Prabowo Panggil KSSK dan Menteri Ekonomi, Rupiah Tembus Rp17.400

- Penulis

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional masih baik dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen, namun perbaikan nilai tukar rupiah merupakan wewenang dan tugas Bank Indonesia. Foto: Ist.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional masih baik dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen, namun perbaikan nilai tukar rupiah merupakan wewenang dan tugas Bank Indonesia. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Presiden Prabowo Subianto panggil sejumlah anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta para menteri ekonomi ke Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/5/2026). Pertemuan ini berlangsung di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu. Selain itu, tampak juga hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Saat ditemui awak media usai memasuki area istana, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum mengetahui secara pasti isu spesifik apa yang akan dibahas dalam pertemuan bersama Presiden.

Ketika ditanya terkait kondisi rupiah yang melemah, Purbaya enggan berkomentar banyak dan mengalihkan penjelasan kepada otoritas moneter.

“Tanya BI lah. Kalau kita apa? (Pertumbuhan ekonomi) 5,61 persen,” ujar Purbaya singkat kepada wartawan.

Menurutnya, dengan fondasi ekonomi nasional yang dinilai masih baik dan pertumbuhan yang solid, perbaikan nilai tukar sebenarnya tidak terlalu sulit dilakukan. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan ranah wewenang dan tugas utama Bank Indonesia.

BACA JUGA:  Prabowo Ungkap Temuan Logam Tanah Jarang Senilai Rp128 Triliun di Tambang Ilegal Bangka Belitung

“Kalau saya pikir begini, dengan fondasi ekonomi yang bagus, nggak terlalu sulit memperbaiki nilai tukar. Tapi itu bukan kerjaan saya, kerjaan Bank Sentral. Nanti Bank Sentral akan menjelaskan gimana cara memperbaikinya,” tambahnya.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga terlihat enggan memberikan detail pembahasan. Saat ditanya apakah rapat akan membahas melemahnya rupiah, ia hanya menjawab singkat dan meminta untuk menunggu informasi resmi nantinya.

“Nanti ada beberapa yang dibahas tadi sudah kita bahas. Nanti aja,” ucap Airlangga.

Selain jajaran KSSK, pertemuan ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Di antaranya Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, hingga Menteri Investasi Rosan Roeslani.

Hadir pula sejumlah tokoh ekonomi lainnya seperti mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dan mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, yang turut melengkapi forum diskusi tersebut.

BACA JUGA:  Kasasi Google Ditolak MA Terkait Denda Monopoli

Kondisi ini terjadi menyusul pelemahan rupiah yang terjadi pada Selasa pagi. Mata uang Indonesia tercatat melemah 11 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Para analis menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama memanasnya kembali eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang membuat investor cenderung mencari aset aman.

Situasi geopolitik semakin rumit setelah beredar kabar mengenai serangan terhadap wilayah Uni Emirat Arab (UEA), meskipun pihak Iran membantah telah melakukan serangan tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) juga mengumumkan peluncuran operasi militer baru bernama ‘Project Freedom’ di Selat Hormuz yang melibatkan ribuan personel, kapal perang, dan pesawat tempur. Ketegangan global ini diperkirakan akan terus memberikan pengaruh terhadap pergerakan mata uang dan pasar keuangan dunia dalam waktu dekat. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PT Inalum Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi di Tahun 2025
Berkas Perkara Setinggi 1 Meter, Kuasa Hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa Sebut Kasus Bisa Diselesaikan Secara Sederhana
Polda Metro Jaya Sebut Ada Upaya Penghambat Penyidikan Kasus Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi
Roy Suryo dan Dokter Tifa Tolak Berdamai dalam Kasus Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi
Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3, Sasar 20.000 Peserta
Polda Kalsel Gagalkan Peredaran 128 Kg Sabu, Lima Tersangka Diamankan
Polres Lhokseumawe Musnahkan Ladang Ganja Seluas 2 Hektare, Dua Tersangka Diamankan
Sengkarut Sekolah Rakyat: Desain Dikebut, Anggaran Macet, dan Jeritan Arsitek yang Belum Dibayar
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 19:04 WIB

PT Inalum Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi di Tahun 2025

Senin, 22 Juni 2026 - 15:47 WIB

Berkas Perkara Setinggi 1 Meter, Kuasa Hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa Sebut Kasus Bisa Diselesaikan Secara Sederhana

Senin, 22 Juni 2026 - 15:33 WIB

Polda Metro Jaya Sebut Ada Upaya Penghambat Penyidikan Kasus Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi

Senin, 22 Juni 2026 - 15:20 WIB

Roy Suryo dan Dokter Tifa Tolak Berdamai dalam Kasus Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:36 WIB

Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3, Sasar 20.000 Peserta

Berita Terbaru

Medan

Ruas Jalan Inti Kota Medan Alami Macat Total

Senin, 22 Jun 2026 - 18:50 WIB