Praha-Mediadelegasi: Tepat pada 24 Agustus 2006, status Pluto sebagai planet kesembilan dalam sistem Tata Surya resmi dicabut. Keputusan bersejarah ini diambil oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU) dalam sidang yang berlangsung di Praha, Republik Ceko, setelah melalui perdebatan sengit selama sepekan penuh di antara para ilmuwan dari berbagai negara. Keputusan ini pun langsung tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam.
Sebelum keputusan itu ditetapkan, para astronom telah memperdebatkan sejumlah usulan mengenai definisi resmi sebuah planet. Salah satu usulan yang sempat diajukan bahkan mengusulkan untuk tetap mempertahankan Pluto sebagai planet sekaligus menambahkan Ceres dan Charon sebagai planet baru dalam jajaran tata surya. Namun, usulan tersebut akhirnya tidak memperoleh kesepakatan mayoritas.
Dalam keputusan akhir yang disepakati, IAU menetapkan tiga syarat utama agar sebuah benda langit dapat disebut sebagai planet. Pertama, harus mengorbit Matahari secara langsung. Kedua, memiliki massa cukup besar sehingga gaya gravitasinya membuat bentuknya hampir bulat atau mendekati bulat. Ketiga, harus mampu membersihkan lingkungan orbitnya dari benda-benda lain dan puing-puing antariksa.
Pluto ternyata hanya memenuhi dua syarat pertama. Ia memang mengorbit Matahari dan memiliki bentuk yang nyaris bulat. Namun Pluto gagal memenuhi syarat ketiga karena wilayah orbitnya berbagi dengan sejumlah objek lain di kawasan Sabuk Kuiper, sehingga tidak dianggap telah membersihkan jalurnya dari benda-benda lain.
Karena alasan tersebut, Pluto pun secara resmi diklasifikasikan ke dalam kategori baru: planet kerdil. Dua tahun setelah keputusan itu, IAU kembali memperkenalkan istilah khusus “plutoid” untuk menyebut planet-planet kerdil yang berada di luar orbit Neptunus. Nama itu diambil dari gabungan kata Pluto dan Eris, salah satu planet kerdil terdekat yang ditemukan di wilayah tersebut.
Keputusan tersebut ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik oleh kalangan ilmuwan. Sejumlah astronom mempertanyakan proses pengambilan keputusan, terutama rendahnya jumlah partisipan yang ikut memberikan suara. Dari sekitar 10.000 astronom profesional di seluruh dunia, hanya 424 orang yang akhirnya memberikan suara dalam pemungutan itu.
Seorang astronom bahkan secara terbuka menyoroti ketidakkonsistenan aturan tersebut. Ia mencontohkan bahwa planet-planet seperti Bumi, Mars, Jupiter, dan Neptunus ternyata juga memiliki asteroid-asteroid kecil di sekitar jalur orbitnya. Hal ini memicu perdebatan apakah syarat ketiga yang ditetapkan IAU itu benar-benar adil dan konsisten diterapkan.
“Saya malu terhadap dunia astronomi,” ujar salah satu ilmuwan yang tidak setuju dengan keputusan itu, seraya mengkritik rendahnya tingkat partisipasi dalam pemungutan suara yang dianggap menentukan nasib Pluto secara global. Keterbatasan jumlah pemilih itu dinilai tidak mewakili pendapat seluruh komunitas astronomi dunia.
Meski menuai pro dan kontra yang tajam, keputusan IAU pada 24 Agustus 2006 itu kini menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan astronomi modern. Penurunan status Pluto bahkan berdampak meluas hingga ke budaya populer di seluruh dunia, bukan sekadar menjadi pembahasan di kalangan ilmuwan saja.
Pada tahun yang sama, American Dialect Society memilih kata “plutoed” sebagai Kata Terbaik Tahun Ini. Istilah itu kemudian dimaknai sebagai tindakan menurunkan status atau mengurangi nilai seseorang maupun sesuatu, diambil langsung dari perubahan nasib Pluto yang tiba-tiba kehilangan gelarnya sebagai planet.
Presiden organisasi tersebut menyatakan bahwa reaksi emosional masyarakat luas terhadap perubahan status Pluto menunjukkan betapa kuatnya posisi benda langit itu dalam ingatan dan kesukaan publik selama puluhan tahun sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1930 lalu.
Bahkan sejumlah badan legislatif negara bagian di Amerika Serikat menetapkan tanggal 13 Maret sebagai Hari Pluto, sebagai bentuk penghormatan sekaligus protes terhadap keputusan yang dianggap merugikan Pluto. Hingga kini, perdebatan apakah Pluto layak kembali disebut planet masih terus berlanjut di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan







