“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif bawah laut,” kata Daryono.
Episenter gempa terletak pada koordinat 7,35° LS dan 114,22° BT atau sekitar 58 km tenggara Sumenep pada kedalaman 12 km. Sebaran getaran guncangan terkuat dirasakan di Pulau Sapudi pada skala V–VI MMI (semua orang merasakan getaran dan beberapa bangunan mengalami kerusakan ringan).
Sementara itu, Sumenep, Pamekasan, dan Surabaya merasakan skala III–IV MMI. Getaran juga dirasakan di Tuban, Denpasar, Gianyar (III MMI), serta Tabanan, Buleleng, Kuta, Banyuwangi (II–III MMI). Bahkan wilayah Lombok Utara, Mataram, Lombok Tengah, Malang, dan Blitar ikut merasakan guncangan pada skala II MMI.
Pemerintah daerah setempat telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memberikan bantuan kepada para korban gempa bumi. Bantuan berupa makanan, air bersih, selimut, dan tenda telah disalurkan kepada warga yang terdampak.
Selain itu, tim medis juga telah diterjunkan ke lokasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para korban luka-luka. Pemerintah juga akan melakukan pendataan kerusakan bangunan dan memberikan bantuan perbaikan rumah kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat.
Gempa bumi yang mengguncang Sumenep ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam. Dengan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan dampak dari bencana alam dapat diminimalkan.






