Menkeu Purbaya ‘Gebuk’ Bea Cukai, Sistem Pengawasan Impor Diperketat dengan AI

- Penulis

Jumat, 12 Desember 2025 - 15:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu Purbaya Siapkan Sistem AI Canggih di Bea Cukai. Foto: Ist.

Menkeu Purbaya Siapkan Sistem AI Canggih di Bea Cukai. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya perbaikan signifikan dalam sistem pengawasan impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Perbaikan ini, menurutnya, berhasil dilakukan setelah adanya desakan dan dorongan dari pihaknya.

Purbaya mengakui bahwa talenta di Bea Cukai sebenarnya cukup mumpuni. Namun, dengan adanya ‘gebrakan’ dan dorongan yang kuat, muncul berbagai inovasi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sistem pengawasan.

“Jadi Bea Cukai sudah cukup bergerak cepat dalam beberapa minggu terakhir ya, rupanya memang orang Bea Cukai pintar-pintar, hanya tinggal digebukin aja. Gebuk-gebuk, dua minggu keluar,” ungkap Purbaya saat ditemui di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu inovasi yang dimaksud adalah Trade AI, sebuah sistem pemantauan yang dirancang untuk mendeteksi praktik under-invoicing, over-invoicing, hingga potensi pencucian uang. Sistem ini bekerja dengan cara mendeteksi secara otomatis ketidaksesuaian antara dokumen yang diserahkan oleh importir dengan pola penghitungan yang seharusnya dilakukan oleh Bea Cukai.

“Ini dua minggu pengembangan AI seperti ini, saya bilang, amat canggih. Saya tadinya hampir gak percaya, saya pikir dia beli. Gak beli kan? Mereka bikin sendiri, jadi orang kita cukup pintar,” tutur Purbaya dengan nada bangga.

BACA JUGA:  May Day 2026: 10.000 Buruh KASBI-Gebrak Geruduk DPR, Tolak Gabung Acara di Monas

Purbaya menegaskan bahwa Trade AI ini memiliki potensi besar untuk memperkuat pengawasan impor dan meminimalisir praktik-praktik ilegal yang merugikan negara. “Trade AI bisa mendeteksi under-invoicing, over-invoicing, hingga potensi pencucian uang. Sistem ini analisis nilai pabean, klasifikasi barang, dan verifikasi dokumen,” jelasnya.

Menkeu Purbaya bahkan sempat mencoba langsung Trade AI tersebut di Kantor Bea Cukai Pelabuhan Tanjung Priok. Ia mengakui bahwa sistem ini mampu mempercepat proses pemeriksaan secara signifikan.

“Pada waktu saya mengunjungi kantor Bea Cukai di Cikarang, saya diskusi dengan petugas Bea Cukai yang memeriksa dokumen. Itu dilakukan dengan manual satu-satu, sehari dia cuma bisa 10-14 PIB yang bisa dicek, jadi lambat sekali. Dengan Trade AI ini, pembandingannya hampir otomatis sampai bisa dihitung kekurangan berapa bayar tarif bea masuknya,” jelasnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Purbaya saat mengunjungi Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya. Dengan Trade AI, proses pengecekan harga barang impor dan penetapan bea masuk dapat dilakukan secara otomatis.

“Jadi begitu barangnya ini masuk, langsung di cek ininya, langsung dibandingkan dengan harga di marketplace di Indonesia, juga dilakukan pengecekan di luar negeri, marketplace luar negeri. Jadi akan lebih cepat dan kemungkinan terjadinya under-invoicing akan semakin kecil,” jelas Purbaya.

BACA JUGA:  Bersih-Bersih DJP, Menkeu Purbaya Dukung Pemecatan 26 Pegawai Nakal

Sebelumnya, Menkeu Purbaya juga telah mengungkapkan bahwa oknum penyelundup kini tidak bisa lagi merasa tenang. Pasalnya, DJBC telah memasang alat pindai canggih berbasis AI di berbagai titik strategis, termasuk di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

“Agenda kita sederhana, tapi penting, Bea Cukai meresmikan pemindai peti kemas baru pada hari ini. Saya ingin adanya perubahan. Dulu urusan bea cukai bikin deg-degan, sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup, ini kata bea cukai,” ungkap Purbaya.

Purbaya juga menekankan bahwa penggunaan AI dalam sistem kepelabuhanan merupakan langkah percepatan dan perubahan citra pelayanan di Bea Cukai. “Dulu pelayanan bea cukai dinilai lambat, sekarang malah AI-nya yang diminta jangan terlalu cepat,” katanya.

Bendahara Negara ini menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam sistem Bea Cukai bertujuan untuk memperlancar arus barang, meningkatkan transparansi, dan memerangi penyelundupan dengan cara yang lebih modern.

“Transformasi digital di kepabeanan bukan pilihan, ini adalah suatu keharusan. Kita harus menjaga kepercayaan publik, kita harus menjaga daya saing ekonomi, dan kita harus memerangi penyelundupan dengan cara yang lebih modern,” tegas Purbaya. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Siapkan Tenaga Kerja untuk Industri EV, Kemnaker Gandeng Dunia Usaha
Rupiah Tertekan, BI Terapkan 7 Langkah Strategis, Batas Beli Dolar Turun Jadi 50 Ribu
Sakit Parah dan Harus Operasi, Nadiem Makarim Minta Pindah Penahanan
Saksi BAIS Bantah Ada Perintah Khusus: Terdakwa Bertindak Sendiri karena Sakit Hati
Sidang Kasus Andrie Yunus, Hakim Minta Ahli Kimia Jelaskan Kandungan Air Keras
Jimly Asshiddiqie: Mekanisme Pilih Kapolri Tetap Seperti Sekarang
Granat Aktif Ditemukan di Perkebunan Banyuwangi, Polisi Lakukan Peledakan Terkendali
Kasus Grace Natalie Jadi Urusan Pribadi, PSI Tegas Tak Beri Bantuan Hukum

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:56 WIB

Siapkan Tenaga Kerja untuk Industri EV, Kemnaker Gandeng Dunia Usaha

Rabu, 6 Mei 2026 - 14:20 WIB

Rupiah Tertekan, BI Terapkan 7 Langkah Strategis, Batas Beli Dolar Turun Jadi 50 Ribu

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:48 WIB

Sakit Parah dan Harus Operasi, Nadiem Makarim Minta Pindah Penahanan

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:36 WIB

Saksi BAIS Bantah Ada Perintah Khusus: Terdakwa Bertindak Sendiri karena Sakit Hati

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:17 WIB

Sidang Kasus Andrie Yunus, Hakim Minta Ahli Kimia Jelaskan Kandungan Air Keras

Berita Terbaru