Putra Khadafi Dibunuh di Zintan, dalam Serangan Mematikan

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi dan tokoh politik paling menonjol dari keluarga itu setelah kejatuhan rezim, telah tewas dalam sebuah serangan bersenjata di Zintan, Libya barat pada Selasa, 3 Februari 2026. Foto: Ist.

Seif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi dan tokoh politik paling menonjol dari keluarga itu setelah kejatuhan rezim, telah tewas dalam sebuah serangan bersenjata di Zintan, Libya barat pada Selasa, 3 Februari 2026. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Seif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi dan tokoh politik paling menonjol dari keluarga itu setelah kejatuhan rezim, telah tewas dalam sebuah serangan bersenjata di Zintan, Libya barat pada Selasa, 3 Februari 2026, menurut sejumlah laporan resmi dan pengakuan dari pihak keluarga serta penasihatnya.

Kabar kematian pria 53‑tahun itu disampaikan melalui media sosial oleh pengacaranya, Khaled al‑Zaidi, yang mengonfirmasi bahwa Seif al‑Islam yang juga putra mantan presiden Libya Muammar Khadafi telah dieksekusi di kediamannya tanpa rincian langsung mengenai motif atau pelaku. Penasihat politiknya, Abdullah Othman Abdurrahim, juga mengumumkan berita duka tersebut dan menjelaskan kronologi serangan melalui unggahan yang kemudian disiarkan oleh media Libya.

Putra Khadafi Dibunuh Empat Pria Bertopeng

Menurut pernyataan dari tim politik Seif, empat pria bersenjata bertopeng menyerbu rumahnya setelah menonaktifkan kamera pengawas dan kemudian melakukan eksekusi secara brutal. Insiden ini terjadi di kota Zintan, sekitar 136 kilometer barat daya ibukota Tripoli, sebuah wilayah yang sebelumnya dikenal bermusuhan dengan rezim Khadafi pada masa pemberontakan Arab Spring 2011.

BACA JUGA:  Indonesia dan 7 Negara Lain Kecam Keras Serangan Pemukim Israel ke Masjid Al-Aqsa

Kematian Seif al‑Islam tidak hanya mengguncang keluarga dan pendukungnya tetapi juga mencerminkan ketidakstabilan politik yang masih mendalam di Libya. Negara tersebut hingga kini tetap terpecah antara pemerintah yang diakui PBB di Tripoli dan faksi militan atau otoritas lain yang menguasai wilayah timur, memperumit segala upaya stabilisasi dan rekonsiliasi nasional.

Sosok Seif al‑Islam sendiri memiliki sejarah panjang dan kontroversial dalam politik Libya: pernah dipandang sebagai calon penerus ayahnya pada awal 2000‑an, aktif menjabat sebagai figur kunci kebijakan internal sebelum Arab Spring, lalu dikenal karena upayanya membangun citra moderat di luar negeri selama masa pemerintahan ayahnya.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/senyap-mematikan-as-siapkan-operasi-khusus-iran

Namun reputasinya hancur ketika di masa krisis 2011, dia mendukung tindakan represif terhadap pemberontak, yang kemudian membuatnya menjadi target pidana internasional. Ia ditangkap pada November 2011 oleh milisi lokal, divonis mati secara in absentia pada 2015 oleh pengadilan Libya, dan juga menjadi buronan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan sebelum akhirnya mendapat amnesti dan dibebaskan pada 2017.

BACA JUGA:  Banjir Besar Landa Malaysia, Lebih dari 11.000 Orang Terdampak

Pada 2021, Seif sempat mendaftarkan diri sebagai calon presiden Libya namun kemudian pencalonannya dibatalkan oleh komisi pemilihan dalam proses politik yang penuh sengketa dan ujungnya membuat pemilu ditunda berkali‑kali.

Reaksi atas pembunuhan ini datang dari berbagai penjuru; beberapa pihak menyerukan penyelidikan yang transparan, sementara analis politik memperkirakan bahwa kematiannya bisa memicu dampak signifikan bagi psikologi massa serta dinamika politik nasional, termasuk dalam konteks rencana pemilihan umum yang sudah lama tertunda.

Dengan tewasnya tokoh kontroversial ini, Libya menghadapi babak baru ketidakpastian di tengah upaya pencarian kestabilan dan persaingan kekuasaan yang terus berlangsung sejak kejatuhan Muammar Khadafi lebih dari satu dekade lalu. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ai Ogura Ciptakan Kejutan, Rebut Pole Position MotoGP Ceko 2026 di Brno
KTT Rusia-ASEAN Dibuka di Kazan: Putin Jamu Pemimpin Negara ASEAN, Perkuat Hubungan 35 Tahun Kemitraan
Iran Luncurkan Serangan Pembalasan ke Pangkalan AS di Timur Tengah, Rudal dan Dron Ditembakkan
Presiden China Xi Jinping Tiba di Korut, Siap Bertemu Pemimpin Negara Asia Timur Kim Jong Un
Gempa M 7.0 Guncang Mindanao Filipina di Hari Pertama Sekolah, Gedung Kampus Runtuh & Peringatan Tsunami Dikeluarkan
Indonesia dan 7 Negara Lain Kecam Keras Serangan Pemukim Israel ke Masjid Al-Aqsa
Badai Tropis Jangmi Terjang Jepang, Puluhan Ribu Rumah Mati Lampu dan Aktivitas Lumpuh
Presiden Prabowo Kembali ke Tanah Air Usai Kunjungan Kenegaraan ke Prancis, Disambut Wapres Gibran
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:23 WIB

Ai Ogura Ciptakan Kejutan, Rebut Pole Position MotoGP Ceko 2026 di Brno

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:57 WIB

KTT Rusia-ASEAN Dibuka di Kazan: Putin Jamu Pemimpin Negara ASEAN, Perkuat Hubungan 35 Tahun Kemitraan

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:53 WIB

Iran Luncurkan Serangan Pembalasan ke Pangkalan AS di Timur Tengah, Rudal dan Dron Ditembakkan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:28 WIB

Presiden China Xi Jinping Tiba di Korut, Siap Bertemu Pemimpin Negara Asia Timur Kim Jong Un

Senin, 8 Juni 2026 - 11:15 WIB

Gempa M 7.0 Guncang Mindanao Filipina di Hari Pertama Sekolah, Gedung Kampus Runtuh & Peringatan Tsunami Dikeluarkan

Berita Terbaru