Pemerintah Indonesia Sepakat Beli 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Penuhi Setengah Kebutuhan Nasional

- Penulis

Jumat, 24 April 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Indonesia Sepakat Beli 150 Juta Barel Minyak dari Rusia. Foto: Ist.

Pemerintah Indonesia Sepakat Beli 150 Juta Barel Minyak dari Rusia. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengumumkan kesepakatan strategis untuk mengimpor minyak mentah dari Rusia dalam jumlah yang sangat besar. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, membeberkan bahwa total volume minyak yang akan dibeli mencapai 150 juta barel. Jumlah tersebut dinilai cukup signifikan karena setara dengan sekitar setengah dari total kebutuhan minyak nasional selama satu tahun penuh.

Yuliot menjelaskan bahwa impor minyak mentah dalam skala masif ini akan dilakukan secara bertahap hingga menjelang akhir tahun 2026. Saat ini, pemerintah masih mendalami dan mengkaji skema terbaik yang akan digunakan dalam transaksi tersebut, apakah nantinya akan dilakukan langsung melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Pertamina, atau melalui mekanisme Badan Layanan Umum (BLU).

“Impor minyak dari Rusia sudah disepakati total impor dari Rusia 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” ujar Yuliot Tanjung saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (24/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pemilihan skema tersebut, Yuliot mengungkapkan pertimbangan mendalam dari pemerintah. Menurutnya, jika pembelian dalam jumlah sangat besar ini dilakukan langsung oleh Pertamina, dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi. Oleh karena itu, muncul opsi pembentukan BLU khusus yang akan menangani transaksi dengan pihak Rusia.

BACA JUGA:  Wapres Ucapkan Selamat Natal, Berharap Cinta Kasih Untuk Semua

Skema BLU ini dianggap lebih memudahkan dari sisi pembiayaan karena dapat didanai langsung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga beban dan risiko tidak sepenuhnya ditanggung oleh korporasi semata. Hal ini menjadi salah satu poin krusial yang saat ini sedang dirumuskan bersama dengan berbagai pihak terkait.

Tidak hanya soal mekanisme pembayaran dan pengelolaan, jalur distribusi atau rute pengiriman juga menjadi pembahasan utama. Hal ini mengingat situasi geopolitik global yang sedang tidak menentu, khususnya konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran.

Pemerintah menekankan pentingnya memilih jalur yang paling aman sekaligus tetap mempertimbangkan aspek efisiensi biaya. Tujuannya agar biaya pengiriman tidak membengkak dan harga minyak yang diterima tetap kompetitif serta menguntungkan bagi negara.

“Saat ini dalam tahap pembahasan bagaimana cara mengimpornya, apakah langsung Perusahaan Negara atau BLU. Kita siapkan regulasinya. Termasuk pada saat impor jalur mana yang akan digunakan,” tambahnya.

BACA JUGA:  Dr. Suheri Harahap M.Si: Segitiga Emas Kunci Kemenangan

Kebijakan impor besar-besaran ini sebenarnya merupakan langkah lanjutan dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk menutup defisit energi nasional. Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pernah menyebutkan bahwa kebutuhan minyak mentah Indonesia mencapai 300 juta barel per tahun atau sekitar 1,6 juta barel per hari.

Sementara itu, kemampuan produksi dalam negeri baru mampu menghasilkan sekitar 600 ribu barel per hari. Hal ini menciptakan kesenjangan yang cukup lebar, sehingga membuat Indonesia harus mengimpor BBM sekitar 1 juta barel setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.

Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah bersifat terbuka dan mencari sumber pasokan dari mana saja, termasuk Rusia, Amerika Serikat, hingga Venezuela. Kuncinya adalah mencari minyak dengan harga yang paling kompetitif dan menguntungkan bagi keuangan negara.

Selain soal pasokan minyak, kesepakatan dengan Rusia juga mencakup rencana kerja sama lainnya. Bahlil menyebutkan bahwa pihak Rusia juga menyatakan kesiapannya untuk turut membangun sejumlah infrastruktur energi di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas cadangan dan memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral Ajakan Tarik Uang di Bank Himbara, OJK: Itu Hoaks, Dana Nasabah Aman
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Korupsi PT AKT, Samin Tan Terlibat
Bentrok Antarwarga di Luwu Lumpuhkan Trans Sulawesi, Rumah Dibakar dan Suasana Mencekam
Din Syamsuddin Desak Polisi Hentikan Kasus JK: Jangan Biarkan Memicu Konflik Agama
Sterilisasi Lapas: 263 Narapidana High Risk Resmi “Dibuang” ke Nusakambangan
Kasus Penikaman Ketua Golkar Maluku Tenggara Masuk Tahap Penyidikan, SPDP Dikirim ke Kejaksaan
Lepas Kloter JKB 01, Gus Irfan dan Sufmi Dasco Pimpin Pelepasan Jemaah Haji Embarkasi Banten
Terkuak di Persidangan, “Sultan Kemnaker” Bobby Mahendro Akui Miliki Tiga NIK Berbeda

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 14:33 WIB

Pemerintah Indonesia Sepakat Beli 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Penuhi Setengah Kebutuhan Nasional

Jumat, 24 April 2026 - 13:55 WIB

Viral Ajakan Tarik Uang di Bank Himbara, OJK: Itu Hoaks, Dana Nasabah Aman

Jumat, 24 April 2026 - 13:34 WIB

Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Korupsi PT AKT, Samin Tan Terlibat

Jumat, 24 April 2026 - 11:22 WIB

Bentrok Antarwarga di Luwu Lumpuhkan Trans Sulawesi, Rumah Dibakar dan Suasana Mencekam

Jumat, 24 April 2026 - 10:54 WIB

Din Syamsuddin Desak Polisi Hentikan Kasus JK: Jangan Biarkan Memicu Konflik Agama

Berita Terbaru