Jakarta-Mediadelegasi: China membalas kebijakan tarif baru Amerika Serikat dengan mengenakan bea masuk 85% untuk barang-barang dari AS, efektif mulai 10 April 2025. Langkah ini merupakan respons atas keputusan Presiden Donald Trump yang menerapkan tarif timbal balik kepada sejumlah mitra dagang global, termasuk China.
Konflik dagang antara AS dan China semakin meningkat sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025. AS telah menerapkan tarif timbal balik kepada sejumlah mitra dagang global, termasuk China, yang kemudian membalas dengan tarif yang lebih tinggi.
China meningkatkan tarifnya dari 34% menjadi 85% untuk barang-barang AS, memperumit perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia. Pemerintah China juga akan memulai investigasi anti-monopoli terhadap Google milik Alphabet dan memasukkan beberapa perusahaan AS ke dalam “daftar entitas tidak dapat diandalkan”.
Kekacauan tarif terus membebani pasar keuangan, dengan pasar saham AS dan Eropa melemah. Harga batu bara dan CPO juga anjlok akibat kebijakan tarif ini. Sekitar 70 negara telah menghubungi pemerintah AS untuk membuka pembicaraan tarif, namun China tetap menolak untuk mengalah.
Industri Perdagangan China menyebut ancaman eskalasi sebagai “kesalahan di atas kesalahan”. Perang dagang antara AS dan China semakin memanas, dan dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia.
Perang dagang ini dapat berdampak pada perekonomian global, termasuk penurunan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan harga barang. China dan AS harus mencari solusi untuk mengakhiri perang dagang ini dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dalam beberapa bulan terakhir, China dan AS telah melakukan beberapa putaran perundingan untuk mencapai kesepakatan, namun belum ada hasil yang signifikan. Apakah China dan AS dapat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang ini, ataukah konflik ini akan terus berlanjut?.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












