Gaza-Mediadelegasi: Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengecam keras serangan militer Israel di Jalur Gaza yang terjadi selama dua hari terakhir, termasuk saat perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.
Hamas menilai serangan tersebut sebagai tindakan brutal yang menargetkan warga sipil dan memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah Gaza.
Dalam pernyataannya, Hamas menyebut aksi militer Israel tidak hanya melanggar kesepakatan gencatan senjata, tetapi juga mencederai suasana hari raya umat Muslim.
Menurut Hamas, peningkatan serangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan Israel ingin kembali melanjutkan operasi militer besar-besaran di Gaza.
Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sebuah apartemen di pusat Kota Gaza pada Rabu malam (27/5/2026). Akibat serangan itu, sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas.
Korban meninggal disebut terdiri dari warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Selain itu, puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan dan reruntuhan bangunan.
Hamas menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati bersama pihak mediator internasional.
Kelompok tersebut juga menuduh Israel mengabaikan berbagai upaya diplomatik yang dilakukan negara-negara mediator untuk menghentikan konflik dan menjaga perdamaian sementara di Gaza.
Dalam keterangannya, Hamas menilai tindakan Israel memperlihatkan keinginan untuk kembali pada pola perang yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.
Situasi keamanan di Gaza sendiri kembali memanas setelah meningkatnya intensitas serangan udara dan operasi militer di sejumlah wilayah padat penduduk.
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata di Gaza ditandatangani di Sharm El Sheikh pada Oktober 2025 melalui mediasi Amerika Serikat, Qatar, Turki, dan Mesir.
Kesepakatan itu dicapai setelah konflik berkepanjangan selama dua tahun yang menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan luka-luka di Jalur Gaza.
Selain menimbulkan korban manusia, perang tersebut juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur sipil, termasuk rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, dan jaringan layanan publik.
Hingga kini, komunitas internasional terus menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil di Gaza di tengah situasi kemanusiaan yang semakin memburuk. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







