Medan-Mediadelegasi: Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Iran dilaporkan tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat (AS) dengan membangun ratusan tempat perlindungan benteng bawah tanah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman serangan yang semakin menguat, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai “armada besar” yang menuju Iran.
Iran Bangun Lebih Dari 300 Benteng Bawah Tanah
Kepala Organisasi Manajemen Krisis Teheran, Ali Nasiri, mengungkapkan bahwa lebih dari 300 bangunan benteng bawah tanah, termasuk garasi parkir dan stasiun metro, akan difungsikan sebagai tempat penampungan bagi warga ibu kota Iran. Persiapan ini menunjukkan keseriusan pemerintah Iran dalam melindungi warganya dari potensi bahaya serangan udara.
Nasiri mengkonfirmasi bahwa tempat penampungan tersebut memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 2,5 juta orang. Jumlah ini mencerminkan upaya Iran untuk menyediakan perlindungan bagi sebagian besar penduduk Teheran jika terjadi eskalasi konflik.
Selain itu, sebanyak 82 stasiun metro di Teheran dan sejumlah kota lain telah ditetapkan sebagai tempat penampungan dan dilengkapi dengan berbagai keperluan darurat. Langkah ini menunjukkan pemanfaatan infrastruktur publik untuk tujuan perlindungan sipil.
“Rambu-rambu dan logo informasi tentangnya akan dipasang dalam waktu dekat,” kata Nasiri, seperti dikutip dari Khbrn, Minggu (1/2/2026). Pemasangan rambu-rambu ini bertujuan untuk memudahkan warga dalam menemukan dan mengakses tempat penampungan dengan cepat saat situasi darurat.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/jerat-korupsi-ratusan-miliar-tang-yijun-dipenjara-seumur-hidup/
Ancaman serangan AS terhadap Iran semakin menguat setelah Presiden Trump menyatakan bahwa “armada besar” sedang menuju Iran. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik militer antara kedua negara.
Trump juga menyatakan harapan agar Teheran bersedia kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang “adil dan merata” yang melibatkan penghentian total program senjata nuklir Iran. Namun, pernyataan ini juga diiringi dengan ancaman terselubung jika Iran menolak untuk berunding.
Presiden AS bahkan mengungkapkan bahwa pada Juni 2025, Amerika Serikat melakukan simulasi serangan terhadap fasilitas nuklir di Republik Iran, sebuah operasi yang dikenal sebagai “Midnight Hammer.” Pengungkapan ini semakin memperjelas kesiapan AS untuk mengambil tindakan militer jika diperlukan.
Situasi ini membuat Iran semakin waspada dan mengambil langkah-langkah preventif untuk melindungi diri dari potensi serangan. Pembangunan tempat perlindungan bawah tanah adalah salah satu upaya utama dalam meningkatkan kesiapsiagaan sipil.
Dengan persiapan yang matang dan kesiapsiagaan yang tinggi, Iran berharap dapat menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Langkah-langkah ini juga menunjukkan tekad Iran untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasionalnya. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






