
BPOM menegaskan bahwa produk tersebut harus segera ditarik dari peredaran luas demi melindungi konsumen. Bahan berbahaya yang ditemukan di dalamnya dinilai memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan kulit maupun organ tubuh lainnya dalam jangka panjang.
Baca juga : https://mediadelegasi.id/mk-kabulkan-sebagian-gugatan-iwakum-uu-pers-diperjelas/
Sesaat setelah pengumuman dirilis, akun media sosial milik Melvhina Husyanti, nama asli dari pemilik Daviena Skincare, langsung diserbu warganet. Kolom komentar unggahannya dipenuhi oleh pertanyaan dan ungkapan kekecewaan dari para pelanggan setianya.
Meskipun tengah diterpa isu penarikan produk, Melvhina terpantau tetap aktif mengunggah promosi produk lainnya di Instagram Story. Sikap ini justru memicu kritik lebih lanjut dari warganet yang menganggap pengusaha tersebut abai terhadap aspek keamanan konsumen.
Temuan ini merupakan bagian dari pengawasan rutin BPOM terhadap peredaran kosmetik pada periode Oktober hingga Desember 2025. Secara total, BPOM menemukan 26 produk kosmetik dari berbagai merek yang terbukti mengandung bahan berbahaya atau dilarang.
Dari puluhan temuan tersebut, mayoritas atau sebanyak 15 produk diketahui tidak memiliki izin edar (TIE). Sementara itu, 10 produk diproduksi melalui skema kontrak produksi dan satu produk lainnya merupakan barang impor ilegal.
Beberapa zat berbahaya yang ditemukan dalam puluhan kosmetik tersebut antara lain asam retinoat, hidrokinon, merkuri, hingga klindamisin. Bahan-bahan ini sering kali disalahgunakan untuk memberikan hasil instan namun berdampak fatal bagi tubuh.
BPOM menjelaskan bahwa paparan asam retinoat dapat menyebabkan kulit terbakar hingga gangguan janin pada wanita hamil. Sementara penggunaan hidrokinon dalam kosmetik berpotensi menyebabkan penggelapan warna kulit yang permanen serta kerusakan kuku.
Zat berbahaya lainnya seperti merkuri bahkan bisa mengakibatkan gangguan ginjal dan kerusakan sistem saraf pusat. Adapun kandungan deksametason dalam kosmetik dapat memicu munculnya dermatitis kontak hingga jerawat yang parah pada wajah.
Atas temuan ini, BPOM mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan selalu mengecek legalitas produk melalui aplikasi BPOM Mobile. Masyarakat diminta tidak tergiur hasil instan dari produk yang dipromosikan oleh figur publik tanpa memastikan keamanannya.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






