Ia menilai, apabila pasien gawat darurat tersebut ditangani secara intensif sejak awal, peluang keselamatan mungkin masih ada. Berdasarkan keterangan keluarga, bayi disebut hampir satu jam belum mendapatkan penanganan intensif, termasuk pemasangan infus.
Stefanus juga menyoroti persoalan biaya pasien umum yang disebut mencapai Rp500 ribu, sementara keluarga hanya memiliki Rp200 ribu. Dengan jarak rumah ke rumah sakit yang relatif dekat, ia meminta otoritas kesehatan mencermati seluruh rangkaian peristiwa secara objektif.
“Kami berharap hasil audit itu adil bagi semua pihak. Ini menyangkut program besar gubernur, sehingga Dinkes harus benar-benar cermat mengevaluasi rumah sakit tersebut,” ujarnya.
Ujian Komitmen Layanan Kesehatan
Kasus ini menjadi ujian bagi komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat layanan kesehatan inklusif, terutama bagi masyarakat kurang mampu. Investigasi yang transparan dinilai penting bukan hanya untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan medis.
Hingga kini, Dinkes Sumut menegaskan proses pembinaan dan pemeriksaan masih berlangsung, sementara publik menunggu kejelasan apakah tragedi tersebut disebabkan oleh faktor medis, prosedural, atau miskomunikasi di lapangan. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







