Selat Hormuz Dibuka: Napas Lega bagi Pasar Energi

Selat Hormuz Dibuka
Iran resmi membuka kembali akses penuh Selat Hormuz bagi kapal komersial. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Harga minyak dunia akhirnya mengalami koreksi tajam setelah Selat Hormuz dibuka pemerintah Iran secara resmi sehingga membuka kembali akses penuh di Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial pada Jumat (17/4). Keputusan krusial ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa jalur perairan paling strategis di dunia tersebut akan beroperasi normal hingga masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat berakhir pada pekan depan. Langkah ini diambil di tengah tensi tinggi yang sempat melumpuhkan arus logistik energi global selama lebih dari sebulan terakhir.

Sentimen Positif Pasar Setelah Selat Hormuz Dibuka

Reaksi pasar terhadap pengumuman Selat Hormuz Dibuka berlangsung seketika. Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi tolok ukur global, sempat merosot ke angka 88 dolar AS per barel sebelum akhirnya stabil di posisi 92 dolar AS. Penurunan ini merupakan angka yang signifikan mengingat beberapa jam sebelum pengumuman, harga masih bertengger di level 98 dolar AS. Meski mulai melandai, harga saat ini sejatinya masih jauh di atas rata-rata normal sebelum konflik pecah, di mana Brent biasanya diperdagangkan di bawah kisaran 70 dolar AS.

Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital karena merupakan jalur utama bagi sepertiga pengiriman minyak mentah melalui laut di seluruh dunia. Sejak awal Maret, Iran melakukan blokade ketat sebagai respons atas agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Penutupan akses ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan rantai pasok energi global, menyebabkan kelangkaan stok di berbagai negara, dan memicu spekulasi harga yang liar di bursa komoditas internasional.

Bacaan Lainnya

Puncak krisis terjadi pada pertengahan Maret lalu, di mana harga Brent mencatatkan rekor mengerikan dengan menembus angka 119 dolar AS per barel. Lonjakan drastis ini melampaui prediksi banyak analis ekonomi dan menempatkan dunia di ambang krisis energi sistemik. Ketidakpastian mengenai durasi konflik dan risiko kerusakan infrastruktur minyak di Teluk Persia menjadi bahan bakar utama bagi melambungnya harga komoditas “emas hitam” tersebut selama berminggu-minggu.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons positif langkah Teheran dengan menyebut pembukaan selat ini sebagai “hari yang luar biasa bagi dunia.” Pernyataan ini mencerminkan ambisi Washington untuk meredam inflasi domestik yang dipicu oleh tingginya harga bahan bakar. Di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, kenaikan harga minyak telah menyebabkan harga bensin dan solar di tingkat pompa bensin melonjak hingga mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dampak dari blokade ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi, tetapi juga memukul sektor industri transportasi secara masif. Kelangkaan pasokan menyebabkan harga avtur atau bahan bakar mesin jet meroket hingga 80 persen. Kondisi ini memaksa banyak maskapai penerbangan internasional membatalkan jadwal penerbangan atau menaikkan harga tiket secara tidak masuk akal, yang pada akhirnya mengganggu mobilitas manusia dan arus barang secara global.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/erupsi-beruntun-gunung-semeru-muntahkan-abu-vulkanik-pekat/

Meskipun pembukaan ini memberikan sentimen positif, Iran tetap memberikan peringatan keras bahwa pelonggaran di Selat Hormuz bersifat sementara dan bersyarat. Teheran menekankan bahwa status jalur perairan tersebut sangat bergantung pada kepatuhan Amerika Serikat terhadap kesepakatan gencatan senjata. Jika ketegangan militer kembali memanas setelah pekan depan, tidak menutup kemungkinan Iran akan kembali mengunci akses selat tersebut sebagai instrumen pertahanan dan tekanan ekonomi.

Pos terkait