Dalam perjalanan ini, sejarah menorehkan bahwa Para Tokoh di Negara Republik Indonesia melakukan terobosan-terobosan baru agar Negara Kesatuan Repulik Indonesia semakin kokoh, berdaulat dan makmur. Maka, dilakukan Pemilu pertama pada tgl 25 September 1955 untuk memilih anggota DPR dan yang kedua pada tgl 15 Desember 1955 untuk memilih Dewan Konsituante. Saya tidak membahas tentang sejarah pemilu lebih detail tetapi saya ingin menyapaikan bahwa Pemilu itu adalah pesta demokrasi sekaligus pesta rakyat.
Pemilu singkatan dari Pemilihan Umum, yang dalam Undang-Undang artinya sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Golkar Pemenang
Hemat penulis, turunan dari Pemilihan Umun itu, bisa disebutkan Pesta Demokrasi. Pesta demokrasi dicanangkan oleh Presiden Kedua Republik Indonesia, Presiden Soeharto pada tahun 1981, menyatakan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi berkesempatan memilih orang-orang yang akan bekerja mewujudkan kesejahteraan bagi bangsa.
Melihat dari struktur kalimatnya, Rakyat; berartipemegang kedaulatan kekuasaan tertinggi dalam negara demokrasi, bagian dari suatu negara atau unsur penting dari suatu pemerintahan.
Rakyat terdiri dari beberapa orang yang mempunyai ideologi yang sama dan tinggal di daerah atau pemerintahan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama yaitu untuk membela negaranya bila diperlukan.
Layaknya pesta, hemat penulis, seharusnya adanya kegembiraan. Kegembiraan itu identik dengan terhidangnya makanan dan minuman bahkan adanya iringan musik.
BACA JUGA: Pilkada Medan Cetak Rekor Tertinggi Demokrasi Indonesia
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







Seyogyanya Pemilu memang harus menjadi pesta rakyat. Jangan seperti periode” dahulu. Di setiap kali akan pemilu, rakyat malah dirundung rasa takut akan terjadinya kerusuhan yang sengaja dibikin untuk menciptakan suasana chaos. Karena itu gunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ikuti proses pemilunya dengan baik, tidak saling hujat, menyebar fitnah ataupun menyebar kebencian. Lakukan dengan jujur jangan golput. Jangan ikuti orang yg mengatakan siapapun presidennya, tetap kita yg harus cari uang. Sebab narasi seperti itu adalah pola pikir yg tidak tepat. Benar siapapun presidennya tetap harus kita yg cari uang, akan tetapi kondisi perekonomian yang stabil membutuhkan perjuangan dan kemampuan mengelola negara yang baik, bukan oleh pemimpin yg hanya ingin berkuasa tapi tidak memiliki kemampuan dan keikhlasan.
Terima kasih atas tamhanan penalarannya Pak. Johannes. Yang jelas Pesta Demokrasi ini seogiaya harus happy. Happy dalam arti lebih luas.