Diakuinya, upaya memperjuangkan Kaldera Toba agar bisa masuk dalam jaringan dan peserta UNESCO Global Geopark cukup berat, mulai dari penyiapan dokumen hingga geosite yang terkelola dengan baik oleh masyarakat.
Namun, Wilmar mencermati masih banyak elemen masyarakat termasuk para pejabat publik maupun aparatur sipil negara (ASN) di tujuh kabupaten se kawasan Danau Toba belum memahami fungsi dan manfaat Geopark Kaldera Toba secara utuh disebabkan minimnya sosialisasi dan edukasi.
Disebutkannya, fungsi geopark adalah untuk perlindungan keunikan situs geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang terdapat dalam satu kawasan, termasuk untuk penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kemudian fungsi pariwisata dengan penekanan pada geowisata, wisata alam, wisata minat khusus, dan ekowisata untuk perkembangan ekonomi secara berkelanjutan.
Dampak minimnya sosialisasi tersebut, lanjutnya, tidak mengherankan jika muncul persepsi di sebagian kalangan masyarakat yang menganggap setelah Kaldera Toba masuk dalam kepesertaan UGG, maka selanjutnya badan dunia yang mengurusi pendidikan dan budaya itu akan menggelontorkan dana setiap tahun.
“UNESCO sama sekali tidak ada menggelontorkan dana berkaitan dengan penetapan status Kaldera Toba sebagai geopark,” ucap Wilmar yang juga Koordinator Divisi Education, Research and Developmen BP-TCUGG.
Terbuka luas
Kepala Bidang Kelembagaan dan UKM Dinas Koperasi Provinsi Sumut, Unggul Sitanggang dalam forum dialog interaktif tersebut, menyatakan dirinya optimis penetapan status Kaldera Toba sebagai geopark akan membuat peluang bagi pengembangan perekonomian masyarakat lokal lebih terbuka luas.
Karena itu, Unggul Sitanggang yang berasal dari Kabupaten Samosir mengajak segenap elemen masyarakat kawasan Danau Toba untuk bahu membahu bersama instansi pemerintah terkait dan stakeholders agar ikut berkontribusi mempertahankan status Geopark Kaldera Toba secara berkesinambungan.
“Status Geopark Kaldera Toba harus kita pertahankan karena sangat efektif membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk promosi budaya, pemasaran produk lokal serta penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas,” paparnya.
Ia menambahkan, pengembangan Geopark Kaldera Toba sebagai destinasi pariwisata selain ditujukan untuk mendorong upaya konservasi keragaman geologi, keanekaragaman hayati dan budaya, juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
“Apabila kawasan Danau Toba ramai dikunjungi wisatawan, tentu UMKM yang ada di wilayah itu bisa berkembang,” tuturnya.
Dinas Koperasi dan UMKM Sumut, kata Unggul, akan terus memberdayakan kapasitas pelaku usaha di kawasan Danau Toba agar daya jual produk dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) itu meningkat. D|Red-04