“Malam harinya kami penasaran kami lihat dan kami photo kelaminnya sudah seperti blong gitu, kami binggung , dan pagi hari nya saya suruh melati buang air kecil dikloset (WC) , saya tanya , ini apa namanya nak “tempe”, jawabnya, kenapa kok besar kali lobangnya nak, Iya kata deddy ada semutnya di dalam di ambil deddy semutnya besar kali kata deddy,” jelas DE menceritakan kembali.
Melihat kondisi Melati seperti itu, DE khawatir dan juga makin binggung lalu menceritakan sama teman L, dan disarankan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Melati.
“Saya di sarankan periksa, dan siangnya saya bawa ke PPA Medan melaporkan hal tersebut. Dan hari Seninnya tanggal 14 Februari 2022 kami buat laporkan ke Polrestabes Medan,” Imbuhnya.
Selain mengalami dugaan pelecehan seksual, Melati diyakini juga mengalami kekerasan spikis, yang berdampak kepada perubahan prilaku yang sering mengalami kegelisahan dan menangis bila tidak bersama ibu asuh dan keluarga perempuannya, khususnya ketika Melati ditemui Ayah asuhnya, Melati lari dan tubuhnya melemah.
“Setiap kali Melati melihat deddy nya langsung lari seperti ketakutan. Dan mendengar suaranya di panggil bor, bor cansu langsung trus badannya panas” sebut DE.
Hal itu diketahui DE sudah terjadi sekitar 4 kali ketika Pelaku datang ke rumahnya di Kecamatan Polonia.
“Pertama tanggal 9 februari 2022 ditanyakan di depan kepling lingkungan si cansu memang tidak mau ikut sama deddy nya (kakek), yang seharus nya tepat di sebut anak beusia 4 tahun tersebut. terus kelang 1 minggu lagi datang lagi. Kelang 1 minggunya lagi datang juga tetap si anak tidak mau. Dan pernah malam datang sekira tanggal 7 maret 2022 pukul 19.38 Wib.” terang DE.
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Medan, Kompol Dr Muhammad Firdaus SIK MH ketika dikonfirmasi prihal perkara diatas belum memberikan keterangan resmi. Namun, dalam tanggapannya pihaknya akan segera menindaklanjuti pengaduan tersebut.
“Tks, segera ditindaklanjuti” jawabnya. (D|Med-55)