Ketegangan Meningkat: Iran Kecam Blokade AS, Anggap sebagai Agresi Terbuka

- Penulis

Rabu, 22 April 2026 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iran mengecam keras langkah AS yang tetap memblokade pelabuhan meski di tengah gencatan senjata. Foto: Ist.

Iran mengecam keras langkah AS yang tetap memblokade pelabuhan meski di tengah gencatan senjata. Foto: Ist.

Teheran-Mediadelegasi: Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menyusul keputusan AS yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun gencatan senjata telah diperpanjang. Iran dengan tegas mengecam langkah tersebut, menganggapnya sebagai tindakan agresi yang setara dengan serangan militer dan menegaskan bahwa respons balasan tidak dapat dihindari.

Mahdi Mohammadi, seorang penasihat ketua parlemen Iran, menyatakan pandangannya bahwa blokade laut yang diberlakukan oleh AS tidak dapat dikategorikan sebagai langkah damai. Menurutnya, tindakan ini merupakan bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Iran, yang secara implisit merupakan agresi terbuka dan menambah ketegangan di kawasan.

“Melanjutkan blokade laut tidak berbeda dengan melancarkan serangan, dan respons militer diperlukan,” tegas Mohammadi, menggarisbawahi bahwa tindakan AS merupakan pelanggaran nyata atas gencatan senjata yang telah disepakati.

Sikap Iran yang mengeras ini muncul sebagai respons langsung terhadap pengumuman sepihak Presiden Donald Trump mengenai perpanjangan gencatan senjata dengan Teheran. Pemerintah Iran secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengajukan permintaan perpanjangan tersebut, menimbulkan pertanyaan mengenai dasar keputusan AS.

BACA JUGA:  Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa tidak ada proposal resmi dari pihak Iran yang diajukan untuk memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya hanya disepakati selama dua pekan dan telah berakhir pada Rabu (22/4/2026). Hal ini semakin memperkuat argumen Iran bahwa perpanjangan tersebut bersifat sepihak.

Meskipun mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Amerika Serikat dilaporkan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang terletak di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini memegang peranan vital dalam perdagangan energi global, sehingga langkah AS ini dinilai semakin memperkeruh situasi regional yang sudah tegang.

Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata dilakukan hingga Iran mengajukan proposal perdamaian yang konkret. Ia juga mengklaim bahwa keputusan ini dipengaruhi oleh permintaan dari pejabat Pakistan, termasuk Panglima Militer Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

Di sisi lain, Iran memandang langkah AS memperpanjang gencatan senjata lebih sebagai taktik penguluran waktu daripada sebuah upaya tulus menuju perdamaian. Teheran meyakini bahwa Washington tidak memiliki niat serius untuk menyelesaikan konflik secara damai.

BACA JUGA:  Turbulensi Hebat Landa Pesawat Garuda Jakarta-Sydney, Dua Awak Kabin Luka Ringan

Menanggapi situasi yang semakin memanas, Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam kondisi siaga penuh. Kesiapan tempur ini merupakan respons terhadap potensi eskalasi konflik.

“Angkatan bersenjata kami telah lama berada dalam kesiapan tempur 100 persen,” ujar Zolfaghari, menunjukkan kesiapan Iran untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ia menambahkan bahwa jika terjadi serangan lanjutan atau tindakan provokatif lainnya terhadap Iran, pihaknya siap memberikan balasan yang keras dan terukur terhadap target-target yang telah ditentukan. Pernyataan ini mengirimkan pesan tegas kepada AS mengenai konsekuensi dari agresi lebih lanjut.

Situasi ini menyoroti kompleksitas hubungan diplomatik dan militer di kawasan Timur Tengah, di mana setiap langkah dan pernyataan dapat memiliki implikasi yang luas terhadap stabilitas regional dan global. Dunia kini menanti perkembangan selanjutnya dari ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat ini. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kecam Keras Tindakan Israel Terhadap Armada Bantuan Gaza: Pelanggaran Hukum Internasional
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal
Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah
Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir
Aktor Park Dong Bin Meninggal Dunia, Sosok di Balik Viral ‘Meme Jus’
Hukuman Diperberat, Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 7 Tahun Penjara
Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang Gegara Dukung Iran Lawan AS dan Israel

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:20 WIB

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kecam Keras Tindakan Israel Terhadap Armada Bantuan Gaza: Pelanggaran Hukum Internasional

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:13 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Pasien Wajib Isolasi 42 Hari, 3 Orang Meninggal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:19 WIB

Ledakan dan Kebakaran Hebat Melanda Kilang Minyak Chalmette Louisiana, Tidak Ada Korban Jiwa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:05 WIB

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar: AS Tetapkan Status Darurat Level 3, Risiko Penyebaran Masih Rendah

Senin, 4 Mei 2026 - 13:04 WIB

Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Program Nuklir

Berita Terbaru