Kortas Tipikor Polri Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Korupsi Proyek PJUTS di Kementerian ESDM, Negara Rugi Rp19,5 Miliar

Kortas Tipikor Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek PJUTS di Ditjen EBTKE Kementerian ESDM. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) di Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM tahun anggaran 2020. Kasus ini diduga merugikan negara hingga Rp19,5 miliar.

Dari ketiga tersangka tersebut, dua di antaranya adalah mantan pejabat di Kementerian ESDM, yaitu Inspektur Jenderal Kementerian ESDM periode 2017-2023 berinisial AS, Sekretaris Ditjen EBTKE sekaligus KPA 2019-2021, HS, dan Direktur Operasional PT LEN Industri, L. Penetapan tersangka ini merupakan hasil dari serangkaian penyelidikan yang dilakukan oleh Kortas Tipikor Polri.

“Merujuk pada laporan hasil audit penghitungan kerugian keuangan negara (PKKN) oleh BPK, terdapat Kerugian Keuangan Negara sebesar Rp19.522.256.578,74,” ucap Direktur Penindakan Kortas Tipikor Polri, Brigjen Totok Suharyanto, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2025).

Bacaan Lainnya

Brigjen Totok Suharyanto menjelaskan bahwa perkara ini bermula pada tahun 2020, saat Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM RI mengadakan lelang untuk pekerjaan pemasangan PJUTS Wilayah Tengah sebanyak 6.835 unit yang tersebar di 7 provinsi dengan anggaran sebesar Rp108.997.596.000.

“Pada awal tahun 2020 sebelum pelaksanaan Lelang, Tersangka AS telah melakukan permufakatan melalui keponakannya sdr. S dengan tersangka L selaku calon penyedia dari PT. LEN INDUSTRI untuk memenangkan PT. LEN INDUSTRI dalam Lelang PJUTS Wilayah Tengah T.A 2020,” tuturnya.

Sementara itu, tersangka L meminta kepada S untuk dilakukan perubahan atas spesifikasi dan perubahan paket PJUTS yang sebelumnya terdiri atas 15 paket kecil sehingga terdapat yang bernilai besar diatas Rp100.000.000.000 atau Rp100 miliar agar PT LEN INDUSTRI bisa mengikuti lelang. Perubahan ini diduga dilakukan untuk memuluskan langkah PT LEN Industri dalam memenangkan lelang.

“S menginformasikan kepada tersangka AS. Selanjutnya, tersangka AS memberikan instruksi kepada tersangka HS dan sdr. L.N untuk melakukan perubahan atas spesifikasi dan pemaketan,” kata Brigjen Totok Suharyanto.

Pos terkait