Gunung Anak Krakatau Erupsi Lontarkan Lava Pijar, BNPB: Tidak Perlu Panik Soal Tsunami

Sabtu, 5 September 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gunung Anak Krakatau melontarkan lava pijar membentuk fenomena air mancur lava saat erupsi yang terjadi sejak Jumat malam (4/9/2026). Foto: Ist.

Gunung Anak Krakatau melontarkan lava pijar membentuk fenomena air mancur lava saat erupsi yang terjadi sejak Jumat malam (4/9/2026). Foto: Ist.

Lampungselatan-Mediadelegasi: Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, terus berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Erupsi yang bermula sejak Jumat (4/9) tepatnya pukul 23.07 WIB ini melontarkan lava pijar disertai dentuman keras dan suara gemuruh yang terdengar hingga ke Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.

Fenomena semburan material merah membara yang menerangi gelapnya malam itu diinterpretasikan oleh petugas pemantauan sebagai lava fountain atau air mancur lava yang menjulang setinggi hingga 400 meter di atas kawah. Pantulan cahaya merah dari lontaran material vulkanik tersebut terlihat jelas dari jarak jauh dan terekam dalam rekaman warga yang kemudian menyebar di media sosial.

Kekuatan letusan sedemikian dahsyatnya hingga kamera CCTV pemantauan yang dipasang di lokasi pengamatan justru mengalami kerusakan teknis akibat terkena lontaran material vulkanik panas. Hal ini menunjukkan betapa tingginya energi yang dilepaskan dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau pada rentang waktu tersebut.

Berdasarkan data pemantauan kegempaan, tercatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter. Sementara itu, durasi sinyal erupsi tercatat sangat panjang, yaitu mencapai 21.600 detik atau setara dengan enam jam lebih, yang mengindikasikan aktivitas yang terus berlangsung secara persisten.

Kondisi cuaca di sekitar perairan Selat Sunda saat itu berawan hingga mendung dengan angin bertiup lemah hingga sedang berarah ke barat laut. Secara visual, tubuh gunung api teramati jelas sesaat sebelum tertutup kabut, sementara asap kawah tidak teramati secara jelas pada periode pengamatan dini hari tadi.

BACA JUGA:  Gunung Anak Krakatau Meletus Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 400 Meter, Warga Dilarang Mendekat Radius 3 Km

Merespons kekhawatiran masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten maupun Lampung terkait potensi tsunami, BNPB memberikan penjelasan resmi agar masyarakat tidak panik. Kekhawatiran tersebut muncul mengingat pengalaman kelam pada peristiwa tsunami selat Sunda tanggal 22 Desember 2018 yang juga bersumber dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 2018 masih relatif kecil. Kondisi morfologi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan massal yang dapat memicu gelombang tsunami.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Secara ilmiah, bentuk tubuh gunung saat ini belum cukup besar untuk runtuh dan memicu tsunami seperti kejadian tahun 2018,” ujar Berton dalam keterangan resminya, Sabtu pagi. Namun demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perubahan bentuk dan aktivitas gunung api tersebut.

Berton mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu-isu potensi tsunami yang belum tentu benar, karena hal itu justru dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat pesisir. Masyarakat diminta hanya mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada status Level III atau Siaga. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian ESDM telah mengeluarkan rekomendasi tegas agar tidak ada warga maupun wisatawan yang mendekat atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif demi keselamatan bersama.

BNPB menekankan tiga hal utama dalam menghadapi aktivitas erupsi yang masih berlangsung. Pertama, keselamatan menjadi prioritas utama, sehingga pemerintah daerah bersama unsur terkait wajib memastikan tidak ada orang yang berada dalam radius bahaya. Patroli dan pengawasan di kawasan perairan maupun pesisir perlu diperkuat.

BACA JUGA:  KPK Periksa Caperdes Pati dalam Kasus Pemerasan Sudewo

Kedua, kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Pemerintah daerah melalui BPBD dipastikan telah menyiapkan jalur evakuasi, titik kumpul, sistem peringatan dini, serta kebutuhan dasar masyarakat agar siap digunakan sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan aktivitas yang membutuhkan langkah evakuasi.

Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan patuh pada arahan petugas. Ditegaskan agar tidak ada warga maupun wisatawan yang sengaja mendekat ke kawasan gunung api hanya untuk menyaksikan, memotret, maupun merekam aktivitas erupsi, mengingat potensi lontaran material panas yang sewaktu-waktu dapat meluncur keluar dari kawah.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri sekadar berdasarkan terlihatnya asap atau terdengarnya suara dentuman. Setiap perkembangan aktivitas akan dievaluasi secara berkala oleh PVMBG dan diumumkan melalui saluran resmi pemerintah daerah maupun BNPB.

Bertambahnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa pekan terakhir tercatat telah mengalami puluhan kali erupsi dengan ketinggian kolom abu bervariasi antara 100 hingga 400 meter. Namun hingga saat ini, belum ada perubahan status yang dikeluarkan PVMBG dan tetap berada pada level Siaga.

BNPB bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas secara terus-menerus. Masyarakat diimbau tetap tenang, waspada, dan memperoleh informasi hanya dari sumber resmi guna menghindari kesalahpahaman yang dapat merugikan keselamatan bersama. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gus Alex Ungkap 24 Anggota Panja DPR Minta Uang 3.000 Riyal, KPK Langsung Janji Telaah
Hadiri Acara di Thailand, Arya Wedakarna: Bukan sebagai Anggota DPD, Melainkan Tokoh Bali
Dicopot Usai Keracunan MBG Sidoarjo, BGN: SPPG Kalitengah Lalaian Disengaja
Bau Menyengat Limbah SPPG Bumi Daya Ganggu Warga Lampung Selatan, Sudah Dikeluhkan Setahun
KPK Periksa Anggota DPRD Bengkulu Bambang Hermanto, Kasus Suap Rejang Lebong Melebar
Heboh Syarat STNK Beli BBM Subsidi, Pertamina Resmi Batalkan Rencana Itu
NASA Ungkap Rahasia Kebakaran Gambut Indonesia: Api Menyala di Bawah Tanah, Sulit Padam Hingga Hujan Turun
Mabes TNI Evaluasi Kehadiran Prajurit TNI AL di Acara Kontes Kecantikan Transgender Thailand
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 12:11 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lontarkan Lava Pijar, BNPB: Tidak Perlu Panik Soal Tsunami

Jumat, 4 September 2026 - 17:08 WIB

Gus Alex Ungkap 24 Anggota Panja DPR Minta Uang 3.000 Riyal, KPK Langsung Janji Telaah

Jumat, 4 September 2026 - 14:39 WIB

Dicopot Usai Keracunan MBG Sidoarjo, BGN: SPPG Kalitengah Lalaian Disengaja

Jumat, 4 September 2026 - 14:14 WIB

Bau Menyengat Limbah SPPG Bumi Daya Ganggu Warga Lampung Selatan, Sudah Dikeluhkan Setahun

Jumat, 4 September 2026 - 13:37 WIB

KPK Periksa Anggota DPRD Bengkulu Bambang Hermanto, Kasus Suap Rejang Lebong Melebar

Berita Terbaru

Inspektur Kota Medan, Erfin Fachrurrazi, S.S.T.P., M.Si., CGCAE. Foto: Ist.

Kota Medan

Inspektorat Kota Medan Bungkus Rapi Temuan BPK

Sabtu, 5 Sep 2026 - 11:54 WIB