Kerukunan Antarumat Beragama Perlu Terus Dirajut

Kerukunan Antarumat Beragama Perlu Terus Dirajut
Ketua Komisi Kerawan Keuskupan Agung Medan Pastor Yosafat Ivo Sinaga, OFMCap (kiri) dan Ustadz Abdul Kholik, S.Pdi, M.Si (kedua kanan) saat tampil sebagai narasumber dalam Dialog Interaktif HorasMedan yang dipandu Redaktur Pelaksana Mediadelegasi Maruli Agus Salim Siregar (kanan), di studio Mediadelegasi Medan, Kamis (22/12). Foto: D|tio-Limbong

Pelabelan “kadrun” dan “kampret” yang mengemuka sejak Pilpres 2019 lalu, menurutnya, merupakan hasil kerja para aktor-aktor politik bercita rasa rendah yang secara sadar telah menciptakan masyarakat terbelah menjadi dua kubu yang berlawanan.

Perkuat toleransi
Dalam kesempatan yang sama, Pastor Yosafat Ivo Sinaga mengingatkan segenap umat Katolik agar senantiasa menjunjung tinggi dan memperkuat toleransi antarumat beragama yang selama ini sebenarnya berjalan harmonis.

Salah satu contoh harmonisasi kehidupan beragama itu dapat dilihat dari keberadaan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Ia menceritakan, jika Lebaran yang jatuh pada hari Minggu, pihak gereja meniadakan ibadah pagi dan diganti dengan membantu perayaan sholat Ied.

Begitu pula pada Natal, jemaah Istiqlal sengaja meluangkan lahan parkir khusus untuk jemaah Gereja Katedral saat beribadah Natal.

Dikatakan Yosapat, pada dasarnya semua agama, suku dan budaya mengajarkan tentang kebaikan tidak ada yang mengajarkan pertengkaran apalagi permusuhan.

Keragaman yang ada di Indonesia, menurutnya, merupakan sebuah keniscaya dan untuk merawat keragaman yang ada tentunya harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Ini kekayaan yang luar biasa yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk membangunnya agar negara ini menjadi negara yang damai sejahtera dan berkeadaban,” katanya.

Kebaikan-kebaikan yang muncul dari berbagai elemen bangsa, sebut Yosapat, sejatinya perlu dikedepankan untuk kepentingan bersama dikontribusikan untuk kemanfaatan bersama.

Ia juga menekankan tentang pentingnya mengenalkan anak pada keragaman agar dimulai sejak usia dini, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah.

Untuk menanamkan sikap toleransi tersebut, ia mengingatkan kepada para orang tua maupun guru perlu senantiasa memberi contoh langsung bagaimana sikap baik ucapan maupun perbuatan yang menunjukan toleransi dan menghormati keberagaman.

Terkait dengan momentum Hari Natal tahun ini, Pastor Yosapat berpesan kepada segenap umat Katolik terutama di Sumatera Utara agar menjadikan peringatan Natal menjadi puncak bagi tumbuhnya kesadaran baru dan instropeksi diri agar sesama manusia saling mencintai, saling menjaga, dan saling mengasihi. D|Red-04

Pos terkait