Kesaksian Syahrial AMS: Ada Pertemuan dengan Menteri PKI di Kediaman Gubernur Sumut

Senin, 29 September 2025 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H Syahrial Ams SH MHum aktivis GP Ansor Medan saksi sejarah gerakan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) Di Sumatera Utara 1965. Foto saat berlangsung Podcast Mediadelegasi, Senin (29/9). Foto: Limbong

H Syahrial Ams SH MHum aktivis GP Ansor Medan saksi sejarah gerakan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) Di Sumatera Utara 1965. Foto saat berlangsung Podcast Mediadelegasi, Senin (29/9). Foto: Limbong

Medan-Mediadelegasi: Tokoh masyarakat di Medan, Sumatera Utara, tak menduga tragedi pembunuhan tujuh orang jenderal pada 30 September 1965 sebagai gerakan Partai Komunitas Indonesia (PKI).

“Saya baru tahu peristiwa itu setelah beredar kabar, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta menyampaikan desakan pembubaran PKI,” kata H Syahrial AMS, SH MHum kepada Mediadelegasi, di Medan, Senin (29/9).

Beberapa hari menjelang peristiwa G30S PKI, Syahrial AMS yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Banser Ansor Medan, bersama sejumlah tokoh pemuda dan agama menghadiri pertemuan bersama Gubernur Sumut Oelung Sitepu.

Pertemuan yang berlangsung di rumah dinas gubernur Sumut Jalan Sudirman Medan pada 28 September 1965 tersebut turut dihadiri para Menteri Negara dari PKI, NU dan PNI.

“Termasuk hadir waktu itu, Jalaluddin Yusuf Nasution, Ketua PKI Sumut, Aminuddin Azis Ketua NU Sumut, dan ada dari PNI Sumut, saya lupa namanya,” terang Syahrial AMS yang kini berusia 81 Tahun itu.

Pembina Yayasan Pondok Pesantren Ulumul Quran Stabat, Langkat ini, mengaku masih ingat pidato Soebandrio, Menteri Luar Negeri Indonesia, Jalaluddin Yusuf selaku Ketua Committee Besar Daerah (CBD) Partai Komunis Indonesia (PKI).

Soebandrio dalam pidatonya, antara lain menyebut nama-nama calon menteri dari PKI asal Sumut, kecuali Mayjen Yusuf Mokoginta selaku Panglima Kowilhan yang saat pertemuan itu memilih tetap berdiri.

BACA JUGA:  Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut Harus Tindak Kapal Pukat Harimau

“Jenderal Moko (Mokoginta) tak ikut sebagai calon menteri, tapi kelebihan kecerdasannya melebihi menteri,” ucap Syahrial menirukan pidato Soebandrio yang cukup serius waktu itu.

Pada keesokan harinya atau 29 September 1965 lanjut Syahrial, Soebandrio beserta rombongan menteri dari Jakarta, melanjutkan perjalanan ke Aceh.

Beberapa kemudian atau tepatnya pada 4 Oktober 1965, kata Syahrial, dirinya mendapat kabar bahwa di Jakarta telah terjadi pembunuhan secara keji terhadap tujuh orang jenderal.

Kabar tersebut diperoleh Syahrial dari pemilik warung kopi langganannya di kawasan Kebun Sayur Jalan Multatuli Medan.

“Akibat peristiwa G30S PKI itu, NU mendesak pembubaran PKI,” kata Syahrial setelah mendengar langsung informasi tersebut lewat siaran berita RRI di warung kopi tersebut.

Syahrial mengaku terkejut dengan tragedi pembunuhan itu, karena salah satu korban adalah Mayjen Soeprapto yang pernah bertugas sebagai Komandan Militer di Sumut dan rumah pribadinya beralamat di Jalan Samanhudi Medan.

Pascaperistiwa G30S PKI, desakan masyarakat agar PKI dibubarkan kian gencar dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk di Sumut.

Meski demikian, sejumlah anggota DPRD Sumut dari PKI pada 7 Oktober 1965, justru masih ikut bersidang.

BACA JUGA:  Dugaan Kelainan Seksual Kepsek SDN Jalan Flamboyan

Pada 12 Oktober 1965, kata Syahrial, di Lapangan Merdeka Medan digelar Rapat Akbar Umat Islam Sumatera Utara.

Rapat terbuka tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Sumut Adil Zuhdi Daulay dan Walikota Medan Aminurrasyid yang juga Ketua NU Sumut.

Saat Rapat Akbar inilah, kata Syahrial, Tuan Syech Afifuddin sebagai Rois Amm PW NU Sumut membacakan fatwa, menghalalkan darah komunis.

Pascarapat akbar ini, gerakan pengganyangan PKI tak terelakkan.

“Saat itu terbentuklah Front Aksi Pemuda, sebagai kolaborasi Pemuda Ansor, Pemuda Muslimin, Pemuda Katolik dan Pemuda GAMKI dikomandoi Marahalim Siregar dari NU,” paparnya.

Kemudian, terbentuk juga Komando Aksi Pemuda dari Pemuda Pancasila dikomandoi Fendi Keling.

Titik awal gerakan pengganyangan PKI oleh Front Aksi Pemuda bergerak menuju gedung Soksi waktu itu, Jalan Iskandar Muda Medan berujung pada tewasnya Zakir Sago, dan Ketua Sargubi yang juga anggota DPRD Medan.

“Saat ini ada satu lagi saksi hidup sejarah itu, yaitu Kamaluddin Lubis yang kini dikenal sebagai advokat senior. Pada masa itu, Kamaluddin Lubis menjabat sebagai Ketua PMII Sumut,” ujar Syahrial. D|Red-06

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut
USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB
Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta
DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta
CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN
Namanya Dicatut Irhamsadani Rambe dalam Isu Seleksi KPID, KAMMI Sumut: Ketua yang Sah Hanya Hasan Basri!
BEM UMN Al-Washliyah Tagih Tindak Lanjut Bea Cukai soal Dugaan Monza Ilegal
Gelar Muswil ke III, Syamsuri Terpilih Jadi Ketua IKA UT Medan Periode 2026-2031
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Istana Maimon Jadi Saksi, 23 Paguyuban Kesukuan Pertajam Komitmen Merajut Kebhinekaan Bersama FKN Sumut

Senin, 28 September 2026 - 17:16 WIB

USU: Belum Ditemukan Indikasi Perundungan dalam Kasus Meninggalnya Mahasiswi FIB

Jumat, 25 September 2026 - 17:31 WIB

Kadis SDABMBK Khairul Azmi Dorong Drainase Lebih Optimal, 1.047 Meter U-Ditch Dibangun di Gaperta

Rabu, 23 September 2026 - 16:45 WIB

DLH Kota Medan: Pengadaan Alat Berat Rp11,4 Miliar Sesuai Aturan LKPP, Tidak Ada Pembelian Buldoser Rp479 Juta

Sabtu, 19 September 2026 - 19:11 WIB

CEGAH GANGGUAN KAMTIB, LPKA MEDAN GELAR RAZIA GABUNGAN

Berita Terbaru