Kathmandu-Mediadelegasi: Bencana banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), terus memakan korban jiwa. Sejauh ini jumlah korban tewas telah menembus 150 orang, sementara lebih dari 500 orang lainnya dilaporkan hilang. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya temuan dari tim pencari.
Banjir yang datang bak gelombang tsunami itu meluluhlantakkan kawasan-kawasan yang populer di kalangan pendaki gunung internasional maupun para peziarah yang sedang menempuh perjalanan suci. Air bah yang membawa material lumpur dan bebatuan besar menyapu permukiman, jembatan, hingga jalan raya yang menghubungkan kawasan perbatasan tersebut dengan pusat-pusat pemukiman.
Di antara korban yang hilang, jumlah wisatawan asing yang belum ditemukan tercatat sangat besar. Lebih dari 500 wisatawan dilaporkan hilang di wilayah Nepal. Rinciannya, lebih dari 100 orang berasal dari India, 54 orang dari Amerika Serikat, 33 orang dari Inggris, dan lebih dari 100 orang lainnya merupakan warga Nepal yang ikut menjadi korban dalam peristiwa maha dahsyat tersebut.
Sementara itu, pemerintah China juga melaporkan kerugian di sisi perbatasannya. Setidaknya tiga orang tewas dan 265 lainnya dilaporkan hilang di wilayah Tibet, China, yang juga terkena dampak luapan air dari pegunungan. Kerusakan infrastruktur di kedua sisi perbatasan dilaporkan sangat parah dan memutus akses antarwilayah.
Penyebab terjadinya banjir dahsyat ini semula diduga kuat dipicu oleh gempa bumi yang mengguncang kawasan perbatasan Nepal-China. Getaran tersebut diduga meruntuhkan danau glasial atau danau es yang berada di pegunungan tinggi, sehingga air dalam jumlah sangat besar tiba-tiba meluncur ke bawah dan memicu banjir bandang.
Namun, analisis terbaru mengubah dugaan tersebut. Belakangan diyakini bahwa tanah longsorlah yang justru memicu aktivitas seismik yang tercatat sebagai gempa. Runtuhnya tebing dan material tanah dari pegunungan diperkirakan menutup aliran sungai sesaat, lalu menumpuk air yang akhirnya meluap dengan daya hancur luar biasa.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah yang menimpa negaranya. “(Seluruh penduduk negeri) Terkejut dan sangat terpukul,” ujar Balendra Shah dikutip dari kantor berita BBC pada Kamis (27/8/2026). Pemerintah pun segera mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk upaya pencarian dan pertolongan korban.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan pemandangan yang sungguh mengerikan. Aliran air bercampur lumpur berwarna coklat pekat meluncur dengan kecepatan tinggi menerjang berbagai kawasan. Bangunan-bangunan tampak hancur seketika, jembatan putus dan hanyut, menyisakan jejak kehancuran yang memilukan di sepanjang aliran sungai.
Di pos perbatasan Gyirong, rekaman CCTV yang terekam memperlihatkan momen-momen menegangkan. Orang-orang tampak berlarian menyelamatkan diri sesaat sebelum dinding air setinggi beberapa meter menghantam bangunan pos perbatasan tersebut. Hanya dalam hitungan detik, bangunan yang kokoh itu pun hancur diterjang air bah.
Banyak dari wisatawan yang hilang diketahui sedang menempuh perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash, situs suci yang sangat dihormati oleh umat Hindu dan Buddha. Rute perjalanan ziarah tersebut ternyata melintasi kawasan yang paling parah terkena dampak banjir, sehingga jumlah korban wisatawan pun menjadi sangat besar.
Pemerintah Nepal telah meminta bantuan kepada negara tetangga, India, maupun China untuk memperluas jangkauan pencarian dan penanganan korban. Namun kondisi medan yang masih sulit, akses jalan yang putus, serta cuaca yang belum menurun menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat yang bekerja tanpa henti.
Jumlah korban jiwa diyakini masih akan terus bertambah dalam beberapa hari mendatang. Sebagian besar wilayah terdampak masih belum dapat dijangkau, dan banyak warga yang belum ditemukan. Pemerintah serta masyarakat dunia pun terus berdoa agar harapan menemukan korban yang selamat masih ada meski situasi semakin sulit diprediksi. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan







