24 Agustus 2006: Pluto Resmi Dihapus dari Daftar Planet Tata Surya, Sejarah yang Masih Memicu Perdebatan

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampilan permukaan Pluto yang memperlihatkan bentang alam berwarna putih kemerahan khas benda langit tersebut. Sejak 24 Agustus 2006, IAU resmi mencabut statusnya sebagai planet kesembilan Tata Surya dan mengklasifikasikannya sebagai planet kerdil, keputusan yang hingga kini masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Foto: Ist.

Tampilan permukaan Pluto yang memperlihatkan bentang alam berwarna putih kemerahan khas benda langit tersebut. Sejak 24 Agustus 2006, IAU resmi mencabut statusnya sebagai planet kesembilan Tata Surya dan mengklasifikasikannya sebagai planet kerdil, keputusan yang hingga kini masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Foto: Ist.

Praha-Mediadelegasi: Tepat pada 24 Agustus 2006, status Pluto sebagai planet kesembilan dalam sistem Tata Surya resmi dicabut. Keputusan bersejarah ini diambil oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU) dalam sidang yang berlangsung di Praha, Republik Ceko, setelah melalui perdebatan sengit selama sepekan penuh di antara para ilmuwan dari berbagai negara. Keputusan ini pun langsung tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam.

Sebelum keputusan itu ditetapkan, para astronom telah memperdebatkan sejumlah usulan mengenai definisi resmi sebuah planet. Salah satu usulan yang sempat diajukan bahkan mengusulkan untuk tetap mempertahankan Pluto sebagai planet sekaligus menambahkan Ceres dan Charon sebagai planet baru dalam jajaran tata surya. Namun, usulan tersebut akhirnya tidak memperoleh kesepakatan mayoritas.

Dalam keputusan akhir yang disepakati, IAU menetapkan tiga syarat utama agar sebuah benda langit dapat disebut sebagai planet. Pertama, harus mengorbit Matahari secara langsung. Kedua, memiliki massa cukup besar sehingga gaya gravitasinya membuat bentuknya hampir bulat atau mendekati bulat. Ketiga, harus mampu membersihkan lingkungan orbitnya dari benda-benda lain dan puing-puing antariksa.

Pluto ternyata hanya memenuhi dua syarat pertama. Ia memang mengorbit Matahari dan memiliki bentuk yang nyaris bulat. Namun Pluto gagal memenuhi syarat ketiga karena wilayah orbitnya berbagi dengan sejumlah objek lain di kawasan Sabuk Kuiper, sehingga tidak dianggap telah membersihkan jalurnya dari benda-benda lain.

BACA JUGA:  Hukuman Diperberat, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 7 Tahun Penjara

Karena alasan tersebut, Pluto pun secara resmi diklasifikasikan ke dalam kategori baru: planet kerdil. Dua tahun setelah keputusan itu, IAU kembali memperkenalkan istilah khusus “plutoid” untuk menyebut planet-planet kerdil yang berada di luar orbit Neptunus. Nama itu diambil dari gabungan kata Pluto dan Eris, salah satu planet kerdil terdekat yang ditemukan di wilayah tersebut.

Keputusan tersebut ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik oleh kalangan ilmuwan. Sejumlah astronom mempertanyakan proses pengambilan keputusan, terutama rendahnya jumlah partisipan yang ikut memberikan suara. Dari sekitar 10.000 astronom profesional di seluruh dunia, hanya 424 orang yang akhirnya memberikan suara dalam pemungutan itu.

Seorang astronom bahkan secara terbuka menyoroti ketidakkonsistenan aturan tersebut. Ia mencontohkan bahwa planet-planet seperti Bumi, Mars, Jupiter, dan Neptunus ternyata juga memiliki asteroid-asteroid kecil di sekitar jalur orbitnya. Hal ini memicu perdebatan apakah syarat ketiga yang ditetapkan IAU itu benar-benar adil dan konsisten diterapkan.

“Saya malu terhadap dunia astronomi,” ujar salah satu ilmuwan yang tidak setuju dengan keputusan itu, seraya mengkritik rendahnya tingkat partisipasi dalam pemungutan suara yang dianggap menentukan nasib Pluto secara global. Keterbatasan jumlah pemilih itu dinilai tidak mewakili pendapat seluruh komunitas astronomi dunia.

BACA JUGA:  IRGC Serang Pangkalan Militer AS Usai Gempuran Udara di Bandar Abbas

Meski menuai pro dan kontra yang tajam, keputusan IAU pada 24 Agustus 2006 itu kini menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan astronomi modern. Penurunan status Pluto bahkan berdampak meluas hingga ke budaya populer di seluruh dunia, bukan sekadar menjadi pembahasan di kalangan ilmuwan saja.

Pada tahun yang sama, American Dialect Society memilih kata “plutoed” sebagai Kata Terbaik Tahun Ini. Istilah itu kemudian dimaknai sebagai tindakan menurunkan status atau mengurangi nilai seseorang maupun sesuatu, diambil langsung dari perubahan nasib Pluto yang tiba-tiba kehilangan gelarnya sebagai planet.

Presiden organisasi tersebut menyatakan bahwa reaksi emosional masyarakat luas terhadap perubahan status Pluto menunjukkan betapa kuatnya posisi benda langit itu dalam ingatan dan kesukaan publik selama puluhan tahun sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1930 lalu.

Bahkan sejumlah badan legislatif negara bagian di Amerika Serikat menetapkan tanggal 13 Maret sebagai Hari Pluto, sebagai bentuk penghormatan sekaligus protes terhadap keputusan yang dianggap merugikan Pluto. Hingga kini, perdebatan apakah Pluto layak kembali disebut planet masih terus berlanjut di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Miranda

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat
Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok
Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026
Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki
Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 150 Orang, Ratusan Wisatawan Asing Hilang
Presiden Korsel Lee Jae Myung Sampaikan Belasungkawa Korban Gempa NTT
Israel Tolak Proposal Damai 15 Poin Trump, Netanyahu Ngotot Pasukan Tetap di Gaza Hingga Hamas Dilucuti
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:11 WIB

Prabowo Jelaskan Program Makan Bergizi Gratis di Forum Ekonomi Timur Rusia: Pembangunan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

Kamis, 3 September 2026 - 11:50 WIB

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia-Pasifik, Jamu Prabowo di Vladivostok

Rabu, 2 September 2026 - 12:03 WIB

Prabowo Tiba di Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Forum EEF 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun, Berakhir Perjalanan Panjang Sang Pemimpin Monarki

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Ratko Mladic, Jenderal Pembantai Muslim Bosnia Meninggal di Penjara Usai Divonis Seumur Hidup

Berita Terbaru

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Foto: Ist.

Nasional

Karhutla 2026: Kemenhut Bekukan Izin 26 Korporasi

Rabu, 16 Sep 2026 - 16:44 WIB

Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid. Foto: Ist.

Nasional

OTT KPK ATR/BPN: Nusron Wahid Disorot, 8 Tersangka Ditahan

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:26 WIB