakan ekspresi emosional dari sebagian kecil orang.
“Rakyat Aceh sudah ingin damai, sudah menikmati kedamaian,” tegas JK saat ditemui di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Jumat (2/1).
Sebagai tokoh perdamaian Aceh, ia menekankan bahwa kondisi masyarakat Aceh saat ini telah jauh berbeda dan fokus pada pembangunan serta kesejahteraan.
JK menilai bahwa aksi pengibaran simbol tersebut murni didorong oleh faktor emosi. Ia juga mengingatkan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Helsinki yang telah disepakati bersama, di mana telah ditetapkan bahwa lambang-lambang semacam itu tidak lagi digunakan dalam aktivitas publik.
Sebelumnya, sebuah aksi massa yang melibatkan pengibaran simbol-simbol terkait GAM terjadi di Simpang Kandang, Kota Lhokseumawe, tepatnya di sepanjang Jalan Nasional yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan. Kegiatan tersebut menarik perhatian pihak keamanan yang segera melakukan langkah antisipasi.
Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf. Ali Imran menjelaskan bahwa aparat keamanan sempat bersitegang dengan massa saat berupaya melakukan pembubaran. Meskipun demikian, pihak keamanan tetap berusaha menjaga situasi agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Dalam menangani situasi yang sempat memanas tersebut, pihak keamanan mengedepankan pendekatan persuasif. Pendekatan ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kekerasan dan menjaga keharmonisan antar pihak.
Hasil dari upaya persuasif tersebut, massa akhirnya secara sukarela menyerahkan kain umbul-umbul yang menyerupai bendera GAM kepada petugas keamanan. Setelah itu, mereka juga membubarkan diri dengan tertib tanpa menimbulkan kerusuhan lebih lanjut.
Namun, dalam penyelidikan selanjutnya, petugas di lapangan mengamankan seorang pria yang diduga bertindak sebagai provokator dalam aksi tersebut.
Pria tersebut menjadi fokus penyelidikan karena dicurigai memiliki peran penting dalam menggerakkan massa.
Saat dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan, dari diri pria tersebut kedapatan membawa tas yang berisi barang bukti penting. Di antaranya adalah senjata api jenis pistol serta senjata tajam tradisional khas Aceh, rencong.
Menanggapi insiden yang terjadi di Lhokseumawe, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengeluarkan peringatan keras kepada siapa pun yang coba mengganggu kondisi stabilitas di Aceh. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi terhadap kelompok mana pun yang melakukan provokasi.
“Kami sedang bekerja untuk membantu percepatan pemulihan akibat bencana alam. Saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi yang mengganggu proses tersebut,” ungkap Agus dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (29/12/2025).
Jenderal Agus menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menangani dampak bencana alam yang telah melanda Aceh, termasuk banjir dan tanah longsor. Semua pihak, mulai dari TNI, kementerian lembaga, hingga masyarakat, sedang bersinergi untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Ia juga memastikan bahwa TNI akan mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk gangguan yang dapat menghambat proses pemulihan pascabencana. Keamanan dan kenyamanan masyarakat Aceh menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi saat ini.D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






