Medan-Mediadelegasi: Jumlah korban tewas dan luka akibat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja terus bertambah. Hingga hari ke-10 pertempuran, Rabu (17/12/2025), kedua negara melaporkan peningkatan signifikan pada korban sipil.
Thailand melaporkan 16 korban tewas di kalangan warga sipil, sedangkan Kamboja menyebutkan 17 korban. Angka tersebut belum termasuk personel militer dari kedua pihak yang sepertinya dirahasiakan, sehingga jumlah korban secara keseluruhan diperkirakan jauh lebih tinggi.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan bahwa Kamboja terus melancarkan serangan menggunakan roket-roket BM-21 ke beberapa daerah di Thailand.
Dia menjelaskan bahwa Kamboja menembakkan ratusan roket BM-21 ke Hill 677 dan pintu perbatasan Chong An Ma, Provinsi Ubon Ratchathani, pada hari Selasa pukul 07.00. Selain itu, Kamboja juga menembakkan artileri berat ke Hill 350, menargetkan Candi Prasat Ta Khwai, titik konflik utama di Provinsi Surin.
“Kami tidak akan berhenti membalas dan mengusir penjajah Kamboja dari tanah Thailand,” kata Surasant, seperti dikutip dari The Nation, Rabu (17/12/2025). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Thailand akan terus melakukan tindakan balasan terhadap serangan Kamboja.
Surasant menambahkan bahwa kematian 16 warga sipil Thailand disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh pertempuran. Satu orang terkena pecahan peluru dari roket, dan 15 lainnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas terkait bentrokan perbatasan atau sakit. Korban tidak bisa mendapatkan akses perawatan medis karena terjebak pertempuran di daerah tersebut.
Sementara itu, Kamboja melaporkan 17 korban tewas dari warga sipil. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, mengatakan bahwa hingga Rabu pagi, Thailand terus melancarkan serangan terhadap Kamboja.
Sejak serangan militer pada 7 Desember, 17 warga Kamboja meninggal, termasuk seorang bayi, dan total 77 lainnya luka-luka. Dia menuduh Thailand menggunakan semua jenis senjata berat, termasuk jet tempur F-16, peluncur roket DTI 2, drone, bom cluster, gas beracun, serta pengerahan pasukan dalam jumlah berlebihan untuk menyerang wilayah Kamboja.
Menurut Maly, serangan itu merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB, Piagam ASEAN, dan prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Dia juga mendesak militer Thailand menghentikan semua tindakan agresi, menghentikan penyebaran disinformasi, menghentikan serangan tanpa pandang bulu, terutama terhadap warga yang tidak bersalah dan infrastruktur sipil.
Konflik yang terus berlanjut ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas kawasan dan mendesak kedua belah pihak untuk segera mencari solusi damai melalui dialog dan negosiasi. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.






