Medan-Mediadelegasi: Badai mengguncang proses penerimaan Cados pesantren kota di Medan Estate memang mulai reda. Namun tidak membuat para korban membolak-balik lembar pengumuman yang hanya diteken Kepala Biro dari kampus sebelah.
Bola mata terhenti melihat nama brinitial FY sang manajemen strategi yang akhirnya diketahui sebagai anak buah Komisaris salah satu BUMN yang bersama keluarga selama ini sudah menetap di Jakarta. Dia juga diketahui otomatis sebagai penikmat dana BUMN yang bersumber dari uang Negara selama ini. Dia memang diketahui banyak orang kampus sebagi orang yang dianggap berjasa sebagai telangkai mengenalkan orang nomor satu itu kepada sejumlah pejabat.
Kemudian terlihat nama wanita Ha sang pemaham mata kuliah Bahasa Indoensia. Korek punya korek, diketahui sebagai istri ‘anak main’ orang nomor satu kampus itu. Kegerahan sang suami terlihat terang, di tengah sorotan berbagai elemen di media, sang suami yang juga memiliki media online itu bikin cerita, dalam upaya menepis carut-marut Cados yang sudah terbentang di meja sang Menteri di Jl Lapangan Benteng, Jakarta.
Selanjutnya, ada nama cewek muda HRH, sebagai orang yang dipersiapkan menjadi guru komunikasi penyiaran Islam, konon merupakan pacar seorang ‘anak main’ petinggi yang belakangan ini terlibat hubungan kerjasama di bidang hukum kampus itu.
Mungkin kalau terus dikorek-korek, tiga dari 65 nama yang direkomendasikan meminjam lisensi kampus tetangga sebelah berdalih independen ini sangatlah sedikit, karenanya wajar jika pak Menteri segera membatalkan proses rekrut guru sebagai sumber kebaikan generasi bangsa itu.
Semua yang lolos, agaknya tengah galau tak terkendali. Pasalnya, apa tah jadi, begitu pak Menteri membatalkan proses menilai kompetensi sang pengajar yang diributi elemen masyarakat sebagai dugaan kecurangan itu. D|Red







