Jakarta-Mediadelegasi: Tekanan berat yang menimpa mata uang rupiah akhirnya mencapai titik kritis yang dikhawatirkan pasar. Pada sesi perdagangan Kamis (4/6/2026), nilai tukar rupiah melemah signifikan hingga menembus batas psikologis Rp18.000 per satu dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini sekaligus mencatatkan sejarah baru sebagai level terendah yang pernah disentuh mata uang Garuda sepanjang pencatatan transaksi keuangan di Indonesia.
Pagi itu, pembukaan perdagangan sudah menampilkan sinyal pelemahan. Rupiah tercatat melemah 0,06 persen dan langsung bertengger di angka Rp17.960 per dolar AS. Namun, laju depresiasi berlangsung sangat agresif dan tak terbendung. Pergerakan turun yang cepat ini menunjukkan ketidakpastian dan kecemasan yang tinggi di kalangan pelaku pasar keuangan.
Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit setelah bel perdagangan berbunyi, nilai tukar rupiah terus tergerus tajam. Tepat pada pukul 09.04 WIB, posisinya sudah menyentuh angka Rp17.995 per dolar AS, nyaris menyentuh angka psikologis yang menjadi batas penanda kestabilan ekonomi makro negara. Tekanan jual yang datang secara masif menjadi pemicu utama pergerakan ini.
Puncaknya terjadi pada pukul 09.16 WIB, ketika rupiah secara resmi menembus level Rp18.000 per dolar AS. Angka ini menjadi rekor baru yang memprihatinkan. Tekanan belum berhenti di situ; hingga pukul 09.46 WIB, nilai tukar masih terkoreksi turun sedalam 0,35 persen ke posisi Rp18.029 per dolar AS, mempertegas betapa kuatnya arus keluar modal yang terjadi.
Melihat kondisi pasar keuangan global, indeks nilai tukar dolar AS sebenarnya hanya menguat tipis ke level 99,44 pada pukul 09.01 WIB. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru tercatat turun sebesar 1,07 persen ke angka 96,76 dolar AS per barel. Kendati demikian, kedua indikator tersebut dinilai masih berada di level yang cukup tinggi dan berisiko membebani neraca keuangan Indonesia.
Posisi harga komoditas dan kekuatan dolar yang masih tinggi dikhawatirkan akan memperlebar defisit neraca transaksi berjalan, sekaligus memberi tekanan tambahan pada defisit anggaran pendapatan dan belanja negara. Hal ini membuat beban ekonomi makro semakin berat dan menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha maupun investor.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah hari ini merupakan hasil gabungan dari sentimen eksternal dan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Ia menilai tidak ada satu faktor tunggal yang bertanggung jawab, melainkan akumulasi risiko yang datang dari berbagai arah sekaligus.
Menurut proyeksi Ibrahim, untuk sisa sesi perdagangan hari ini, rupiah diprediksi akan terus bergerak sangat fluktuatif. Rentang pergerakan diperkirakan berada di antara Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS. Tingkat volatilitas yang tinggi ini menandakan bahwa pasar masih berupaya mencari keseimbangan di tengah tekanan yang berat.
Dari sisi eksternal, pemicu utama kegelisahan pasar adalah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik militer kian meruncing setelah tentara Israel memperpanjang operasi tempurnya di wilayah Lebanon selatan, yang kemudian dibalas oleh Iran melalui peluncuran rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain.
“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ungkap Ibrahim. Ketidakpastian penyelesaian konflik ini membuat investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.
Sementara itu, dari sisi dalam negeri, daya tarik rupiah di mata investor ikut menurun merespons rilis data inflasi terbaru. Pada periode Mei 2026, angka inflasi Indonesia tercatat melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan April 2026 yang hanya mencapai 0,13 persen.
Meski tekanan nilai tukar dan kenaikan harga terasa berat, terdapat catatan positif dari sektor perdagangan. Neraca perdagangan nasional pada bulan April 2026 masih mencatatkan surplus senilai 89,1 juta dolar AS. Dengan capaian ini, Indonesia sukses mempertahankan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, yang diharapkan menjadi penopang kekuatan ekonomi di tengah gejolak saat ini. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







