Sidang Eksepsi Dokter Tifa: Tak Minta Jokowi Dihukum, Hanya Ingin Keabsahan Ijazah Diuji Terbuka

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembacaan eksepsi Dokter Tifa di PN Jaktim pada Kamis (9/7/2026). Foto: Ist.

Pembacaan eksepsi Dokter Tifa di PN Jaktim pada Kamis (9/7/2026). Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Terdakwa dalam perkara dugaan pencemaran nama baik dan fitnah, Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa, kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (9/7/2026). Agenda sidang kali ini adalah pembacaan eksepsi yang diajukan oleh tim pembelanya, yang membawa argumen mendasar terkait arah dan substansi perkara yang sedang diperiksa.

Dalam pembacaan dokumen eksepsi setebal 37 halaman tersebut, kuasa hukum Dokter Tifa, Wirawan Adnan, menegaskan satu hal penting yang ingin meluruskan pandangan publik. Ia menyatakan bahwa pihak pembela tidak pernah memiliki niat atau keinginan untuk menjatuhkan hukuman kepada mantan Presiden ke-7 Joko Widodo.

Wirawan melihat adanya perbedaan sikap yang sangat mencolok dalam penanganan perkara ini. Di satu sisi, sejumlah pihak yang menyatakan mendukung Joko Widodo kerap bersuara lantang menuntut agar Dokter Tifa dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.

“Namun, di sisi lain, perlu kami tegaskan secara jujur dan terbuka di ruang suci ini. Terdakwa maupun para pendukungnya tidak pernah sekalipun menuntut agar Bapak Joko Widodo dihukum,” tegas Wirawan saat menyampaikan pendapatannya di hadapan majelis hakim.

Ia menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh kliennya sesungguhnya sangat sederhana, terukur, dan sepenuhnya sesuai dengan hak konstitusional setiap warga negara. Tidak ada tuntutan balas dendam, melainkan hanya keinginan untuk mendapatkan kejelasan yang transparan.

BACA JUGA:  Bank Indonesia Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 5,75 Persen, Jaga Stabilitas Rupiah dan Inflasi

“Keinginan kami sangat sederhana, sangat terukur dan sangat konstitusional. Kami hanya menuntut satu hal agar keabsahan sebuah ijazah dapat dibuktikan secara terang benderang di hadapan hukum dan pengadilan,” lanjutnya menjelaskan inti dari permasalahan yang diangkat.

Menurut penilaian tim pembela, jalannya persidangan selama ini justru terasa menjauh dari akar persoalan yang memicu perkara ini sejak awal. Alih-alih membahas hal yang menjadi pokok sengketa, proses hukum justru terfokus pada aspek formalitas semata.

“Kita tidak sedang diajak untuk menguji kebenaran materiil dari ijazah yang menjadi pokok persoalan, melainkan kita terjebak dalam labirin penafsiran formalitas perihal pasal-pasal ‘pencemaran nama baik’ dan ‘fitnah’,” kritiknya.

Wirawan menilai bahwa persidangan ini seolah-olah dirancang sedemikian rupa untuk melompati inti masalah. Ia menilai ada upaya untuk tidak membuka fakta sesungguhnya, melainkan langsung mengarah pada pembahasan apakah pernyataan yang disampaikan Dokter Tifa melanggar hukum atau tidak.

“Persidangan ini seolah-olah dirancang untuk melompati substansi dan langsung melompat pada kesimpulan,” tandasnya dengan nada tegas di hadapan sidang.

Lebih lanjut, kuasa hukum tersebut mempertanyakan logika hukum yang digunakan jika akhirnya terdakwa dijatuhi vonis. Bagaimana mungkin seseorang dapat dinyatakan bersalah memfitnah jika objek yang dipersoalkan belum pernah dibuktikan kebenarannya secara terbuka?

BACA JUGA:  Kejati Jakarta Minta Hakim Tolak Praperadilan Dokter Tifa, Tegaskan Pelimpahan Perkara Sah Secara Hukum

“Bagaimana mungkin seseorang dihukum karena dianggap memfitnah atau mencemarkan nama baik atas suatu objek, jika objek itu sendiri yakni kebenaran atau ketidakbenaran ijazah tersebut tidak pernah dibongkar, dibuka, dan dibuktikan secara transparan di dalam sidang?” tanyanya.

Ia menegaskan bahwa pembuktian terhadap hal yang menjadi sumber pertanyaan harus didahulukan. Jika keabsahan dokumen tersebut sudah jelas terbukti, maka barulah dapat dinilai apakah pernyataan yang disampaikan mengandung unsur kesalahan atau tidak.

“Menghukum Terdakwa tanpa membuktikan status hukum ijazah tersebut adalah tindakan yang menolak kebenaran itu sendiri,” ujarnya menekankan posisi hukum yang dipegang oleh tim pembela.

Dalam sidang yang berlangsung itu, terlihat pula kehadiran sejumlah pengamat dan pihak yang mengikuti perkembangan kasus ini. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perkara ini terus menjadi sorotan publik yang menanti kejelasan atas persoalan yang diangkat sejak lama.

Melalui eksepsi ini, tim kuasa hukum berharap majelis hakim mempertimbangkan kembali arah pemeriksaan perkara. Mereka meminta agar pengadilan berani menguji substansi persoalan, sehingga keadilan dan kebenaran dapat terungkap tanpa terhalang oleh prosedur semata. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Bantah Video Jemput Paksa Nusron Wahid: Penyidik Siapkan Panggilan Ulang
Dirjen Imigrasi Pastikan Menteri ATR Nusron Wahid Sudah Kembali ke Indonesia Usai dari Singapura
KPK Surati Panglima TNI Soal Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB yang Libatkan Oknum Prajurit
Tim Advokasi Hadiri Gelar Perkara Bareskrim Polri Terkait Suket Penyetaraan Ijazah Gibran
PDIP Bantah Operasi Politik Ijazah Jokowi: Pembuktian Cukup Tunjukkan Dokumen Asli
KMP Batu Mandi Terbakar di Merak: ASDP Ungkap Kronologi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Tersangka Blackout Batam-Bintan Ditangkap: 4 Petugas PLN dan 1 Kontraktor Jadi Tersangka
Demo di Tugu Tani: Aliansi Mahasiswa Bawa 5 Tuntutan, dari Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:34 WIB

KPK Bantah Video Jemput Paksa Nusron Wahid: Penyidik Siapkan Panggilan Ulang

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Dirjen Imigrasi Pastikan Menteri ATR Nusron Wahid Sudah Kembali ke Indonesia Usai dari Singapura

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:10 WIB

KPK Surati Panglima TNI Soal Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB yang Libatkan Oknum Prajurit

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Tim Advokasi Hadiri Gelar Perkara Bareskrim Polri Terkait Suket Penyetaraan Ijazah Gibran

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:34 WIB

PDIP Bantah Operasi Politik Ijazah Jokowi: Pembuktian Cukup Tunjukkan Dokumen Asli

Berita Terbaru

Asisten Pengawasan (Aswas) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Agung Ardiyanto,SH.,MH. Foto: Ist.

Sumatera Utara

Aswas Kejati Sumut Tegaskan Kedisiplinan Pegawai Saat Apel Pagi

Jumat, 23 Okt 2026 - 11:08 WIB