Denhaag-Mediadelegasi: Ratko Mladic, jenderal asal Serbia yang menjadi otak utama pembantaian warga Muslim Bosnia pada masa perang Yugoslavia awal 1990-an, meninggal dunia saat menjalani hukuman penjara seumur hidup. Kematiannya diumumkan pada Kamis (27/8/2026) di usia 84 tahun, di Unit Penahanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Den Haag, Belanda.
Dikenal luas dengan sebutan “Tukang Jagal Bosnia”, Mladic dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) atas sejumlah tuduhan berat, mulai dari perencanaan pembersihan etnis terhadap penduduk non-Serbia di Bosnia, genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, penganiayaan, pemusnahan, pembunuhan, hingga serangan ilegal terhadap warga sipil.
Hakim ICTY saat menjatuhkan vonis, Fouad Riad, menggambarkan tindakan-tindakan kejam yang dilakukan di bawah perintah Mladic sebagai kekejaman yang tak terbayangkan. Dua peristiwa yang paling mencoreng nama buruk Mladic sekaligus menjadi simbol teror yang ia timpakan atas rakyat Bosnia adalah pengepungan kota Sarajevo dan pembantaian warga Srebrenica.
Pada tahun 1992, pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Mladic mengepung ibu kota Sarajevo dari dataran tinggi yang mengelilingi kota. Penduduk dikurung di dalam lembah kota selama lebih dari dua tahun tanpa bantuan yang memadai, sementara setiap hari dilancarkan serangan artileri dan tembakan penembak jitu yang menyasar warga sipil. Lebih dari 10.000 orang tewas, termasuk banyak anak-anak yang menjadi korban tak berdosa.
Kekejaman memuncak pada Juli 1995, ketika Mladic memimpin langsung serangan terhadap kawasan Srebrenica yang telah ditetapkan PBB sebagai “zona aman”. Di bawah pengawasan bendera PBB yang seharusnya melindungi, pasukan Serbia justru membantai lebih dari 8.000 warga Muslim laki-laki dan anak-anak dalam waktu singkat. Peristiwa ini tercatat sebagai pembantaian terburuk di benua Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Pengacara Mladic, Dragan Ivetic, mengonfirmasi bahwa kliennya meninggal dunia saat menjalani hukuman seumur hidup. Selama lebih dari 15 tahun terakhir, Mladic menghabiskan sisa hidupnya di balik tahanan PBB di Den Haag. Ia sempat beberapa kali mengajukan banding dan permohonan pembebasan dengan alasan kesehatan yang menurun, namun semuanya ditolak oleh pengadilan.
Permohonan pembebasan terakhir justru diajukan tim pengacaranya pada pekan sebelum kematiannya. Dokter yang memeriksa menyebut kondisi kesehatan Mladic menurun drastis dan secara medis ia dapat meninggal sewaktu-waktu. Pengajuan atas dasar kemanusiaan tersebut pun kembali ditolak, dan Mladic akhirnya meninggal dunia dalam status narapidana seumur hidup.
Ratko Mladic lahir pada 12 Maret 1942 di wilayah Kalinovik yang saat itu masih merupakan bagian dari Yugoslavia. Tumbuh di masa puncak Perang Dunia II, masa kecilnya kelam karena ayahnya, Nedja Mladic, tewas dibunuh oleh kelompok fasis Ustasha Kroasia yang bersekutu dengan rezim pendudukan Nazi dan Italia.
Pengalaman masa lalu itu kemudian membentuk pandangan hidup dan jalan yang ia tempuh. Mladic melanjutkan pendidikan di akademi militer Tentara Rakyat Yugoslavia di Beograd dan lulus pada tahun 1965. Ia kemudian bergabung dengan Partai Komunis dan membangun karier sebagai perwira militer profesional yang disiplin dan tegas.
Ketika negara Yugoslavia mulai terpecah belah, Mladic dipercaya menjabat sebagai Komandan Staf Umum Angkatan Darat Republik Serbia di Bosnia, wilayah yang memisahkan diri dari Bosnia dan Herzegovina. Dari posisi inilah ia mengerahkan seluruh kekuatan militer untuk melancarkan aksi pembersihan etnis yang menelan ratusan ribu korban jiwa.
Sebagai panglima tertinggi di lapangan, Mladic menjadi otak sekaligus pengambil keputusan utama di balik segala tindakan biadab yang dilakukan pasukannya. Ia memerintahkan pembunuhan massal tanpa pandang bulu, mendeportasi, serta mengusir secara paksa penduduk sipil Muslim dan Kroasia dari wilayah yang dikuasai pasukan Serbia.
Kini, sosok yang menjadi simbol kejahatan perang paling kejam di Eropa modern telah meninggal dunia. Meski ia telah meninggal dan tidak lagi dapat dihukum lebih lanjut, ribuan keluarga korban pengepungan Sarajevo dan pembantaian Srebrenica terus menuntut keadilan dan kebenaran agar peristiwa kelam itu tidak pernah terulang kembali. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan







