Wilmar Simandjorang Berjuang Selamatkan Danau Toba: ‘Ini Bukan Sekadar Lingkungan, Ini Budaya!'”

Wilmar Simandjorang memilih hidup Di Kawasan Danau Toba (Foto:Ist)

Kerusakan Danau Toba, katanya, juga dari kawasan hulu yang berupa hutan dan daerah tangkapan air. Kondisi ini berkontribusi terhadap memburuknya kualitas di hilir.

“Hutannya ditebang, legal dan ilegal. Biodiversitas terbakar. Air hujan jadi tidak tertahan. Runoff turun bawa abu, sampah, pestisida, masuk ke danau,” katanya.

Pemandangan danau yang biru pun kerap menipu, di bawah permukaannya, kualitas air terus memburuk. Masih terang dalam ingatannya saat pulang kampung dulu dan sejawatnya di kampus memintanya bawa air Danau Toba untuk mereka minum.

Bacaan Lainnya

“Sekarang? Masak nasi pakai air ini saja sudah bau. Sudah tidak bisa lagi.”

Saat musim hujan, runoff dari lahan terbakar dan limbah domestik di hulu akan langsung mengalir ke danau dan memperparah pencemaran. Belum lagi dengan beban dari keramba jaring apung yang melebihi kapasitas, limbah hotel, bengkel, rumah sakit dan rumah tangga yang langsung mengalir ke danau tanpa pengolahan.

Baginya, tahun 2025 jadi yang paling memprihatinkan. Kebakaran di kawasan danau purba ini terjadi nyaris tanpa jeda sejak Mei. Pengamatannya, lebih dari 80% perbukitan sekitar danau terbakar.

Api menyebar cepat di areal perbukitan kawasan Kabupaten Samosir, Toba, Dairi, Karo, hingga Humbang Hasundutan. Bahkan seorang petani kabarnya meninggal karena terjebak kobaran api di Humbahas.

“Kebakaran ini disengaja, tapi tidak pernah ada penindakan. Ini bukan bencana alam, ini makar lingkungan,” katanya.

Kebakaran itu turut melahap tiga lahan konservasi pribadinya yang ia rawat selama 10 tahun. Total, 16 hektar lahannya di Geosite Pusuk Buhit terbakar dalam semalam.

“Saya tidak tahu lagi bagaimana. Tanah yang saya hijaukan, yang mulai berhasil, hilang begitu saja. Tidak ada pelaku yang ditangkap. Saya lapor ke polisi, tidak ada respons. Saya akhirnya give up.”

Meski kecewa, Wilmar tidak menyerah. Dia percaya ada jalan perbaikan. Solusi konservasi yang dia yakini bukan berasal dari pemerintah dan kerap terdengar indah dalam seminar atau rapat pejabat. Melainkan penyelamatan datang dari tanah, lumpur, dan interaksi manusia dengan alam secara langsung.

“Yang saya percaya itu konservasi yang dilakukan oleh orang yang turun ke lapangan.”

Langkah awal yang dia anggap paling mendesak ialah penghentian total pembakaran lahan. Praktik ini, meskipun untuk membuka lahan pertanian, menurutnya harus masuk kategori tindak pidana lingkungan.

Dia heran nyaris tidak ada penangkapan pelaku pembakaran atau proses yang serius.

“Kalau polisi tidak bisa menangkap pelaku pembakaran, bagaimana mungkin masyarakat akan takut? Mereka justru berpikir membakar itu sah-sah saja.”

Selanjutnya, dia mendorong pemulihan kawasan hulu yang sudah hampir telanjang karena deforestasi. Bukan asal menanam pohon, tapi menggunakan agroforestri yang melibatkan masyarakat sebagai subjek utama.

Menurut dia, masyarakat lokal harus terlibat sejak awal, dari perencanaan, penanaman, hingga perawatan dan panen hasil hutan.

“Kalau petani hanya jadi buruh tanam lalu ditinggal, mereka tidak merasa memiliki. Kalau mereka ikut dari awal dan hasilnya untuk mereka juga, maka mereka akan jaga. Itu namanya pemberdayaan.”

Di hilir, dia mengkritik keberadaan keramba jaring apung. Menurutnya, metode budidaya ini jadi salah satu penyebab utama pencemaran air Danau Toba. Sisa pakan ikan yang tenggelam ke dasar danau menciptakan lapisan lumpur beracun yang membunuh organisme air dan merusak ekosistem.

“Pelet-pelet itu membawa senyawa kimia, dalam jangka panjang, air kita bukan hanya keruh, tapi beracun. Keramba harus dikendalikan, kalau bisa dihentikan.”

Selain itu, pencemaran juga hadir dari limbah rumah tangga, hotel, bengkel, hingga rumah sakit yang mengalir ke danau. Harusnya, semua pelaku usaha dan instansi wajib memiliki sistem pengelolaan limbah.

Tak boleh lagi ada kebiasaan membuang ke danau seolah air danau bisa menerima segalanya.

“Danau ini bukan septic tank. Air ini sakral, bukan tempat sampah, tapi hari ini, lihat saja, limbah dari mana-mana langsung mengalir ke danau tanpa penyaringan.”

Tidak lupa, lanjutnya, upaya pemulihan melibatkan generasi muda. Langkah ini sering terlupakan. Padahal, pendidikan lingkungan sejak dini bisa menumbuhkan generasi yang cinta dan hormat terhadap alam.

Jika sejak sekolah dasar anak-anak ke hutan, memperoleh ajaran memelihara pohon, mengenali burung, air, dan tanah, mereka tidak akan merusaknya di masa depan.

“Tapi kalau sejak kecil diajarkan membakar ilalang, ya begitulah jadinya.”

Mimpi besarnya, menjadikan lahan rusak di kawasan Tele sebagai Kebun Raya Toba. Tempat itu bukan hanya jadi pusat konservasi, tapi juga edukasi dan pariwisata berbasis ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan ini, dia sudah berkoordinasi dengan BRIN dengan jadikan kawasan itu pusat riset, edukasi, dan wisata konservatif, meski jalannya masih panjang.

Sehingga, ketika orang datang ke Toba, bukan hanya selfie di patung, tapi belajar tentang hutan dan air. Sehingga kunjungan mereka bisa edukatif.

“Bisa kok kita ubah kehancuran ini jadi harapan. Tapi butuh niat, ilmu, dan cinta.”

Pendiri Pusat Studi Geopark Danau Toba ini mengaku lelah tetapi masih punya tanggung jawab yang belum tuntas.

Dia masih ingin terus berkarya menjaga Danau Toba. Hingga, ketika waktunya Tuhan panggil pulang, dia bisa menjawab apa saja yang dia kerjakan untuk tanah kelahirannya itu.

“Saya harus jawab nanti ke Tuhan, apa yang saya perbuat untuk tanah kelahiran saya?” D|Red.

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

 

Pos terkait