Maduro Digulingkan, AS Incar Minyak Venezuela

Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, membuka babak baru bagi industri energi global. Potensi kembalinya perusahaan-perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat (AS) ke Venezuela menjadi sorotan utama, setelah bertahun-tahun mereka kehilangan aset bernilai miliaran dolar akibat kebijakan nasionalisasi.

Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel atau setara 17 persen dari cadangan global, kini kembali menjadi pusat perhatian investor. Seruan terbuka dari Presiden AS Donald Trump agar perusahaan-perusahaan migas AS kembali beroperasi di negara Amerika Selatan tersebut semakin memperkuat spekulasi tentang perubahan besar di sektor energi Venezuela.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan keyakinannya bahwa perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat siap menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang rusak parah.

Bacaan Lainnya

“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” tegas Trump.

Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah pasukan AS menangkap Maduro dan istrinya, memicu spekulasi pasar bahwa perubahan rezim akan membuka jalan bagi pemulihan aset migas yang sebelumnya disita pemerintah Caracas.

Reaksi pasar pun tak terhindarkan. Saham-saham perusahaan minyak besar seperti Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips mengalami kenaikan signifikan, mencerminkan optimisme investor terhadap peluang bisnis baru di Venezuela.

Selama bertahun-tahun, ketiga perusahaan tersebut merasakan dampak langsung dari kebijakan nasionalisasi yang diterapkan oleh mendiang Presiden Hugo Chavez pada tahun 2007. Kebijakan ini memaksa mereka untuk meninggalkan proyek-proyek strategis di Sabuk Orinoco, wilayah yang kaya akan sumber daya minyak.

Namun, para analis mengingatkan bahwa kembalinya investasi migas AS tidak akan terjadi secara instan. Stabilitas politik, kepastian hukum, serta mekanisme pemulihan klaim arbitrase bernilai miliaran dolar menjadi faktor krusial yang harus dipertimbangkan sebelum modal besar benar-benar mengalir kembali ke Venezuela.

Produksi minyak Venezuela pernah mencapai puncaknya di level 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an. Sayangnya, menurut data dari konsultan energi Kpler, produksi saat ini hanya berada di kisaran 800 ribu barel per hari. Penurunan tajam ini disebabkan oleh minimnya investasi, sanksi internasional, serta kerusakan infrastruktur yang meluas.

Sebagian besar cadangan minyak Venezuela terletak di Sabuk Orinoco dan berbentuk minyak mentah ekstra berat yang membutuhkan teknologi serta keahlian tinggi untuk diekstraksi. Kondisi ini membuka peluang besar bagi perusahaan minyak internasional yang memiliki kemampuan teknis dan modal yang besar.

Chevron dinilai memiliki posisi paling strategis untuk meningkatkan produksi dalam waktu relatif cepat. Perusahaan ini merupakan satu-satunya raksasa migas AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui usaha patungan dengan perusahaan minyak negara PDVSA. Pada kuartal IV 2025, Chevron tercatat mengekspor sekitar 140 ribu barel per hari dari Venezuela.

Chevron juga menguasai sekitar 23 persen produksi minyak Venezuela melalui berbagai joint venture. Meskipun demikian, perusahaan menegaskan bahwa keselamatan karyawan dan kepatuhan terhadap hukum internasional tetap menjadi prioritas utama di tengah situasi politik yang masih dinamis.

Pos terkait