Deliserdang-Mediadelegasi: Individu suku Batak Toba miiki ginjal lebih tangguh ketimbang warga lainnya. Hal itu dikarenakan kebiasaan banyak minum air bening dengan pola hidup pola hidup sehat dengan hidrasi yang baik. “Tetapi, jika bermasalah dengan ginjal, banyak pula semakin kronis bahkan ‘tidak tertolong’ sebab kebiasaan mengonsumsi ramu-ramuan tradisional yang justru merangsak bertambah rusak ginjal tersebut,” tegas Lenny Lusia Simatupang, SKepNs MKep.
Paparan tersebut disampaikannya dalam orasi ilmiah di wisuda Universitas Murni Teguh (UMT) di Jalan Kapten Batu Sihombing, Kenangan, Kec Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (13/5). Penelitian dilakukannya dengan mixed methods selama tiga bulan penuh pada penderita penyakit ginjal di Sumut. “Konsentrasinya di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan selama tiga bulan penuh. Tapi setiap tahu ada pasien atau individu menderita penyakit ginjal, saya datangi: observasi, interview hingga mengikuti pola hidup untuk pengobatan. Tiga bulan penuh,” jelasnya.
Orasi panjang diuraikannya dalam paper Pengalaman Pasien Suku Batak Toba dengan Gagal Ginjal Kronis dalam Menjalani Hemodialisa di hadapan ratusan wisudawan, orangtua serta para tokoh dan ahli lintas disiplin ilmu. Mulai Rektor Seriga Banjarnahor PhD, Ketua Yayasan Tapeumulia Bangsa Dr dr Mutiara, Wakil Rektor I dr Erwin Handoko MEd PhD, Wakil Rektor II Dr Calen SE MM, Ketua ABPPTSI Prof Bahdin Nur Tanjung, perwakilan LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara, Wakil Ketua APTISI Sumatera Utara Dr Wardayani SE MSi serta kalangan industriawan. “Penelitian saya bukan soal antisipasi dan pengobatan penyakit ginjal semata tapi bersamaan mengedukasi masyarakat untuk memahami bahwa ketangguhan ginjal akan ambruk jika dalam pengobatan, pasien mencampuradukkan obatan-obatan dengan ramuan (tradisional) yang jsutru merangsang bertambahnya kerusakan,” tegasnya. “Kebiasaan orang Batak Toba yang suka mengonsumsi garam dan gula berlebihan pun dapat memicu penyakit. Tetapi, kekuatan orang Batak Toba itu pada kehebatannya menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan alkohol. Ginjal yang sehat memastikan penyaringan racun berjalan lancar dan tekanan darah tetap stabil!”
Hasil penelitian itu mengemukakan bahwa, penyakit ginjal (sering kali dalam bentuk penyakit ginjal kronik- PGK) menjadi pembunuh utama di Indonesia. “Secara nasional kan penyakit ginjal membunuh di peringkat ke-10 sebagai penyebab kematian terbanyak dengan angka 42 ribuan kematian setiap tahunnya tapi di Sumut lebih tinggi dari rata-rata nasional,” urainya.
Di Sumut, menurut Lenny Lusia Simatupang, penyakit ginjalsebagai silent killer karena tidak bergejala pada tahap awal. “Bahkan, di sini, ginjal cenderung bermula dari diabetes melitus dan hipertensi. Perhatikan orang Batak Toba, suka mengonsumsi gula dan garam dan kadang gampang marah. Di bona pasogit juga begitu,” tambahnya sampil mengatakan penyebab utama adalah lebih dari 70 persen kasus gagal ginjal di Indonesia dipicu oleh gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. “Dampak komplikasi yang merusak ginjal membuat tubuh gagal menyeimbangkan cairan dan sisa metabolisme,” tegasnya.
Dalam penelitian itu ia menemukan ragam hal (komplikasi) fatal seperti ureum (penumpukan racun0 pembengkakan ekstrem di area kaki dan pergelangan, hingga penumpukan cairan di paru-paru yang memicu sesak napas akut. “Yang pasti, bila ada keluhan di pinggang yang megarah pada ginjal, konsultasi ke dokter dan ikut perobatan tanpa mencampur dengan ramu-ramuan,” tegasnya.
Pada Sidang Senat Terbuka dipimpin Seriga Banjarnahor itu dilepas 148 wisudawan terdiri dari 103 Sarjana Keperawatan, 44 Profesi Ners dan 1 Ahli Madya Kebidanan.
Seriga Banjarnahor wisudawan harus memiliki tanggung jawab profesional para lulusan di tengah masyarakat. “Kuliah merupakan proses panjang, mengubah cara berpikir seseorang. Melalui proses belajar, berdiskusi meneliti dan berorganisasilah maka pola pikir itu berubah,” sebutnya sambil mengatakan kebutuhan tenaga kesehatan yang kompeten dan berintegritas saat ini semakin tinggi, seiring dengan tantangan pelayanan kesehatan yang terus berkembang. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







