Israel Tolak Proposal Damai 15 Poin Trump, Netanyahu Ngotot Pasukan Tetap di Gaza Hingga Hamas Dilucuti

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Benjamin Netanyahu menolak mentah-mentah 15 poin proposal damai di Gaza usulan Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden AS Donald Trump. Foto: Ist.

Benjamin Netanyahu menolak mentah-mentah 15 poin proposal damai di Gaza usulan Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden AS Donald Trump. Foto: Ist.

Telaviv-Mediadelegasi: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menolak mentah-mentah proposal damai berisi 15 poin untuk penyelesaian konflik di Jalur Gaza yang diusulkan oleh Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Penolakan ini disampaikan secara tegas dalam rapat kabinet yang digelar pada hari Minggu (9/8/2026).

“Israel menolak dokumen 15 poin tersebut,” tegas Netanyahu di hadapan jajaran menteri dalam sidang kabinet. Keputusan ini menandai ketegangan baru antara pemerintahan Israel dan inisiatif perdamaian yang digagas langsung oleh Presiden AS yang sebelumnya telah diumumkan sebagai langkah menuju perdamaian abadi di kawasan tersebut.

Bulan lalu, Presiden Donald Trump sempat mengumumkan tercapainya langkah besar menuju perdamaian dan keamanan abadi setelah Dewan Perdamaian menyatakan Hamas telah menerima rencana perlucutan senjata di Jalur Gaza. Namun kenyataannya, kedua belah pihak ternyata memiliki pemahaman yang berbeda mengenai urutan pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Netanyahu menegaskan posisi Israel yang tidak akan mengalah soal keamanan. Militer Israel tidak akan menarik pasukan dari wilayah Jalur Gaza sebelum seluruh senjata yang dimiliki Hamas dilucuti sepenuhnya. Ini menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar oleh pihak Israel.

BACA JUGA:  Harvard Dilarang Menerima Mahasiswa Asing

Di sisi lain, Hamas telah menyampaikan penjelasan bahwa penyerahan senjata berat hanya akan dilakukan apabila Israel terlebih dahulu menghentikan segala bentuk serangan militer dan menarik seluruh pasukannya keluar dari wilayah Jalur Gaza. Artinya, kedua belah pihak saling melempar syarat sebagai langkah awal.

Netanyahu justru menuntut Hamas untuk melucuti seluruh persenjataannya terlebih dahulu sebelum pembicaraan mengenai penarikan pasukan dibahas lebih lanjut. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan diskusi dengan para pejabat Amerika Serikat guna menyamakan pandangan mengenai langkah selanjutnya.

“Mereka memiliki gagasan, sebagian bisa kami terima dan sebagian tidak. Kami tahu bagaimana cara mempertahankan sikap dalam masalah-masalah ini,” ujar Netanyahu menegaskan bahwa Israel tetap berpegang teguh pada kepentingan keamanannya dan tidak akan menerima seluruh isi usulan tersebut begitu saja.

Kesepakatan yang sempat disampaikan Dewan Perdamaian seolah-olah runtuh karena perbedaan mendasar mengenai urutan pelaksanaan. Dewan menyatakan telah mencapai kesepakatan untuk melucuti senjata Hamas serta kelompok perlawanan Palestina lainnya, namun kenyataannya kedua pihak belum sepakat siapa yang harus bergerak lebih dulu.

BACA JUGA:  FSB Gagalkan Upaya Pencurian Jet Tempur MiG-31 Rusia oleh Intelijen Ukraina dan Inggris

Situasi ini diperkirakan semakin sulit ditemukan jalan keluarnya karena mendekatnya jadwal pemilihan umum Israel yang akan digelar pada bulan November mendatang. Dalam situasi politik seperti ini, kemungkinan kecil Netanyahu bersedia memberikan konsesi yang dapat merugikan reputasinya di mata pendukung.

Netanyahu juga menghadapi desakan kuat dari sekutu-sekutunya yang berhaluan kanan jauh. Mereka menuntut agar pemungutan suara di tingkat kabinet segera digelar untuk secara resmi menolak proposal damai yang diusulkan oleh pihak Amerika Serikat tersebut.

Penolakan ini menjadi pukulan berat bagi rencana perdamaian Gaza yang digagas oleh Presiden Trump dan diumumkan sejak bulan September tahun lalu. Usulan yang sempat dipuji sebagai terobosan perdamaian kini tampak semakin jauh dari kenyataan pelaksanaannya akibat perbedaan posisi yang tak kunjung terselesaikan.

Dengan kedua pihak yang sama-sama bersikukuh pada syarat masing-masing, prospek perdamaian di Jalur Gaza tampaknya masih harus menunggu waktu lebih lama. Selama tidak ada pihak yang bersedia melangkah lebih dulu, maka ketegangan di kawasan itu kemungkinan besar masih akan terus berlanjut. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gibran dan Kebohongan Laporan Keuangan yang Menjerat Dana Pensiun Malaysia
Iran Rilis Daftar Sasaran Pembalasan, Pasca Kematian Ayatollah Ali Khamenei
Ai Ogura Ciptakan Kejutan, Rebut Pole Position MotoGP Ceko 2026 di Brno
KTT Rusia-ASEAN Dibuka di Kazan: Putin Jamu Pemimpin Negara ASEAN, Perkuat Hubungan 35 Tahun Kemitraan
Iran Luncurkan Serangan Pembalasan ke Pangkalan AS di Timur Tengah, Rudal dan Dron Ditembakkan
Presiden China Xi Jinping Tiba di Korut, Siap Bertemu Pemimpin Negara Asia Timur Kim Jong Un
Gempa M 7.0 Guncang Mindanao Filipina di Hari Pertama Sekolah, Gedung Kampus Runtuh & Peringatan Tsunami Dikeluarkan
Indonesia dan 7 Negara Lain Kecam Keras Serangan Pemukim Israel ke Masjid Al-Aqsa
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:42 WIB

Israel Tolak Proposal Damai 15 Poin Trump, Netanyahu Ngotot Pasukan Tetap di Gaza Hingga Hamas Dilucuti

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:21 WIB

Gibran dan Kebohongan Laporan Keuangan yang Menjerat Dana Pensiun Malaysia

Senin, 13 Juli 2026 - 11:13 WIB

Iran Rilis Daftar Sasaran Pembalasan, Pasca Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:23 WIB

Ai Ogura Ciptakan Kejutan, Rebut Pole Position MotoGP Ceko 2026 di Brno

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:57 WIB

KTT Rusia-ASEAN Dibuka di Kazan: Putin Jamu Pemimpin Negara ASEAN, Perkuat Hubungan 35 Tahun Kemitraan

Berita Terbaru

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid. Foto: Ist.

Nasional

Mulai 17 Agustus, Balik Nama Sertifikat Tanah Cukup 10 Hari

Senin, 10 Agu 2026 - 11:55 WIB

Penulis: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si.

Opini

Di Mana 5 Persen Orang Keras Kepala Itu?

Senin, 10 Agu 2026 - 10:34 WIB