Dr. Iswadi: Momentum untuk Ketahanan Pangan Jangka Panjang

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prabowo Umumkan Indonesia Resmi Swasembada Pangan 2025 di Panen Raya Karawang. Foto: Ist.

Prabowo Umumkan Indonesia Resmi Swasembada Pangan 2025 di Panen Raya Karawang. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Akademisi dan pengamat kebijakan publik, Dr. Iswadi, memberikan penilaian tinggi terhadap pencapaian swasembada pangan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ini adalah prestasi yang sangat cepat, strategis, dan bersejarah, menandai tonggak penting dalam perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian pangan nasional.

 

Dr. Iswadi Ungkap Keberhasilan Strategis di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo, Momentum Kemandirian Nasional

Dr. Iswadi menyatakan bahwa sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo, agenda swasembada pangan telah diprioritaskan sebagai fokus utama pembangunan nasional. Presiden secara langsung mengonsolidasikan berbagai kementerian dan lembaga, terutama Kementerian Pertanian, dengan dukungan lintas sektor termasuk TNI dan Polri, untuk memastikan program peningkatan produksi pangan berjalan secara terkoordinasi dan masif.

“Langkah Presiden Prabowo sangat tegas dan sistematis. Beliau tidak hanya membuat target, tetapi juga mengawal pelaksanaannya di lapangan. Inilah yang membuat capaian swasembada pangan bisa terwujud jauh lebih cepat dari perkiraan,” ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya yang dikutip dari akun Facebook Setkab RI, 9 Januari 2026.

Menurutnya, pencapaian ini luar biasa karena Indonesia mampu mendekati, bahkan mencapai, kondisi swasembada pangan hanya dalam kurun waktu satu tahun. Padahal, target awal yang dicanangkan Presiden Prabowo adalah empat tahun. Percepatan ini dinilai sebagai bukti efektivitas kebijakan, kepemimpinan yang kuat, serta sinergi antarinstansi negara.

 

Baca Juga: https://mediadelegasi.id/huntap-untuk-sumut-bobby-fokus-data-akurat/

Dr. Iswadi menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar soal meningkatkan angka produksi, melainkan menyangkut kedaulatan bangsa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Indonesia, negara dinilai mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan utama rakyatnya tanpa ketergantungan signifikan pada impor.

BACA JUGA:  Prabowo Pimpin Ratas Penanganan Bencana, Minta Selalu Siap Hadapi Ancaman Alam

“Swasembada pangan adalah simbol kemandirian nasional. Ketika pangan bisa dipenuhi dari dalam negeri, maka posisi Indonesia dalam percaturan global menjadi jauh lebih kuat,” katanya.

Secara konseptual, swasembada pangan merupakan kondisi di mana suatu negara atau wilayah mampu memproduksi seluruh kebutuhan pangan penduduknya secara mandiri. Ketergantungan pada impor pangan mengandung risiko besar, terutama ketika terjadi krisis global, konflik geopolitik, perubahan iklim ekstrem, atau gangguan rantai pasok internasional.

Sejarah menunjukkan bahwa pangan memiliki kaitan erat dengan stabilitas sosial dan politik. Kelangkaan pangan dan lonjakan harga bahan pokok sering kali menjadi pemicu keresahan sosial, protes massal, hingga instabilitas politik di berbagai negara.

“Oleh karena itu, swasembada pangan bukan hanya isu ekonomi atau pertanian, tetapi juga isu keamanan nasional. Negara yang tidak mampu menjamin pangan rakyatnya berada dalam posisi yang sangat rentan,” jelasnya.

Dari sisi sosial ekonomi, swasembada pangan membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani lokal. Peningkatan produksi dalam negeri mendorong penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, memperbaiki pendapatan petani, serta menghidupkan ekonomi pedesaan. Dr. Iswadi menyoroti bahwa keberpihakan pemerintah terhadap petani menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini.

BACA JUGA:  DJP Digeledah KPK, Menkeu: Proses Hukum Harus Dihormati

“Ketika petani diberi kepastian pasar, dukungan sarana produksi, infrastruktur irigasi, serta perlindungan harga, maka mereka akan menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Dr. Iswadi juga menyoroti capaian produksi beras nasional yang dinilai sangat signifikan. Indonesia saat ini telah mencapai swasembada beras dengan produksi nasional yang diproyeksikan menembus 34,77 juta ton gabah kering giling (GKG) pada akhir 2025. Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 286 juta penduduk Indonesia.

Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan pangan nasional mulai bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Namun demikian, tantangan ke depan tetap besar, terutama terkait perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan modernisasi sektor pertanian.

“Swasembada pangan harus dijaga dan diperkuat. Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa keberhasilan ini tidak bersifat sementara, tetapi menjadi fondasi jangka panjang bagi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Dr. Iswadi menilai bahwa capaian swasembada pangan di era Presiden Prabowo merupakan momentum penting untuk membangun kepercayaan diri bangsa. Ia berharap keberhasilan ini dapat menjadi warisan kebijakan strategis yang terus dilanjutkan dan disempurnakan demi masa depan Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat.

“Ini bukan sekadar keberhasilan pemerintahan, tetapi keberhasilan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.

Satu tanggapan untuk “Dr. Iswadi: Momentum untuk Ketahanan Pangan Jangka Panjang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Siswi Keracunan MBG Hilang Ingatan di Karo Serius, DPR Desak Audit Total SPPG
Amnesty Internasional Desak Program MBG Dihentikan Usai Siswi di Karo Hilang Ingatan
1.279 Personel Gabungan Disiagakan Tangani Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Agum Gumelar: Indonesia Tersendat Jadi Bangsa Besar karena Terlalu Banyak Kegaduhan Sendiri
Puan Maharani Minta Selidiki Dugaan Alih Fungsi Lahan Bekas Karhutla Jadi Kebun Sawit
Silmy Karim Ajukan Praperadilan, Gugat Penyitaan Aset Rp150 Miliar oleh KPK
Saksi Ungkap Tak Ada Larangan Pegawai BGN Bangun Dapur MBG, Lodewyk Ajukan Praperadilan Ketiga
Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Terborgol dan Berrompi Tahanan untuk Diperiksa
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 11:20 WIB

Amnesty Internasional Desak Program MBG Dihentikan Usai Siswi di Karo Hilang Ingatan

Selasa, 8 September 2026 - 16:51 WIB

1.279 Personel Gabungan Disiagakan Tangani Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Selasa, 8 September 2026 - 15:29 WIB

Agum Gumelar: Indonesia Tersendat Jadi Bangsa Besar karena Terlalu Banyak Kegaduhan Sendiri

Selasa, 8 September 2026 - 15:15 WIB

Puan Maharani Minta Selidiki Dugaan Alih Fungsi Lahan Bekas Karhutla Jadi Kebun Sawit

Selasa, 8 September 2026 - 14:24 WIB

Silmy Karim Ajukan Praperadilan, Gugat Penyitaan Aset Rp150 Miliar oleh KPK

Berita Terbaru

Kabupaten Labuhan Batu Utara

Pasar Rakyat dan Berobat Gratis Agrinas Palma Nusantara Diserbu Warga Labura

Rabu, 9 Sep 2026 - 21:48 WIB