KPK Periksa Lagi Eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono: Diduga Minta Fee 10 Persen dari Proyek Pengadaan

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: Ist.

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil dan memeriksa mantan Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Ma’ruf Cahyono, dalam kapasitasnya sebagai tersangka. Pemeriksaan ini menjadi langkah lanjutan untuk memperdalam dugaan penerimaan gratifikasi yang didapatkan dari sejumlah paket pekerjaan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.

Ini bukan kali pertama Ma’ruf menjalani pemeriksaan oleh lembaga antirasuah. Sebelumnya, ia sudah dipanggil dan diperiksa secara intensif pada tanggal 25 Juni 2026 lalu. Kini, penyidik kembali menjemputnya untuk mengonfirmasi sejumlah temuan baru dan keterangan dari saksi yang telah diperiksa sebelumnya guna memperkuat berkas perkara.

Pemeriksaan berlangsung di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan agenda tersebut namun enggan merinci secara terperinci materi apa saja yang akan didalami selama proses berlangsung demi menjaga kerahasiaan penyidikan.

“Pemeriksaan dilakukan di gedung KPK Merah Putih atas nama MRC, pensiunan mantan Sekretaris Jenderal MPR RI,” singkat Budi saat dikonfirmasi awak media pada Kamis siang ini.

BACA JUGA:  InJourney: 18 Bandara Siap Layani Jamaah Calon Haji

Menurut perkembangan penyidikan yang terungkap, dugaan yang paling mencolok adalah bahwa Ma’ruf diduga meminta imbalan atau uang jasa dari setiap proyek pengadaan yang dilaksanakan selama ia menjabat. Besaran permintaan tersebut disebut mencapai angka 10 persen dari total nilai kontrak yang disepakati.

“Permintaan fee tersebut diduga mencapai angka sekitar 10 persen dari nilai paket proyek,” ungkap Budi Prasetyo saat menjelaskan modus operandi dugaan tindak pidana korupsi ini kepada wartawan sehari sebelumnya.

Untuk menguak kebenaran dugaan tersebut, penyidik telah memeriksa seorang saksi dari pihak perusahaan swasta bernama PT Abadi Lestari dengan inisial ADZ pada tanggal 7 Juli 2026 lalu. Saksi ini dianggap memiliki informasi langsung mengenai mekanisme pemberian proyek.

“Pemeriksaan saksi dari pihak swasta ini didalami terkait dengan paket-paket pekerjaan yang dikerjakan. Kemudian, didalami juga keterkaitan dengan dugaan permintaan fee pekerjaan oleh tersangka kepada saksi,” jelas Budi menjelaskan tujuan pemeriksaan saksi tersebut.

Keterangan yang diberikan oleh pengusaha ini diharapkan dapat menjadi bukti penting yang memperkuat rangkaian data yang sudah dikumpulkan tim penyidik. Jika terbukti benar, maka praktik ini telah merugikan efisiensi keuangan negara dan mencederai prinsip persaingan usaha yang sehat.

BACA JUGA:  Pemerintah Lakukan Penataan MBG Selama Sebulan: Atasi Pembengkakan Titik Layanan & Jamin Keamanan Pangan

Selain memeriksa saksi dan tersangka, KPK juga diketahui tengah mendalami rincian nilai total keseluruhan imbalan yang diduga diterima. Dari data awal, nilai dugaan gratifikasi ini diperkirakan mencapai angka yang sangat besar, bahkan disebutkan menyentuh angka Rp17 miliar.

Hingga saat ini, Ma’ruf Cahyono sendiri belum mengakui adanya penerimaan uang haram tersebut. Ia sebelumnya menyatakan dirinya hanya menjalankan tugas sesuai prosedur. Namun, KPK terus melengkapi bukti, mulai dari jejak transaksi hingga dokumen kontrak proyek.

Penyidikan masih terus berjalan secara bertahap. KPK menegaskan akan bekerja teliti hingga semua fakta terungkap. Masyarakat pun menantikan kepastian hukum, apakah bukti yang ada cukup kuat untuk melimpahkan perkara ini ke tahap penuntutan dalam waktu dekat. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

TNI Bantah Isu Datangi Polda Metro Jaya: Pengamanan Rumah Jampidsus Sesuai Aturan, Tak Terkait Kasus Korupsi
Dokter Tifa Sebut Dakwaan Jaksa Salah Objek dan Subyek: Minta Hakim Nyatakan Tak Dapat Diterima
Suasana Ketat di Mabes Polri: Rantis Brimob Bersiaga, Pengusutan Kasus Korupsi Batu Bara hingga Krakatau Steel Berjalan Kencang
Sidang Eksepsi Dokter Tifa: Tak Minta Jokowi Dihukum, Hanya Ingin Keabsahan Ijazah Diuji Terbuka
Kemnaker dan HIPMI Jaya Jalin Kerja Sama: Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Sesuai Kebutuhan Industri
Pengamanan Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah oleh TNI: Dinyatakan Atas Permintaan Kejagung, Terpisah dari Penggeledahan Polri
Penggeledahan Rumah Mewah Sentul: Brankas Tersembunyi Berisi Emas dan Uang Tunai Rp476 Miliar Terkuak Polisi
Usulan Reformasi Pajak JHT: Said Iqbal Temui Menkeu, Minta Pembebasan dan Penyesuaian Aturan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:26 WIB

KPK Periksa Lagi Eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono: Diduga Minta Fee 10 Persen dari Proyek Pengadaan

Kamis, 9 Juli 2026 - 13:58 WIB

TNI Bantah Isu Datangi Polda Metro Jaya: Pengamanan Rumah Jampidsus Sesuai Aturan, Tak Terkait Kasus Korupsi

Kamis, 9 Juli 2026 - 13:48 WIB

Dokter Tifa Sebut Dakwaan Jaksa Salah Objek dan Subyek: Minta Hakim Nyatakan Tak Dapat Diterima

Kamis, 9 Juli 2026 - 13:28 WIB

Suasana Ketat di Mabes Polri: Rantis Brimob Bersiaga, Pengusutan Kasus Korupsi Batu Bara hingga Krakatau Steel Berjalan Kencang

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:12 WIB

Kemnaker dan HIPMI Jaya Jalin Kerja Sama: Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Sesuai Kebutuhan Industri

Berita Terbaru